Cekricek.id — Tiga puluh empat pasien lupus di Poliklinik Ilmu Penyakit Dalam RSUP Dr. Mohammad Hoesin, Palembang, menelan dua tablet setiap hari selama delapan minggu tanpa tahu isinya. Tujuh belas orang mendapat vitamin C, tujuh belas orang lainnya mendapat tablet kosong yang bentuk dan kemasannya dibuat persis sama. Baik peserta maupun peneliti tidak tahu siapa mendapat apa sampai penelitian selesai.
Uji itu dilaporkan Yuniza, Nova Kurniati, Eddy M. Salim, dan Kristian S. Hartanto dari Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya – Rumah Sakit Muhammad Hoesin Palembang bersama Theodorus dari Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, lewat artikel Efektivitas Penambahan Suplementasi Vitamin C Terhadap Penurunan Malondialdehid dan Perbaikan Derajat Aktivitas Penyakit Lupus Eritematosus Sistemik: Uji Klinis Acak Tersamar Ganda, yang terbit dalam Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol. 13 No. 2 pada 2026.
Penelitian itu berjenis uji klinis acak tersamar ganda berdesain tambahan atau add-on, dilakukan hanya di satu rumah sakit, dan berlangsung pada periode November 2024 sampai Maret 2025. Penulisnya sendiri menyebutnya studi pendahuluan. Uji ini terdaftar di ClinicalTrials.gov dengan nomor NCT07083622 dan memperoleh persetujuan etik dari Komite Tetap Etik Penelitian Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya dan RSMH Palembang bernomor DP.04.03/D.XVIII.06.08/ETIK/239/2024.
Baca juga: Bos NASA Yakin Artemis 3 Meluncur 2027, Uji Dua Pendarat Bulan di Orbit
Karat yang Bekerja di Dalam Tubuh
Lupus eritematosus sistemik, disingkat LES, adalah penyakit autoimun yang menyerang banyak sistem organ sekaligus dengan gejala yang berbeda-beda antarpasien. Tubuh memproduksi bermacam autoantibodi yang menyerang jaringannya sendiri. Target utama pengobatannya adalah remisi, yaitu keadaan penyakit tidak aktif — dan target itu sulit dicapai. Naskahnya mengutip data dari Inggris yang mencatat remisi lengkap bertahan tiga tahun hanya dicapai 14,5 persen pasien, serta data Amerika Serikat yang mencatat hanya 1,2 persen pasien masih dalam remisi lengkap setelah lima tahun.
Salah satu jalur yang diduga ikut berperan dalam perjalanan penyakit ini adalah stres oksidatif, yakni ketidakseimbangan antara produksi dan penetralan molekul reaktif yang sangat tidak stabil di dalam sel. Molekul-molekul itu terlibat dalam sinyal kematian sel. Pada pasien lupus, penulisnya menjelaskan, peningkatan stres oksidatif diduga berasal dari reaksi antara autoantigen dan autoantibodi serta dari gangguan fungsi mitokondria pada sel T.
Untuk mengukurnya, penelitian ini memakai malondialdehida atau MDA, produk sampingan proses perusakan lemak oleh molekul reaktif. Kadar MDA dipakai luas sebagai penanda tidak langsung seberapa jauh proses semacam karat itu berlangsung di dalam tubuh. Penelitian observasional terdahulu, tulis penulisnya, menemukan kadar MDA yang lebih tinggi pada pasien lupus dibanding orang tanpa lupus.
Bukti tentang vitamin C sendiri masih bercampur. Naskahnya menyebut sebuah studi prospektif empat tahun di Jepang oleh Minami dan rekannya yang mendapati asupan vitamin C berkaitan dengan turunnya risiko peningkatan aktivitas penyakit, serta sebuah uji terkontrol plasebo tersamar ganda yang melaporkan bahwa pemberian vitamin C bersama vitamin E menurunkan kadar peroksidase lipid. Justru karena data yang ada masih sedikit dan saling bertentangan itulah uji di Palembang dijalankan.
