Kalimatnya Utuh, Maknanya Bergeser: Riset Bahasa dan Skizofrenia

Ilustrasi lorong berubin yang temaram.

Ilustrasi lorong berubin yang temaram. [Foto: Pexels]

Cekricek.id — Seorang pewawancara datang ke sebuah rumah di Banten dan mengucapkan salam. Perempuan yang ditemuinya menjawab salam itu dengan benar. Ketika pewawancara bercerita sudah beberapa kali mencarinya tanpa pernah bertemu, jawabannya keluar rapi menurut kaidah tata bahasa Indonesia: “Oh, aku ke Amerika, Amerika Selatan.” Subjek ada, predikat ada, keterangan ada. Yang tidak ada adalah perjalanan itu sendiri.

Kalimat pendek tersebut menjadi salah satu data utama dalam artikel Struktur-Luar (Surface Structure) dan Struktur-Dalam (Deep Structure) pada Bahasa Verbal Penderita Skizofrenia, karya Leni Syafyahya, Rizky Amelya Furqan, dan Reno Novita Sari dari Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas, yang terbit dalam jurnal Puitika Vol. 22 No. 1 pada 2026. Penelitian itu didanai Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas melalui skema Tim Penelitian Dasar Keilmuan khusus dosen.

Yang mereka kerjakan bukan penilaian klinis, melainkan pembongkaran tata bahasa. Pertanyaannya: kalau kalimat yang diucapkan orang dengan skizofrenia terasa sulit dipahami, di lapisan mana sebenarnya letak persoalannya — pada susunan kalimatnya, atau pada makna yang seharusnya ditopang susunan itu?

Baca juga: Bos NASA Yakin Artemis 3 Meluncur 2027, Uji Dua Pendarat Bulan di Orbit

Dua Lapis dalam Satu Kalimat

Untuk menjawabnya, ketiga peneliti memakai kerangka linguistik generatif-transformasional Noam Chomsky yang sudah berumur enam dekade. Dalam kerangka itu, setiap kalimat punya dua lapis. Struktur-dalam adalah makna dasar yang hendak disampaikan, semacam rancangan yang belum diucapkan. Struktur-luar adalah bentuk yang akhirnya keluar dari mulut atau tertulis di kertas. Di antara keduanya bekerja seperangkat aturan sintaksis yang mengubah, menambah, menghilangkan, dan memindahkan unsur.

Dalam bahasa sehari-hari, kedua lapis itu biasanya cocok. Kita memikirkan sesuatu, lalu mengucapkannya, dan pendengar bisa menelusuri balik apa yang kita maksud dari apa yang kita ucapkan. Yang menarik pada data penelitian ini adalah ketika penelusuran balik itu tersendat — padahal kalimatnya sendiri tidak melanggar aturan.

Cara kerjanya mengikuti prosedur baku penelitian bahasa. Tuturan dikumpulkan dengan metode simak — peneliti menyadap rekaman dan menyimak tanpa ikut serta dalam percakapan — lalu ditranskripsikan verbatim, disunting, dikodekan, dan ditafsirkan. Analisisnya menyasar tiga hal sekaligus pada setiap ujaran: fungsi sintaktis seperti subjek, predikat, objek, pelengkap, dan keterangan; kategori kata seperti nomina, verba, adjektiva, dan adverbia; serta peran semantis seperti pelaku, tindakan, keadaan, dan tempat.

Syafyahya dan rekan-rekannya menguraikan ujaran tentang Amerika Selatan itu unsur demi unsur. Kata aku berfungsi sebagai subjek berkategori nomina dan berperan sebagai pelaku. Bentuk ke ditambah Amerika berfungsi sebagai predikat berupa verba berpreposisi yang menyatakan perpindahan tempat. Amerika Selatan berfungsi sebagai keterangan tempat. Setelah proses transformasi ditelusuri, struktur-dalamnya dapat direkonstruksi menjadi “Oh, aku pergi ke Amerika Selatan.” Rapi — secara gramatikal.

