Korban Feri Danau Kariba Zimbabwe Jadi 84, Pemerintah Selidiki

Ilustrasi perairan Danau Kariba. Feri yang mengangkut penumpang melebihi kapasitas terbalik di danau tersebut pada 11 Ag

Ilustrasi perairan Danau Kariba. Feri yang mengangkut penumpang melebihi kapasitas terbalik di danau tersebut pada 11 Agustus 2026. [Foto: Reuters/Al Jazeera]

Cekricek.id — Jumlah korban tewas akibat feri yang terbalik di Danau Kariba, Zimbabwe, naik menjadi sedikitnya 84 orang setelah tim pencari mengangkat 12 jasad tambahan pada Minggu (16/8/2026). Angka itu menjadikan peristiwa tersebut bencana pelayaran paling mematikan dalam sejarah Zimbabwe.

Dikutip dari aljazeera.com, Minggu (16/8/2026), kepolisian nasional Zimbabwe mengonfirmasi penambahan jasad tersebut dari angka sebelumnya, dan pencarian masih berlanjut untuk korban yang dinyatakan hilang. Kapal itu terbalik pada Selasa (11/8/2026) saat angin kencang di perairan dekat perbatasan Zambia, ketika berlayar dari Kota Kariba menuju permukiman nelayan di barat laut negara tersebut.

Delapan Belas Anak di Antara Korban

Laporan kantor berita Associated Press yang dimuat abcnews.com, Minggu (16/8/2026), menyebut sedikitnya 18 anak turut menjadi korban, dengan usia termuda satu tahun. Kepolisian mencatat 16 korban berusia 10 tahun atau lebih muda. Badan penanggulangan bencana Zimbabwe memastikan 77 orang berhasil diselamatkan.

Baca juga: Feri Terbalik di Danau Kariba Zimbabwe, 15 Tewas dan 27 Hilang

Feri tua tersebut hanya berizin mengangkut 90 penumpang, tetapi diperkirakan membawa hingga 153 orang. Angkutan air merupakan sarana penting di Zimbabwe bagian utara karena infrastruktur jalan yang rusak dan pilihan transportasi umum yang terbatas. Danau Kariba sendiri merupakan danau buatan terbesar di dunia berdasarkan volume, dengan panjang lebih dari 200 kilometer dan lebar mencapai 40 kilometer, serta dimiliki bersama Zimbabwe dan Zambia.

Suasana duka terlihat pada Sabtu (15/8/2026), ketika ratusan orang berkumpul di sebuah rumah sakit setempat untuk mengenali jasad kerabat mereka. Presiden Zimbabwe Emmerson Mnangagwa menyebut peristiwa itu “tragis” dan menilai bencana tersebut memperlihatkan “kekurangan serius yang perlu segera dibenahi”.

Baca juga: Trump Ingin Jadikan Selat Hormuz Wilayah AS, Ini Kata Pakar

Pemerintah Buka Penyelidikan Resmi

Menteri Transportasi dan Pembangunan Infrastruktur Zimbabwe, Felix Mhona, menyatakan pemerintah akan menyelidiki penyebab bencana sesuai ketentuan Inland Waters Shipping Act. Penyelidikan itu akan menelaah standar keselamatan pelayaran, kepatuhan pada regulasi, kapasitas kapal, dan kesiapsiagaan darurat.

“Pemerintah akan menyelidiki apa yang terjadi, tetapi pada saat ini kami harus membiarkan keluarga berduka dan fokus memberi ketenangan bagi mereka yang kehilangan orang-orang terkasih,” kata Mhona sebagaimana dilaporkan 263Chat yang dipublikasikan ulang di allafrica.com, Minggu (16/8/2026).

Penyebab Masih Belum Diketahui

Menteri Pemerintahan Daerah dan Pekerjaan Umum Zimbabwe, Daniel Garwe, sebelumnya menegaskan otoritas belum menyimpulkan pemicu kecelakaan. “Ini bisa jadi masalah teknis. Kami belum tahu,” ujar Garwe seperti dikutip channelafrica.co.za, Sabtu (15/8/2026).

Baca juga: Bus Wisata Polandia Terguling di Hongaria, 12 Orang Tewas

Garwe juga menyebut pemerintah telah membantu keluarga korban, mulai dari penyediaan peti mati, bahan makanan, hingga transportasi. Ia menambahkan, “Kalau kami mengetahui penyebab kecelakaan ini, kami baru bisa menyatakan apa yang perlu dilakukan pada setiap tingkatan untuk memastikan kecelakaan semacam ini tidak terulang.” Otoritas Zimbabwe tidak menghentikan operasi feri selama penyelidikan berjalan.

Baca Juga

Ilustrasi sejumlah pelajar membawa ransel sekolah.
Filipina Perluas Beasiswa dan Lanjutkan Bantuan Beras
Ilustrasi barisan personel militer
Ukraina Klaim Hantam Pusat Roket dan Antariksa Rusia di Samara
Ilustrasi rapat kebijakan di ruang sidang.
Singapura Percepat Langkah Atasi Angka Kelahiran Terendah
Suasana terkait Komite Nasional Demokrat Amerika Serikat yang menetapkan kalender primer 2028 dalam pertemuan di Austin,
Demokrat AS Geser Iowa, South Carolina Pimpin Primer 2028
Ilustrasi pejabat menyampaikan pidato politik.
Succes Masra Bebas dari Penjara Chad, Serukan Rekonsiliasi
Ilustrasi suasana khidmat sebuah upacara penghormatan.
Bou Meng, Penyintas Penjara S-21 Khmer Merah, Wafat di Usia 85