Cekricek.id — Chief Executive Officer Anthropic, Dario Amodei, membantah anggapan bahwa peringatan-peringatannya tentang risiko kecerdasan buatan atau artificial intelligence ikut menyalakan penolakan publik terhadap teknologi tersebut. Menurut dia, sumber ketidaksukaan itu terletak jauh lebih dalam daripada cara para bos perusahaan teknologi berbicara.
Dikutip dari laman TechCrunch, techcrunch.com, Minggu (16/8/2026), Amodei menyampaikan pandangan itu saat menanggapi investor Gavin Baker, yang menilai pemimpin Anthropic seharusnya bersikap lebih positif terhadap AI. Amodei menyatakan pesan yang ia sampaikan sejauh ini kurang lebih berimbang antara risiko dan manfaat.
“Saya pikir ini pada dasarnya adalah krisis kepercayaan. Saya pikir orang biasa tidak memercayai perusahaan, pemerintah, atau industri teknologi,” kata Dario Amodei, Chief Executive Officer Anthropic.
Baca juga: Sisi Batu yang Tak Pernah Dibaca Akhirnya Terbuka Lewat Fotogrametri
Janji Besar yang Belum Ditunaikan
Amodei juga menunjuk satu kritik yang menurutnya paling tepat sasaran, dan kritik itu mengarah ke perusahaannya sendiri. “Kritik paling akurat terhadap perusahaan AI, termasuk Anthropic, adalah bahwa kami belum menunaikan janji-janji besar kami untuk memberi manfaat bagi dunia,” sebut Amodei.
Pernyataan itu menempatkan persoalan bukan pada seberapa keras suatu perusahaan memperingatkan bahaya, melainkan pada jarak antara janji dan hasil yang benar-benar dirasakan orang. Industri AI selama beberapa tahun terakhir menjanjikan lompatan di bidang kesehatan, pendidikan, dan produktivitas, sementara yang lebih dulu terasa bagi banyak orang adalah kekhawatiran soal pekerjaan dan penyalahgunaan.
Dalam kesempatan yang sama Amodei membela sikap kebijakan Anthropic yang sering dituduh menghambat inovasi. Ia menegaskan usulan aturan yang disusun perusahaannya dirancang secara cermat dan tidak dimaksudkan untuk menutup ruang bagi pemain yang lebih kecil di industri kecerdasan buatan.
Baca juga: Satu Butir Pati di Gigi Rangka Plawangan Ternyata Bukan Gandum
Anthropic sendiri merupakan salah satu pengembang model AI terdepan dan dikenal lewat asisten percakapan bernama Claude. Perusahaan itu sejak awal memakai posisi keselamatan sebagai pembeda dari pesaingnya, sehingga tudingan bahwa sikap tersebut justru merugikan citra teknologi AI secara umum menempatkan Amodei pada posisi yang harus dijelaskan berulang kali.
Muncul di Tengah Sorotan terhadap Anthropic
Pernyataan tersebut keluar pada pekan yang sibuk bagi Anthropic. Sehari sebelumnya, masih menurut TechCrunch, techcrunch.com, Sabtu (15/8/2026), perusahaan itu menerbitkan penjelasan lebih rinci mengenai cara kerja tanda air atau watermark pada keluaran model Claude, sebuah langkah yang diambil untuk memenuhi ketentuan transparansi dalam Undang-Undang AI Uni Eropa.
Tanda air itu ditanamkan lewat pilihan-pilihan kecil ketika model menyusun teks, misalnya saat memilih satu kata di antara beberapa sinonim yang setara. Anthropic menyatakan tanda air tersebut tidak mempengaruhi kualitas keluaran Claude, dan perusahaan menyediakan antarmuka pemrograman untuk mendeteksinya. Penyuntingan ringan diperkirakan tidak menghapus tanda itu, sementara penulisan ulang menyeluruh akan menghapusnya.
Baca juga: Peneliti OIST Ciptakan Saklar Molekul Cahaya yang Bisa Berpendar dan Berubah Struktur
Pengumuman tanda air tersebut sempat memicu reaksi keras sebagian pengguna, termasuk yang menyatakan membatalkan langganan. Rangkaian peristiwa itu memperlihatkan persoalan yang disebut Amodei bukan sekadar perkara wacana, karena keputusan teknis sekalipun kini langsung diuji oleh tingkat kepercayaan penggunanya.
