Tiga Puluh Empat Orang di Satu Poliklinik
Peserta yang dicari adalah pasien rawat jalan berusia di atas 18 tahun dengan lupus derajat ringan sampai sedang, didiagnosis memakai kriteria European Alliance of Association for Rheumatology dan American College of Rheumatology tahun 2019, lalu dinilai dengan skor MEX-SLEDAI — instrumen versi Meksiko untuk mengukur derajat aktivitas penyakit lupus. Perempuan hamil dan menyusui dikeluarkan, begitu pula orang yang mengonsumsi vitamin C dalam tiga hari terakhir, pasien dengan gangguan imunitas lain, pasien dengan penyakit penyerta, pasien lupus derajat berat atau yang sudah remisi, penderita hemokromatosis, dan orang dengan riwayat batu ginjal.
Perhitungan besar sampel memakai rumus Pocock dan menghasilkan angka minimal 17 orang per kelompok, lalu ditambah 10 persen untuk mengantisipasi peserta yang mundur sehingga sasarannya 19 orang per kelompok. Pada praktiknya, 38 pasien memenuhi kriteria dan empat di antaranya keluar dari penelitian: dua mengalami eksaserbasi penyakit, satu dirawat inap, dan satu hilang tindak lanjut. Yang dianalisis akhirnya 34 orang, terbagi rata 17 berbanding 17.
Pengacakan dikerjakan seorang apoteker penelitian yang independen memakai teknik blok permutasi berbantuan komputer, dan alokasinya disembunyikan dalam amplop buram bernomor urut yang disegel. Semua peserta tetap menerima terapi medis standar lupus, termasuk glukokortikoid, agen imunosupresif sesuai indikasi klinis, dan hidroksiklorokuin bila sesuai. Kelompok intervensi menerima tambahan vitamin C oral dua kali 500 miligram sehari selama delapan minggu; kelompok pembanding menerima tablet plasebo dengan bentuk, frekuensi, dan durasi yang identik. Dosis itu adalah regimen yang diuji dalam penelitian, bukan takaran yang dianjurkan untuk siapa pun.
Kadar MDA serum diperiksa dengan metode kromatografi cair kinerja tinggi memakai sampel serum pagi dalam keadaan puasa untuk menekan variasi harian. Efek samping dicatat lewat wawancara langsung, pemeriksaan klinis, dan buku harian pasien. Analisis memakai perangkat lunak SPSS versi 26 dengan batas kemaknaan p kurang dari 0,05.
Peserta yang terkumpul hampir seluruhnya perempuan, yaitu 32 dari 34 orang atau 94,1 persen. Usia rata-rata 33,56 tahun dengan simpang baku 11,03 tahun. Sebanyak 73,5 persen sudah didiagnosis lupus kurang dari lima tahun, 70,6 persen tidak menderita hipertensi, 64,7 persen tidak obesitas, dan tidak seorang pun mengidap diabetes melitus. Kadar MDA awal rata-rata 1,38 mikromol per liter dengan simpang baku 0,31, sedangkan skor MEX-SLEDAI awal bermedian 3 dengan rentang 2 sampai 7. Karakteristik dasar kedua kelompok dinyatakan homogen sebelum intervensi, dengan seluruh nilai p di atas 0,05.
Baca juga: Riset Flinders: Genomik Petakan Ikan Terancam Paling Rentan Perubahan Iklim
Angka yang Bergerak Turun Setelah Delapan Minggu
Pada kelompok yang menerima vitamin C, kadar MDA serum turun dari 1,38 mikromol per liter dengan simpang baku 0,38 menjadi 1,09 mikromol per liter dengan simpang baku 0,26, dengan nilai p 0,003. Skor MEX-SLEDAI kelompok itu turun dari median 2, rentang 2 sampai 5, menjadi median 1, rentang 0 sampai 2, dengan nilai p 0,001.
Pada kelompok plasebo, kadar MDA nyaris tidak bergerak: dari 1,37 mikromol per liter dengan simpang baku 0,25 menjadi 1,32 mikromol per liter dengan simpang baku 0,38, dengan nilai p 0,518 yang berarti perubahan itu tidak bermakna secara statistik. Namun skor aktivitas penyakitnya tetap membaik, dari median 3 dengan rentang 2 sampai 7 menjadi median 2 dengan rentang 0 sampai 6, dengan nilai p 0,016. Perbaikan pada kelompok yang hanya menerima tablet kosong itu penting dicatat, karena semua peserta tetap menjalani terapi standar lupus selama uji berlangsung.
