Cekricek.id — Kebakaran yang melanda kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) pada Agustus 2026 meninggalkan pekerjaan rumah yang tidak berhenti saat api padam. Guru Besar Ekologi Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung (SITH ITB), Endah Sulistyawati, mengingatkan pemulihan kawasan justru menuntut kesabaran dan perlu dimulai dari pembacaan kondisi ekosistem, bukan dari penanaman besar-besaran.
Dikutip dari laman resmi Institut Teknologi Bandung, itb.ac.id, Minggu (16/8/2026), Endah menjelaskan kebakaran lahan pada dasarnya membutuhkan tiga unsur yang hadir bersamaan. Ketiganya adalah bahan bakar, oksigen, dan sumber api yang memicu pembakaran.
Savana yang Terbuka dan Mudah Terbakar
“Bahan bakar di alam itu adalah biomassa yang bisa berupa daun, bunga, buah, atau kayu,” kata Endah Sulistyawati.
Baca juga: ITB Terima 8.945 Mahasiswa Baru dari 38 Provinsi dan Puluhan Negara
Menurut dia, padang savana memiliki karakter khas yang membuatnya rentan. Biomassa di ekosistem tersebut memang tergolong sedikit dibanding hutan berkanopi rapat, tetapi kondisinya sangat terbuka sehingga aliran udara dan paparan panas berlangsung tanpa penghalang berarti.
Secara ekologi, kata Endah, api sebenarnya diposisikan sebagai salah satu bentuk gangguan terhadap ekosistem. Persoalannya terletak pada ketimpangan kemampuan bertahan antarmakhluk hidup yang berada di dalamnya ketika gangguan itu datang.
“Yang membuat ini berbahaya adalah satwa besar mungkin bisa lari menghindar, tapi tumbuhan tidak bisa,” ujar Endah Sulistyawati.
Peringatan soal Penanaman Massal
Endah justru mengingatkan agar penanganan pascakebakaran tidak langsung diarahkan pada restorasi aktif berskala besar. Dorongan untuk segera menanam pohon sebanyak-banyaknya setelah kebakaran, menurut dia, kerap muncul tanpa didahului kajian mengenai apa yang sebenarnya dibutuhkan lahan tersebut.
“Jangan terburu-buru melakukan penanaman massal,” tegas Endah Sulistyawati.
Baca juga: Populasi Gajah Sumatra Tinggal 900-an Ekor, Pakar IPB: Konservasi Tanggung Jawab Multipihak
Alasannya bersandar pada mekanisme alami yang dimiliki ekosistem. “Setiap ekosistem yang terganggu akan memiliki kemampuan memulihkan diri, itu namanya proses suksesi,” tutur Endah Sulistyawati.
Dengan kata lain, sebagian kawasan berpeluang pulih sendiri bila diberi waktu dan tekanan tambahan dijauhkan. Penanaman yang dilakukan tergesa-gesa berisiko justru mengganggu suksesi alami, terlebih bila jenis tanaman yang dimasukkan tidak sesuai dengan karakter savana pegunungan.
Pemetaan Satelit hingga Pengawasan Pengunjung
Sebagai langkah lanjutan, Endah merekomendasikan pemetaan berbasis satelit untuk mengetahui sebaran dan tingkat keparahan area terbakar secara akurat. Data tersebut menjadi dasar untuk menentukan bagian mana yang cukup dibiarkan pulih sendiri dan bagian mana yang benar-benar memerlukan campur tangan.
Ia juga menyoroti pentingnya pemantauan sistem hidrologi kawasan, mengingat perubahan tutupan lahan berdampak pada tata air di wilayah tersebut. Selain itu, upaya pencegahan kebakaran perlu diperkuat melalui pengawasan terhadap aktivitas pengunjung yang datang ke kawasan taman nasional.
Rangkaian rekomendasi tersebut menempatkan pencegahan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari pemulihan. Kawasan yang baru terbakar berada dalam kondisi paling rentan, sehingga satu peristiwa kebakaran susulan dapat menghapus kemajuan pemulihan yang sudah berjalan selama berbulan-bulan.
Baca juga: Sungai-Sungai Besar Eropa Susut ke Rekor Terendah Akibat Kekeringan
Pendekatan berbasis data itu sekaligus menjadi pengingat bahwa penanganan bencana ekologis tidak selalu identik dengan aksi yang terlihat besar. Membiarkan sebagian lahan pulih secara alami, sembari menjaga agar tekanan baru tidak muncul, dalam banyak kasus justru menjadi pilihan yang paling masuk akal secara ekologi.















