Cekricek.id — Lima mahasiswa Universitas Gadjah Mada mengembangkan Polpay, sistem pembayaran digital yang menggantikan kartu dan telepon pintar dengan sidik jari pengguna. Inovasi yang lahir dari Program Kreativitas Mahasiswa itu menyatukan sensor biometrik dengan mesin Electronic Data Capture yang sudah lazim dipakai pedagang, sehingga transaksi dapat diselesaikan hanya dengan menempelkan ujung jari ke pemindai.
Dikutip dari laman resmi Universitas Gadjah Mada, ugm.ac.id, Sabtu (15/8/2026), tim pengembang Polpay terdiri atas Tiara Ramadhani sebagai ketua bersama Al Farabi Obiansyah, Marcelino Budi Prakasya, M. Fakhri Ghonim Setyanda, dan M. Rakhma Aifil Indira. Mereka membidik celah yang selama ini menahan penyebaran pembayaran biometrik di Indonesia, yakni kebutuhan infrastruktur berbiaya tinggi.
“Melalui inovasi ini, diharapkan masyarakat dapat menikmati pengalaman pembayaran yang lebih praktis dan aman,” kata Tiara Ramadhani, ketua tim Program Kreativitas Mahasiswa Polpay.
Baca juga: Pakar ITB Ingatkan Jangan Tanam Massal Pascakebakaran Bromo
Sensor Sidik Jari Menyatu dengan Mesin EDC
Cara kerja Polpay bertumpu pada integrasi sensor sidik jari ke perangkat Electronic Data Capture. Pengguna melakukan autentikasi biometrik langsung pada saat bertransaksi, tanpa perlu mengeluarkan kartu maupun membuka aplikasi di ponsel. Data biometrik kemudian diproses memakai teknologi edge computing sehingga pembacaan tidak sepenuhnya bergantung pada pengiriman menuju pusat data.
Lapisan pengamanan disandarkan pada enkripsi Advanced Encryption Standard 256-bit. Setelah dienkripsi, data dikirimkan ke server melalui protokol SSL/TLS untuk pemrosesan lanjutan. Rangkaian itu dipilih agar rekaman sidik jari tidak dapat dibaca ulang seandainya terjadi penyadapan di tengah jalur pengiriman. Tim menilai pendekatan tersebut menjadikan Polpay alternatif sistem pembayaran biometrik yang lebih terjangkau dibandingkan teknologi biometrik lain yang umumnya menuntut infrastruktur berbiaya tinggi.
Baca juga: Inovasi UGM Jadi SNI Pertama Kewirausahaan Gotong Royong
Keamanan Menjadi Pekerjaan Paling Berat
“Tantangan utama dalam pembuatan Polpay adalah memastikan seluruh sistem yang ada memiliki tingkat keamanan yang tinggi,” ujar Al Farabi Obiansyah, anggota tim pengembang Polpay.
Pengerjaan sistem sekaligus menuntut riset panjang. Marcelino Budi Prakasya, anggota tim yang sama, menuturkan bahwa hampir setiap hari mereka masih menemukan berbagai celah yang dapat diinovasikan, baik melalui pembaruan cara kerja perangkat lunak maupun pemilihan komponen yang lebih optimal. Karena itu, sistem yang sudah berjalan tetap diperlakukan sebagai bahan uji yang belum final.
Pilihan memakai mesin EDC sebagai basis membuat Polpay tidak menuntut pedagang mengganti seluruh perangkat kasir. Sensor dipasang menempel pada mesin yang sudah ada, sementara beban pemrosesan awal ditangani di sisi perangkat sebelum data bergerak ke server.
Baca juga: USU Dorong Kawasan Konservasi Perairan Pulau Pandang Batu Bara
Melangkah ke PIMNAS di Universitas Diponegoro
Polpay telah lolos pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa bidang Karsa Cipta, skema yang diperuntukkan bagi karya berbasis rancang bangun. Tim kini bersiap menuju Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional yang digelar di Universitas Diponegoro pada November 2026. Di ajang itu, karya mahasiswa dinilai bukan hanya dari kebaruan gagasan, melainkan juga kesiapan sistem ketika diuji di luar lingkungan laboratorium kampus.















