KKN ITB Talagasari: Air Bersih untuk 3.500 Warga

Mahasiswa KKN Institut Teknologi Bandung berdiri di dekat reservoir air bersih yang dibangun di Desa Talagasari.

Mahasiswa KKN Institut Teknologi Bandung berdiri di dekat reservoir air bersih yang dibangun di Desa Talagasari. [Foto: Humas ITB]

Cekricek.id — Sebanyak 341 mahasiswa Institut Teknologi Bandung menuntaskan pembangunan infrastruktur dasar yang menjangkau lebih dari 3.500 warga di lima dusun Desa Talagasari, Kabupaten Subang. Desa tersebut sebelumnya kesulitan mengakses air bersih, sanitasi, dan penerangan.

Dikutip dari laman resmi Institut Teknologi Bandung, itb.ac.id, Selasa (18/8/2026), rangkaian program Kuliah Kerja Nyata itu berlangsung sejak 25 Juli hingga ditutup dengan penyerahan seluruh fasilitas kepada Pemerintah Desa Talagasari pada Senin (17/8/2026).

Baca juga: Baru 33 Persen Warga Padang Daftar Portal Perlinsos

Satu Bendungan dan Delapan Reservoir Air

Persoalan paling mendasar yang dihadapi warga Talagasari adalah air bersih. Untuk menjawabnya, mahasiswa membangun satu unit bendungan air yang berfungsi menampung sekaligus mendistribusikan air ke permukiman warga yang selama ini sulit terjangkau layanan.

Air dari bendungan tersebut dialirkan melalui jaringan pipa menuju delapan reservoir utama yang tersebar di wilayah desa. Selain itu, dibangun pula delapan fasilitas mandi, cuci, kakus untuk kebutuhan bersama warga, lengkap dengan tempat wudu dan perbaikan sejumlah musala.

Tujuh Puluh Enam Titik Penerangan Tenaga Surya

Pada sektor energi, program tersebut menghasilkan 76 unit penerangan jalan umum bertenaga surya. Pemasangan lampu jalan berbasis energi matahari itu menjawab keterbatasan penerangan di jalur-jalur desa tanpa menambah beban jaringan listrik konvensional.

Selain infrastruktur fisik, program juga menyentuh sektor pendidikan warga. Seluruh kegiatan dirancang agar fasilitas yang ditinggalkan dapat dioperasikan dan dirawat sendiri oleh masyarakat desa setelah mahasiswa kembali ke kampus.

Seluruh pengerjaan tersebut dirampungkan dalam rentang sekitar tiga pekan. Program dimulai pada 25 Juli 2026 dan seluruh bangunan beserta jaringan pendukungnya dinyatakan selesai menjelang penutupan pada pertengahan Agustus.

Baca juga: Gempa M7,7 Guncang Flores NTT, 47 Tewas dan 2.000 Warga Mengungsi

Sebaran lokasi menjadi tantangan tersendiri karena penerima manfaat tidak terpusat di satu titik, melainkan tersebar di lima dusun. Kondisi itu menuntut perencanaan jalur pipa dan penempatan reservoir yang menyesuaikan kontur serta jarak antarpermukiman.

Ukuran Keberhasilan Setelah Mahasiswa Pergi

Pada Senin (17/8/2026), seluruh fasilitas beserta hasil karya mahasiswa diserahkan kepada Pemerintah Desa Talagasari. Penyerahan tersebut menandai perpindahan tanggung jawab pengelolaan dari mahasiswa kepada perangkat desa dan warga setempat.

Keberlanjutan manfaat menjadi tolok ukur yang ditekankan dalam penutupan program. Fasilitas yang selesai dibangun dinilai belum cukup apabila tidak dapat terus dimanfaatkan warga dalam jangka panjang.

“Keberhasilan sebuah program pengabdian bukan hanya diukur dari apakah program tersebut selesai dibangun. Keberhasilan yang sesungguhnya adalah ketika manfaatnya terus dirasakan setelah kita pergi,” kata Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T., Rektor Institut Teknologi Bandung.

Ia menegaskan bahwa program pengabdian semacam ini tidak berhenti sebagai kegiatan pemindahan program ke desa, melainkan proses belajar dua arah antara mahasiswa dan masyarakat.

“KKN bukan sekadar kegiatan mahasiswa untuk membawa program ke desa,” ujarnya.

Baca juga: Dua Bangkai Kapal Uap di Perairan Bawean yang Dipotong Warga

“Saudara datang ke Talagasari sebagai mahasiswa ITB yang membawa ilmu. Hari ini, saudara pulang sebagai mahasiswa yang membawa pengalaman, empati, kerendahan hati, dan persiapkan diri untuk menjadi pemimpin yang bukan hanya hebat bagi dirinya sendiri, tetapi juga mampu memberikan manfaat bagi masyarakat dan bangsa,” katanya.

Dengan bendungan, jaringan pipa, delapan reservoir, delapan fasilitas sanitasi, dan 76 titik lampu tenaga surya, Desa Talagasari kini memiliki tumpuan layanan dasar yang sebelumnya tidak tersedia. Tantangan berikutnya berpindah kepada pemerintah desa dan warga, yakni memastikan seluruh fasilitas tersebut tetap berfungsi pada tahun-tahun mendatang.

Baca Juga

Ilustrasi struktur bata merah candi tua di tepi kanal dikelilingi hutan rawa
Serbuk Sari Obat Malaria di Percandian Muarajambi Abad ke-7
Pelepasan tim bantuan medis gempa Flores di Kantor Manajemen Kampus MERR-C Universitas Airlangga, Surabaya, Senin (17/8/2026).
UNAIR Lepas Tim Medis Tanggap Darurat Gempa Menuju NTT
Santri di Gampong Meunasah Lancang, Pidie Jaya, menunjukkan sabun cuci piring berbahan garam hasil pelatihan USK
Santri Pidie Jaya Diajari USK Bikin Sabun dari Garam
Seminar tentang pendidikan di era kecerdasan buatan di Universitas Negeri Jakarta
Pakar Tsinghua: 39% Skill Kerja Berubah karena AI
Dosen tamu Universiti Teknologi Malaysia memberi kuliah umum di Fakultas Teknologi Industri Universitas Bung Hatta
Dosen Bung Hatta Riset Implan Gigi dari Tulang Sapi
Warga menanam tanaman obat keluarga bersama mahasiswa MMD Universitas Brawijaya di Lamongan
Mahasiswa UB Bangun Taman Toga Ber-QR Code di Lamongan