Populasi Gajah Sumatra Tinggal 900-an Ekor, Pakar IPB: Konservasi Tanggung Jawab Multipihak

A A

Gajah sumatra di Taman Nasional Tesso Nilo, salah satu dari 22 kantong habitat yang tersisa bagi spesies ini. [Foto: BTN Tesso Nilo/IPB University]

Cekricek.id— Populasi gajah sumatra (Elephas maximus sumatranus) diperkirakan hanya tersisa sekitar 900 hingga 1.350 ekor, anjlok dari perkiraan 2.400 hingga 2.800 ekor pada 2007. Sorotan itu disampaikan pakar konservasi IPB University, Prof. Burhanuddin, bertepatan dengan peringatan Hari Gajah Sedunia, Rabu (12/8/2026), tak lama setelah seekor gajah sumatra ditemukan mati diduga keracunan di kawasan perkebunan Aceh Tamiang.

“Populasi gajah sumatra saat ini diperkirakan hanya tersisa sekitar 900–1.350 individu, turun dari perkiraan 2.400–2.800 individu pada 2007. Wilayah sebarannya pun diperkirakan hanya tersisa sekitar 22 kantong habitat yang terisolasi di Aceh, Riau, Jambi, Bengkulu, dan Lampung,” kata Burhanuddin, dikutip dari laman resmi IPB University, Rabu (12/8/2026).

Menurut Burhanuddin, laju penurunan itu tergolong tajam jika dilihat dalam rentang tiga generasi gajah. “Laju penurunan populasi gajah sumatra dalam tiga generasi ini diperkirakan lebih dari 70 persen. Wilayah sebarannya pun semakin terbatas,” ujarnya.

Habitat Terpecah, Gajah Berbenturan dengan Manusia

Burhanuddin menjelaskan bahwa perilaku gajah sumatra sangat bergantung pada wilayah jelajah yang tetap dan reguler. Ketika ruang itu berubah fungsi, konflik dengan manusia sulit dihindari.

“Gajah memiliki pola pergerakan yang tetap dan reguler di dalam wilayah jelajahnya. Ketika habitat dan wilayah jelajah tersebut berubah menjadi perkebunan, permukiman, pertambangan, atau jalan raya, pergerakan gajah akhirnya berbenturan dengan aktivitas manusia dan memicu konflik,” tuturnya.

Setidaknya 55 ekor gajah sumatra tercatat mati akibat konflik dan perburuan dalam satu dekade terakhir, sementara populasi yang tersisa terisolasi di 22 kantong habitat yang tersebar di lima provinsi. Kasus terbaru terjadi di Desa Kaloy, Aceh Tamiang, saat seekor gajah jantan ditemukan mati dengan gading masih utuh dan tanpa luka di tubuhnya—temuan awal Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh mengarah pada dugaan keracunan.

Baca juga: Gajah Sumatera Ditemukan Mati di Aceh Tamiang, Nekropsi Awal Mengarah ke Keracunan

Konservasi Dinilai Perlu Melibatkan Banyak Pihak

Burhanuddin menegaskan bahwa penyelamatan gajah sumatra tidak bisa dibebankan hanya kepada lembaga konservasi. “Konservasi gajah merupakan tanggung jawab multipihak karena persoalan yang dihadapi berkaitan dengan fungsi ruang dan ekosistem yang bersifat multidimensi,” katanya.

Ia mendorong perlindungan habitat, penguatan masyarakat sekitar kawasan konflik, mitigasi konflik gajah-manusia, dan penegakan hukum berjalan secara bersamaan. “Konservasi gajah tidak dapat hanya mengandalkan perlindungan satwanya. Perlindungan habitat, penguatan masyarakat, mitigasi konflik, dan penegakan hukum harus berjalan secara terpadu agar keberadaan gajah sumatra dapat terus dipertahankan,” ujarnya.

Upaya konservasi satwa liar lain di Indonesia dan sekitarnya juga tengah berlangsung lewat pendekatan yang berbeda-beda, mulai dari mitigasi konflik satwa dengan manusia hingga vaksinasi untuk mencegah penyebaran penyakit di alam liar.

Baca juga: Kehadiran Puma Turunkan Risiko Tabrakan Rusa-Kendaraan hingga 67 Persen di Semenanjung Olympic

Baca juga: Australia Vaksinasi Burung Asli di Penangkaran demi Bendung Flu Burung H5N1

Bagikan

Baca Juga

Pengetahuan dan Praktik Higiene Menstruasi Siswi Sri Lanka
Kekayaan Luruh, Desa dan Kota Tetap Beda soal Pencernaan
Kesenjangan SES Perlebar Risiko Disabilitas Lansia Kota
Sekolah Filipina Tutup 29 Bulan, Murid Lupa Wajah Teman Sekelas
Tongkonan Toraja sebagai Kurikulum Hidup Tanpa Suara Warga
Siswa Laki-laki Merokok 34 Persen, Perempuan Hanya 1,5 Persen