Susunan yang Bertahan, Rujukan yang Berpindah

Data lain memperlihatkan pola serupa dengan variasi yang lebih rumit. Dalam sebuah percakapan yang direkam, perempuan yang dalam artikel itu disebut Bu Aida menjawab pertanyaan soal warung makan dengan rangkaian: “Masalahnya, berapa duitnya? Karna gue sombong, gue sombong.” Para peneliti memecahnya menjadi tiga kalimat tunggal dengan pola berbeda — keterangan-predikat-subjek, lalu konjungsi-subjek-predikat, lalu subjek-predikat. Konjungsi karna bahkan menandai hubungan sebab-akibat sebagaimana mestinya. Yang muncul sebagai gejala, menurut analisis itu, adalah pengulangan dan ketidakkoherenan makna — bukan kekacauan susunan.

Ujaran berikutnya, “Ya paling ga, ininya udah ini belum? Sinta parosa, bikin gitu jadinya keren”, dipilah menjadi dua kalimat tunggal dengan pola keterangan-subjek-predikat dan subjek-predikat-keterangan. Kedua klausa itu, tulis para peneliti, memperlihatkan kemampuan membentuk relasi sintaktis antarunsur meskipun kohesi semantisnya lemah. Kata ininya menduduki posisi subjek dengan benar, tetapi apa yang dirujuknya tidak dapat dilacak pendengar.

Ketika pewawancara menyinggung keinginan pergi ke Amerika, jawabannya adalah “Amerikanya di depan sono” dan, tak lama kemudian, “Engga, ini udah di Amerika ini.” Keduanya dianalisis sebagai kalimat tunggal dengan bentuk sintaktis yang utuh. Menurut artikel itu, hal tersebut menandakan tata bahasa inti tetap berfungsi normal pada sebagian ujaran.

Di situlah kesimpulan pokoknya mulai terbentuk. “Temuan ini memperkuat pandangan bahwa gangguan berbahasa pada penderita skizofrenia lebih banyak terjadi pada tingkat semantik dan pragmatik, bukan pada struktur sintaksis inti,” tulis Syafyahya dan rekan-rekannya, merujuk pada penelitian Brown dan Kuperberg (2015) serta Ciampelli dan rekan (2023). Dengan istilah lebih sederhana: rangkanya berdiri, isinya yang berpindah tempat.

Baca juga: Riset Flinders: Genomik Petakan Ikan Terancam Paling Rentan Perubahan Iklim

Ketika Unsur Dihilangkan dan Dipindah

Penelitian ini juga memilah jenis-jenis transformasi yang muncul. Ada transformasi kalimat tunggal, yang mencakup perubahan struktur, penambahan, penghilangan, dan penggantian unsur tanpa keluar dari satu pola dasar. Ada pula transformasi kalimat ganda, yang terbentuk dari dua kalimat dasar atau lebih melalui penggabungan maupun penyisipan.

Contoh yang dibedah untuk jenis pertama adalah ujaran “Sahur..sahur, sudah tiba Ramadon, sudah tiba Ramadon, nah!” Di sini terjadi penghilangan sejumlah verba dan nomina sekaligus perpindahan interjeksi ke awal kalimat, sehingga bentuk luarnya dapat dibaca ulang menjadi “Nah! Ramadon sudah tiba sahur.... Sahur.” Untuk jenis kedua, artikel itu mengambil ujaran “Giginya dia lebih bagus daripada gigi gue” sebagai transformasi kalimat ganda perbandingan dengan penanda daripada dan penghilangan unsur nomina.

Dari seluruh data, para peneliti mencatat bahwa semua subtipe transformasi kalimat ganda muncul, dengan jenis penjajaran, kondisional, kausal, dan penyisipan sebagai yang paling dominan. Artinya, mekanisme yang menghubungkan klausa satu dengan klausa lain tetap aktif. Yang terganggu adalah proses penghubungan dan pengintegrasian makna antarunsur kalimat itu.

Lapis yang Terganggu, Lapis yang Bertahan

Kesimpulan yang ditarik artikel ini dinyatakan dengan hati-hati. “Struktur-luar tetap mengikuti pola gramatikal yang berlaku, tetapi struktur-dalam mengalami gangguan, terutama dalam pembentukan makna dan koherensi antarklausa,” tulis ketiga penulisnya. Mereka menyandingkan temuan itu dengan sejumlah kajian mutakhir, antara lain Jo dan rekan (2023) yang menemukan kesalahan semantik jauh lebih sering muncul daripada kesalahan sintaksis, serta Martinez-Cano dan rekan (2025) yang menemukan hambatan signifikan pada pemrosesan semantik.

