Drone Tanpa GPS UB Antar Medical Kit dalam 55 Detik

Mahasiswa Universitas Brawijaya menyiapkan drone pengantar medical kit

Mahasiswa Universitas Brawijaya menyiapkan drone rancangan tim mereka sebelum uji terbang. [Foto: Dok. Tim Aksantara/UB]

Cekricek.id — Sebuah robot terbang rancangan mahasiswa Universitas Brawijaya menuntaskan misi mengantar medical kit tanpa bantuan GPS hanya dalam 55 detik dan meraih nilai penuh pada seleksi wilayah Kontes Robot Terbang Indonesia (KRTI) 2026.

Capaian itu ditorehkan Tim Aeronautika Brawijaya dari Departemen Teknik Elektro Universitas Brawijaya. Dikutip dari laman resmi Universitas Brawijaya, prasetya.ub.ac.id, Minggu (16/8/2026), tahap seleksi wilayah tersebut digelar secara daring melalui Zoom pada Kamis (13/8/2026) dan diikuti 51 perguruan tinggi. Dari jumlah itu, hanya 16 tim terbaik yang berhak melaju ke babak berikutnya di Ibu Kota Nusantara.

Baca juga: Cerita Juru Bahasa Isyarat Dampingi Mahasiswa Tuli di PKKMB UNP 2026

Misi Penyelamatan Tanpa Sinyal Satelit

Panitia menyusun skenario yang meniru operasi pertolongan darurat. Robot terbang diminta membawa dan menjatuhkan medical kit ke dalam kotak yang telah disediakan, sekaligus melewati sejumlah gate di sepanjang lintasan. Yang membuat misi ini berat, seluruh manuver harus dijalankan tanpa GPS sehingga wahana tidak bisa bersandar pada koordinat satelit untuk mengetahui posisinya sendiri.

Tim Aeronautika Brawijaya menjawab keterbatasan tersebut dengan menggabungkan empat perangkat penginderaan sekaligus. Keempatnya bekerja bersamaan menggantikan fungsi navigasi satelit, mulai dari mengukur jarak wahana ke permukaan tanah, membaca pergerakan, mengunci ketinggian, hingga mengenali gerbang lintasan berdasarkan warna.

“LiDAR digunakan untuk mengukur jarak drone dengan tanah. Lalu ada optical flow, kamera khusus untuk mendeteksi pergerakan tekstur di tanah. Ada juga barometer untuk mendeteksi ketinggian dari tekanan udara dan vision menggunakan kamera depan untuk mendeteksi gate dari warna,” kata Alexander Stormy Bramantyo, anggota tim inti divisi elektrikal Tim Aeronautika Brawijaya.

Nilai Penuh dengan Catatan 55 Detik

Pada pelaksanaannya, wahana tim tersebut menuntaskan seluruh rangkaian misi dan mengantongi nilai penuh dengan catatan waktu 55 detik. Penilaian mempertimbangkan keberhasilan misi, ketepatan penempatan muatan, serta kecepatan penyelesaian.

Baca juga: Peneliti Universitas Brawijaya Deskripsikan Spesies Kumbang Baru dari Hutan Kagoshima

Hambatan terbesar justru datang dari faktor yang berada di luar kendali tim. Cuaca dan embusan angin yang cukup kencang membuat wahana sulit dijaga tetap stabil, terutama saat mendekati titik penjatuhan muatan. Antisipasinya disiapkan jauh sebelum hari pelaksanaan melalui uji coba berulang dengan beberapa metode berbeda.

“Kendalanya lebih banyak dari eksternal, seperti cuaca dan angin yang cukup kencang sehingga membuat drone tidak stabil. Tapi berkat kerja keras tim dari hari-hari sebelumnya, kami sudah melakukan uji coba untuk mengantisipasi hal tersebut dengan menggunakan metode-metode yang berbeda dan terbukti akurat,” kata Muhammad Fadhil Qutrunnada, pilot drone Tim Aeronautika Brawijaya.

Menunggu Panggilan ke Ibu Kota Nusantara

Tim inti beranggotakan Alexander Stormy Bramantyo pada divisi elektrikal, Alfi Sayfullah pada divisi perangkat lunak, dan Arjunadinata Richie Romeo Hadi pada divisi mekanikal. Muhammad Fadhil Qutrunnada bertugas sebagai pilot, dibantu Devint Nehal Dhahiri dan Fidel Christian Supeno. Seluruh proses pengembangan berjalan di bawah bimbingan dosen Departemen Teknik Elektro, Cries Avian, S.T., M.T., Ph.D.

Hingga rilis tersebut diterbitkan, panitia belum mengumumkan daftar tim yang lolos ke tahap lanjutan. Tim Universitas Brawijaya memilih tetap bersiap sembari menunggu keputusan resmi.

Baca juga: 16 Ribu Mahasiswa Baru Undip Ikuti Puncak ODM 2026 di Stadion

“Belum ada pengumuman lanjutan. Tapi kita optimis buat di sana,” kata Alexander Stormy Bramantyo.

KRTI merupakan ajang tahunan yang mempertemukan pengembang wahana terbang nirawak dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Pada edisi 2026, misi bertema penyelamatan menuntut peserta membuktikan wahananya sanggup bernavigasi secara mandiri dan menempatkan muatan secara presisi meski dukungan sinyal satelit dimatikan.

Baca Juga

Santri di Gampong Meunasah Lancang, Pidie Jaya, menunjukkan sabun cuci piring berbahan garam hasil pelatihan USK
Santri Pidie Jaya Diajari USK Bikin Sabun dari Garam
Seminar tentang pendidikan di era kecerdasan buatan di Universitas Negeri Jakarta
Pakar Tsinghua: 39% Skill Kerja Berubah karena AI
Dosen tamu Universiti Teknologi Malaysia memberi kuliah umum di Fakultas Teknologi Industri Universitas Bung Hatta
Dosen Bung Hatta Riset Implan Gigi dari Tulang Sapi
Warga menanam tanaman obat keluarga bersama mahasiswa MMD Universitas Brawijaya di Lamongan
Mahasiswa UB Bangun Taman Toga Ber-QR Code di Lamongan
Tim Rasena Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin Universitas Airlangga memperagakan timbangan bersuara AURIS.
Timbangan Bersuara UNAIR Bantu Barista Tunanetra
Mahasiswa KKN Institut Teknologi Bandung berdiri di dekat reservoir air bersih yang dibangun di Desa Talagasari.
KKN ITB Talagasari: Air Bersih untuk 3.500 Warga