Perbandingan antarkelompok pada akhir intervensi menunjukkan selisih yang bermakna, baik untuk kadar MDA dengan nilai p 0,047 maupun untuk skor MEX-SLEDAI dengan nilai p 0,048. Penulisnya juga mencatat bahwa seluruh peserta di kelompok vitamin C berakhir dengan skor MEX-SLEDAI 2 atau kurang, sementara di kelompok plasebo masih ada peserta dengan skor 6.
Mekanisme di balik angka-angka itu tidak diperiksa langsung. “Walaupun mekanisme tidak dieksplorasi secara langsung dalam penelitian ini, manfaat klinis yang diamati diduga berkaitan dengan sifat antiinflamasi dan imunomodulator vitamin C,” tulis Yuniza dan rekan-rekannya dalam artikel itu. Mereka menambahkan bahwa vitamin C diketahui berperan meningkatkan fungsi sel T regulator, yang dapat membantu mengendalikan respons imun berlebih pada pasien lupus — keterangan yang mereka sandarkan pada kepustakaan, bukan pada pengukuran dalam uji ini.
Mual pada Tiga dari Empat Peserta
Luaran sekunder penelitian ini adalah kejadian efek samping selama masa intervensi, dan hasilnya tidak sepenuhnya mulus. Efek samping ringan tercatat pada 76,5 persen peserta kelompok vitamin C, lebih tinggi daripada 52,9 persen di kelompok plasebo.
Rinciannya: mual dialami 10 orang atau 58,8 persen di kelompok vitamin C berbanding 6 orang atau 35,2 persen di kelompok plasebo; nyeri ulu hati dialami 2 orang berbanding 1 orang; perut kembung dan nafsu makan meningkat masing-masing dialami satu orang di kelompok plasebo; badan menggigil dialami satu orang di kelompok vitamin C. Penulisnya menilai frekuensi kejadian efek samping rendah dan sebagian besar bersifat ringan, tanpa komplikasi serius yang dilaporkan. Perlu dicatat pula bahwa dua peserta yang mengalami eksaserbasi penyakit dan dianggap mundur dari penelitian berasal dari kelompok vitamin C.
Batas Sebuah Studi Pendahuluan Berpeserta 34 Orang
Penulisnya tidak menyembunyikan bahwa temuan ini masih jauh dari kata final. “Keterbatasan penelitian ini antara lain tidak dilakukannya pemeriksaan biomarker stres oksidatif lain, periode intervensi yang relatif singkat, tidak dilakukannya evaluasi asupan vitamin C dari diet, serta tidak adanya kelompok kontrol sehat,” tulis mereka. Empat hal itu berarti kadar MDA menjadi satu-satunya jendela untuk melihat stres oksidatif, delapan minggu belum tentu cukup untuk menilai perjalanan penyakit kronis, dan sayuran atau buah yang dimakan peserta di luar tablet penelitian tidak terhitung sama sekali.
Di luar yang mereka sebutkan, ukuran dan tempatnya sendiri membatasi. Tiga puluh empat orang di satu poliklinik di Palembang bukan cermin bagi seluruh pasien lupus, dan sifat pendahuluan uji ini membuat hasilnya belum bisa diperlakukan sebagai bukti yang mapan. Penulisnya menyatakan hasil penelitian ini dapat diterapkan dengan hati-hati pada pasien lupus dewasa dengan aktivitas penyakit ringan sampai sedang — sebuah rumusan yang sengaja sempit.
Baca juga: Sisi Batu yang Tak Pernah Dibaca Akhirnya Terbuka Lewat Fotogrametri
“Oleh karena itu, diperlukan uji klinis berskala lebih besar untuk mengevaluasi lebih lanjut peran antioksidan dan potensi perbaikan derajat aktivitas penyakit dari suplementasi vitamin C pada pasien LES,” tulis Yuniza dan rekan-rekannya. Pada bagian simpulan, mereka juga menganjurkan penelitian lanjutan untuk menelusuri berbagai variasi dosis guna menentukan takaran yang optimal — pengakuan bahwa dosis yang diuji di Palembang belum tentu dosis terbaik.
Laporan ini memuat temuan sebuah uji klinis, bukan panduan pengobatan. Keputusan mengenai terapi lupus, termasuk soal suplemen tambahan apa pun, berada di ranah dokter yang merawat pasien bersangkutan.
















