Wabah Ebola di Kongo Jadi yang Paling Mematikan Sepanjang Sejarah

Petugas berpakaian pelindung lengkap mengangkat jenazah korban Ebola di Republik Demokratik Kongo.

Petugas berpakaian pelindung lengkap mengangkat jenazah korban Ebola di Republik Demokratik Kongo. [Foto: AFP]

Cekricek.id — Wabah Ebola yang melanda Republik Demokratik Kongo telah menewaskan 2.325 orang dan resmi menjadi wabah paling mematikan sepanjang sejarah negara Afrika Tengah itu, melampaui jumlah korban jiwa wabah 2018–2020.

Mengutip laporan Al Jazeera, Senin (17/8/2026), jumlah kasus terkonfirmasi naik menjadi 4.945 orang, termasuk 101 kasus baru yang terdeteksi dalam 24 jam terakhir. Angka tersebut tercantum dalam laporan terbaru Institut Nasional Kesehatan Masyarakat Kongo yang dirilis Minggu (16/8/2026).

Baca juga: Pariaman Raih Terbaik I Kesehatan, Dapat Bantuan Rp2 Miliar dari Kemendagri

Sebelumnya, wabah 2018–2020 tercatat sebagai yang terburuk di negara itu dengan 2.299 kematian. Wabah kali ini, yang merupakan wabah Ebola ke-17 sepanjang sejarah Kongo, sudah lebih dulu memecahkan rekor jumlah kasus pada akhir Juli lalu.

PBB Sebut Ebola Sedang Menang

“Wabah ini adalah yang paling cepat berkembang yang pernah tercatat,” kata Tom Fletcher, Kepala Urusan Kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa, dalam pernyataan tertulis pada Jumat. “Kami membutuhkan kecepatan, skala, dan solidaritas sebelum virus ini semakin jauh meninggalkan kita.”

Fletcher menyampaikan penilaian yang lebih keras ketika memaparkan upaya penanggulangan terkini. “Ebola sedang menang di Republik Demokratik Kongo. Kita tidak boleh membiarkan virus ini mendahului respons kita,” tegasnya.

Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia Tedros Adhanom Ghebreyesus pada Rabu pekan lalu memperingatkan, dengan laju penularan seperti sekarang wabah di Kongo berpotensi melampaui wabah Ebola Afrika Barat pada 2014 hingga 2016. Krisis tersebut menewaskan lebih dari 11.000 orang dan mempercepat dorongan pengembangan vaksin Ebola.

Baca juga: Kasus Ebola Kongo Tembus 4.665, Africa CDC Desak Vaksinasi Segera

Hampir Satu dari Dua Pasien Meninggal

Rasio kematian kasus, yakni proporsi pasien yang meninggal setelah infeksinya terkonfirmasi, melonjak dari sekitar 20 persen pada awal Juni menjadi 46 persen berdasarkan data pemerintah. Artinya, hampir satu dari setiap dua kasus terkonfirmasi kini berakhir dengan kematian.

Tren itu berlawanan dengan pola wabah pada umumnya. “Biasanya, seiring wabah berjalan, rasio kematian kasus semestinya turun karena pelacakan kontak membaik dan pasien ditemukan serta diobati lebih awal,” jelas Thomas Parisch, spesialis kesehatan masyarakat yang ditugaskan di Kongo bersama organisasi medis Dokter Lintas Batas atau MSF.

“Sebaliknya, kami masih melihat banyak kasus terdeteksi sangat terlambat, ketika pengobatan kecil kemungkinan berhasil, dengan banyak di antaranya baru teridentifikasi setelah mereka meninggal di tengah masyarakat,” tutur Parisch.

Galur Bundibugyo Belum Punya Vaksin

Wabah kali ini disebabkan galur Bundibugyo dari virus Ebola, jenis yang belum memiliki vaksin maupun terapi yang disetujui. Sejumlah kecil vaksin dan terapi eksperimental sedang dievaluasi, sementara otoritas kesehatan global menguji apakah obat Ebola yang sudah ada bisa memberikan perlindungan. Bukti yang tersedia sejauh ini masih terbatas pada uji coba terhadap hewan.

Baca juga: WHO Dorong Uji Fase 3 Vaksin Ebola Saat Wabah Kongo Tembus 4.500 Kasus

Wabah dinyatakan pada 15 Mei 2026 dan terus menguat sejak saat itu. Infrastruktur kesehatan yang lemah, keterpencilan wilayah terdampak, serta konflik bersenjata yang masih berlangsung di dekat perbatasan Kongo dengan Sudan Selatan, Uganda, dan Rwanda menjadi penghambat utama upaya penanganan.

Dengan tambahan ratusan kasus setiap pekan, beban terhadap fasilitas kesehatan di wilayah terdampak terus bertambah. Pemerintah Kongo memperbarui data korban secara harian melalui Institut Nasional Kesehatan Masyarakat, sementara badan-badan kemanusiaan PBB mendesak percepatan bantuan agar penularan tidak semakin lepas kendali.

Baca Juga

Ilustrasi tabrakan galaksi purba yang ikut membentuk Bima Sakti miliaran tahun lalu.
Studi Baru: Galaksi Kraken Tabrak Bima Sakti 12 Miliar Tahun Lalu
Papan nama kantor Stripe Inc. di South San Francisco, California, Amerika Serikat.
Stripe Dikabarkan Akuisisi OpenRouter Senilai Lebih dari US$7 Miliar
Ilustrasi. Kerumunan orang di jalan menuju Kuil Jagannath di Puri, India.
Tujuh Peziarah Tewas Berdesakan di Kuil Ashok Dham Bihar India
Bintang laut matahari menjelajahi hutan kelp setelah dilepas dari laboratorium.
Ilmuwan dan Suku Samish Lepas Bintang Laut Langka ke Pasifik
Senator Rand Paul memimpin dengar pendapat Komite Keamanan Dalam Negeri dan Urusan Pemerintahan Senat Amerika Serikat.
Anthony Fauci Terancam Penjara jika Terbukti Menghina Kongres Amerika Serikat
Ilustrasi. Seorang remaja perempuan memakai telepon pintar sambil bersantai di sofa.
Meta Disidang di Pengadilan AS soal Kecanduan Media Sosial Anak