Cekricek.id — Mantan Perdana Menteri Chad, Succes Masra, keluar dari penjara setelah menerima grasi dari Presiden Mahamat Idriss Deby Itno, lalu menyerukan pengampunan dan rekonsiliasi nasional. Masra adalah salah satu dari sembilan politikus yang memperoleh pengampunan tersebut.
Dikutip dari kantor berita Xinhua, english.news.cn, Sabtu (15/8/2026), Masra dibebaskan pada Jumat setelah mendekam di penjara sejak Mei 2025. Ia dijatuhi hukuman 20 tahun dan denda sekitar 1,76 juta dolar Amerika Serikat atas dakwaan yang meliputi penghasutan kebencian dan pemberontakan serta keterlibatan dalam pembunuhan. Masra pernah memimpin pemerintahan transisi Chad pada Januari hingga Mei 2024.
Seruan Memaafkan di Markas Partai
Di markas partainya di N’Djamena, pada dini hari Sabtu setelah pembebasannya, Masra berbicara kepada para pendukung yang menyambutnya. Ia memilih nada damai alih-alih perlawanan.
Baca juga: Australia Mulai Beli Kembali Senjata Api pada 2 November
“Dengan hati yang terbuka, kami memaafkan semua orang yang telah menyakiti kami. Kita harus memaafkan,” kata Masra. Ia menambahkan, “Kami siap bekerja dengan Presiden Republik.”
Wakil Presiden partai The Transformers, Ndolembai Sade Njesada, menyambut keputusan kepala negara itu sebagai pembuka jalan dialog. “Kami berterima kasih kepada presiden republik karena telah menghadapi berbagai hambatan dan memilih maju dalam semangat persatuan nasional yang kini mulai terbentuk. Kami berharap akhirnya bisa duduk bersama di satu meja untuk memajukan perdamaian,” tutur Njesada sebagaimana dikutip africanews.com, Minggu (16/8/2026).
Baca juga: Modi Janji India Jadi Negara Maju 2047, Latih 10 Juta Anak Muda AI
Delapan Pemimpin Oposisi Lain Ikut Bebas
Delapan politikus lain yang menerima grasi berasal dari Political Actors’ Consultation Group (GCAP), koalisi oposisi utama yang dibubarkan Mahkamah Agung Chad pada April. Mereka dipenjara pada Mei dengan hukuman delapan tahun setelah dinyatakan bersalah menghasut pemberontakan.
Dikutip dari timeslive.co.za, Sabtu (15/8/2026), pihak kepresidenan menyatakan kesembilan orang tersebut akan dibebaskan segera setelah kementerian kehakiman menyelesaikan pengaturan yang diperlukan dalam beberapa jam dan hari berikutnya. Dekret grasi yang diunggah di laman resmi kepresidenan menyebut adanya penghapusan penuh hukuman badan bagi mereka yang terpidana.
Jejak Panjang Masra dan Deby
Masra, 42 tahun, seorang ekonom, merupakan salah satu pengkritik paling keras Deby. Ia sempat meninggalkan Chad setelah tentara dan polisi menembaki demonstran yang memprotes perpanjangan masa transisi politik di bawah junta pada Oktober 2022. Masra kemudian kembali dari pengasingan dan menandatangani kesepakatan rekonsiliasi dengan Deby, sebelum diangkat menjadi perdana menteri lima bulan menjelang pemilihan presiden 2024.
Baca juga: Polisi Hanoi Terjunkan Drone Awasi Pelanggaran dan Kemacetan Lalu Lintas
Deby memimpin Chad sejak 2021, setelah mengambil alih kendali transisi militer menyusul kematian ayahnya yang tewas dibunuh pemberontak setelah 30 tahun memimpin negara di Afrika bagian tengah itu. Ia terpilih sebagai kepala negara dengan perolehan sedikit di atas 60 persen suara dalam pemilihan yang diboikot mayoritas partai oposisi.
















