Cekricek.id — Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi berziarah ke Kuil Yasukuni di Tokyo pada Sabtu (15/8/2026), bertepatan dengan peringatan 81 tahun menyerahnya Jepang dalam Perang Dunia II. Langkah itu segera memicu protes resmi dari China dan pernyataan penyesalan dari Korea Selatan.
Mengutip laporan Al Jazeera yang bersumber dari AFP dan Reuters, Sabtu (15/8/2026), Koizumi menjadi menteri pertahanan Jepang pertama yang mendatangi kuil tersebut sejak Minoru Kihara pada 2024. Kuil Yasukuni memuliakan sekitar 2,5 juta korban perang Jepang, termasuk 14 tokoh yang divonis sebagai penjahat perang Kelas A oleh pengadilan Sekutu seusai perang.
Seusai berdoa, Koizumi menyampaikan pernyataan singkat kepada wartawan. “I renewed my war-renouncing resolve and will continue to fulfill Japan’s postwar responsibility as a peace-loving nation,” kata Koizumi, dikutip Associated Press, Sabtu (15/8/2026). Kalimat berbahasa Inggris itu berarti ia memperbarui tekad menolak perang dan akan terus memenuhi tanggung jawab Jepang pascaperang sebagai bangsa yang cinta damai.
Takaichi Memilih Kirim Persembahan
Perdana Menteri Sanae Takaichi tidak hadir langsung di Yasukuni dan hanya mengirim persembahan ritual. Ia memimpin upacara peringatan kenegaraan di Nippon Budokan, Tokyo, yang dihadiri Kaisar Naruhito. Perdana menteri Jepang terakhir yang berziarah ke Yasukuni saat menjabat adalah Shinzo Abe pada Desember 2013.
Dalam pidatonya, Takaichi menekankan sumbangan Jepang bagi perdamaian dunia sejak perang berakhir. “Japan, since the end of the war, has consistently contributed to global peace and prosperity. We will never let the tragedy of the war be repeated,” ujarnya, dikutip Associated Press, Sabtu (15/8/2026).
Baca juga: Korea Utara Luncurkan Rudal Balistik Jelang Latihan Gabungan Korea Selatan-AS
Kaisar Naruhito menyampaikan pesan yang lebih eksplisit soal masa lalu. Dalam sambutan berbahasa Jepang yang diterjemahkan AP, ia menyatakan harapan agar kehancuran akibat perang tidak pernah terulang, seraya merenungkan masa lalu dan menyimpan perasaan penyesalan yang mendalam.
Selain Koizumi, tiga menteri kabinet lain ikut berziarah pada hari yang sama. Mengutip South China Morning Post, Sabtu (15/8/2026), mereka adalah Menteri Kebijakan Ekonomi dan Fiskal Minoru Kiuchi, Menteri Keamanan Ekonomi Kimi Onoda, serta Menteri Negara Urusan Okinawa dan Wilayah Utara Hitoshi Kikawada. Tiga petinggi Partai Demokrat Liberal dan puluhan anggota parlemen lintas fraksi juga hadir.
Upacara di Nippon Budokan diikuti para keluarga korban perang dari seluruh Jepang. Peringatan itu digelar setiap 15 Agustus, tanggal ketika Kaisar Hirohito mengumumkan menyerahnya Jepang melalui siaran radio pada 1945. Sekitar tiga juta warga Jepang tewas dalam perang tersebut, sementara jutaan orang lain di Asia menjadi korban pendudukan militer Jepang.
Baca juga: Korea Selatan dan AS Gelar Ulchi Freedom Shield, 18.000 Tentara Dikerahkan
Beijing Layangkan Protes Keras
Kementerian Luar Negeri China menyatakan mengecam keras persembahan Takaichi maupun ziarah para menteri, dan menegaskan telah melayangkan protes keras kepada pihak Jepang. Beijing menuding langkah itu bertujuan mengubah putusan atas para penjahat perang, menutupi kejahatan perang Jepang, memutarbalikkan fakta sejarah, dan membuka jalan bagi percepatan militerisasi.
Kementerian Luar Negeri China juga mendesak Tokyo melakukan perenungan serius atas sejarah agresinya dan memutus hubungan sepenuhnya dengan militerisme. Kementerian Pertahanan China mengeluarkan pernyataan senada, menyebut ziarah para politikus Jepang sebagai tantangan terhadap tatanan internasional pascaperang.
Seoul Sebut Tindakan Itu Anakronistik
Kementerian Luar Negeri Korea Selatan menyatakan penyesalan mendalam dan menyebut ziarah tersebut sebagai tindakan anakronistik yang mengabaikan sejarah. Seoul mendesak para pemimpin Jepang menunjukkan perenungan yang rendah hati dan penyesalan yang tulus atas masa lalu.
Meski begitu, Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung tetap menekankan pentingnya menjaga hubungan kerja dengan Tokyo. Ia menegaskan pendekatan diplomasi pragmatis dan menyatakan kerja sama Korea Selatan dengan Jepang saat ini lebih penting daripada sebelumnya, sebagaimana dikutip Associated Press, Sabtu (15/8/2026).
Ketegangan seputar Yasukuni berulang hampir setiap 15 Agustus. Bagi China dan Korea Selatan, dua negara yang paling lama berada di bawah pendudukan dan penjajahan Jepang, kuil itu dipandang sebagai simbol militerisme masa lalu. Bagi sebagian politikus Jepang, ziarah dibingkai sebagai penghormatan kepada korban perang.
Kuil Yasukuni sendiri didirikan pada 1869 dan berada di bawah kendali militer sebelum perang berakhir. Empat belas penjahat perang Kelas A, termasuk mantan Perdana Menteri Hideki Tojo, dimasukkan secara diam-diam ke dalam daftar arwah yang dimuliakan pada 1978, dan sejak itu setiap kunjungan pejabat tinggi Jepang memicu reaksi diplomatik dari negara tetangga.
Baca juga: Inggris Larang Barbeku Sekali Pakai dan Kerahkan Militer
Al Jazeera mencatat kunjungan Koizumi kali ini menandai kembalinya pejabat setingkat menteri pertahanan ke kuil tersebut setelah dua tahun absen. Pemerintah Jepang belum menyampaikan tanggapan resmi atas protes yang dilayangkan Beijing dan Seoul.


