Penjelasan yang mereka ajukan bersifat dugaan berbasis literatur, bukan hasil pengukuran otak dalam penelitian ini sendiri. “Fenomena ini terjadi karena sistem tata bahasa dasar dalam otak relatif stabil dan berbasis aturan internal, sedangkan pemahaman makna serta konteks memerlukan kapasitas kognitif yang lebih tinggi, seperti memori kerja dan integrasi leksikal kontekstual,” tulis mereka merujuk pada studi Pae dan rekan (2008).

Nilai praktis analisis semacam ini, menurut artikel tersebut, terletak pada pemahaman: makna ujaran yang tampak rancu di permukaan sering kali dapat diurai kembali jika ditelusuri dari struktur-dalamnya. Itu adalah temuan tentang cara membaca bahasa, bukan resep penanganan. Artikel ini tidak menguji satu pun bentuk terapi dan tidak memberikan anjuran pengobatan apa pun.

Data dari Kanal YouTube, Bukan dari Klinik

Keterbatasan penelitian ini justru terletak pada sumber datanya, dan itu perlu disebut terang-terangan. Seluruh tuturan diambil dari video wawancara di YouTube — artikel menyebut kanal Diman Khan TV dan Parti TV — yang mendokumentasikan proses pemulihan satu keluarga di Desa Caringin, Kecamatan Labuhan, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, dengan empat anggota yang disebut menderita skizofrenia. Video diunduh agar bisa diputar berulang, tuturan yang relevan ditranskripsikan verbatim, lalu diberi kode berikut sumber dan konteksnya.

Baca juga: Sisi Batu yang Tak Pernah Dibaca Akhirnya Terbuka Lewat Fotogrametri

Artinya, ini bukan penelitian klinis dengan pemeriksaan diagnosis langsung, bukan pula studi dengan sampel acak. Diagnosis dan tipe kondisi — artikel menyebut fokusnya pada tipe residual dan hebefrenik menurut klasifikasi DSM-5 dan ICD-10 — berasal dari informasi yang menyertai video, bukan dari asesmen yang dilakukan tim peneliti. Artikel itu juga tidak mencantumkan berapa jumlah video, berapa jumlah ujaran, dan berapa jumlah penutur yang akhirnya masuk ke dalam korpus analisis, sehingga pembaca tidak bisa menakar seberapa besar dasar empiris di balik pernyataan bahwa “semua subtipe” transformasi kalimat ganda muncul. Ketiga penulis tidak menyediakan bagian yang secara khusus memaparkan keterbatasan penelitian mereka, dan hanya menyebut bahwa kajian lanjutan dapat dikembangkan ke aspek morfologi dan semantik.

Satu hal lagi yang perlu dijaga jaraknya. Artikel ini menyinggung bahwa program video tersebut ingin menunjukkan intervensi berbasis bahasa berperan penting dalam meningkatkan kemampuan verbal pasien, dan mengaitkannya dengan kajian terdahulu tentang terapi berbasis komunikasi. Pernyataan itu adalah latar belakang yang dikutip dari literatur lain, bukan hasil uji yang dikerjakan dalam penelitian ini. Yang benar-benar diuji Syafyahya dan rekan-rekannya adalah pertanyaan linguistik: di lapis mana kalimat itu masih utuh, dan di lapis mana ia goyah. Jawaban mereka jelas — kalimatnya sendiri, sebagian besar, tetap berdiri.

Baca Juga

Ilustrasi pahatan aksara kuno pada batu pasir.
Menelusuri Salingsingan, Rumah Ibadah Kuno di Kaki Merapi
Ilustrasi tumpukan majalah lawas di meja kayu.
Manglé, Majalah Sunda yang Bertahan Enam Puluh Delapan Tahun
Ilustrasi seperangkat gamelan tradisional.
Musim Panas 1974: Ketika Seni Sunda Tiba di Berkeley
Ilustrasi dedaunan tanaman herbal.
Uji Lab Daun Suruhan pada Sel Kanker Payudara MCF-7
Ilustrasi halaman naskah tulisan tangan kuno
Naskah 1814: Bharatayuddha Diterjemahkan Kata demi Kata
Ilustrasi deretan tablet putih dan kapsul di atas nampan obat rumah sakit berlatar kabur.
Uji Vitamin C pada 34 Pasien Lupus di Palembang dan Batasnya