Cekricek.id — Di tengah riuh Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas Negeri Padang (UNP) 2026, ada barisan mahasiswa yang mengikuti setiap sesi lewat gerakan tangan, bukan pengeras suara. UNP menerima 20 mahasiswa baru penyandang disabilitas tahun ini, termasuk mahasiswa tuli, netra, autisme, dan disabilitas fisik, dan Unit Layanan Disabilitas (ULD) kampus menerjunkan juru bahasa isyarat agar mereka bisa mengikuti seluruh rangkaian acara.
Dikutip dari laman resmi Universitas Negeri Padang, unp.ac.id, Rabu (5/8/2026), salah satu juru bahasa isyarat (JBI) itu adalah Valentina Sholatia, mahasiswa Pendidikan Luar Biasa (PLB) UNP. Ia bertugas mendampingi mahasiswa baru tuli bersama rekannya, Eldo, sepanjang PKKMB berlangsung.
Dipilih Sendiri oleh Mahasiswa Tuli
Proses menentukan siapa yang mendampingi bukan keputusan sepihak kampus. Mahasiswa tuli ikut menentukan JBI yang paling nyaman bagi mereka, biasanya lewat rekomendasi kakak tingkat yang sudah lebih dulu menjalin relasi.
“Teman-teman tuli biasanya sudah memiliki relasi dengan kakak tingkat. Mereka juga memberikan rekomendasi JBI yang paling nyaman untuk mendampingi mereka,” kata Valentina.
Kedekatan itu penting karena pekerjaan seorang JBI bukan sekadar menerjemahkan kata per kata. Menurut Valentina, tugasnya menuntut kepercayaan, sebab bahasa isyarat yang dipakai mahasiswa tuli dari daerah berbeda-beda tidak selalu seragam.
Isyarat Berbeda dari Kota ke Kota
Valentina menyamakan variasi bahasa isyarat dengan variasi bahasa daerah, sama-sama berubah menurut asal penuturnya.
“Bahasa isyarat itu seperti bahasa daerah. Isyarat di Padang bisa berbeda dengan Bukittinggi. Jadi kami harus menyamakan pemahaman terlebih dahulu,” ujarnya.
Karena itu, sebelum bisa mendampingi dengan lancar, JBI dan mahasiswa tuli lebih dulu duduk bersama menyamakan isyarat yang akan mereka pakai selama PKKMB. Proses ini berjalan dua arah: bukan cuma JBI yang mengajar, mahasiswa tuli pun ikut mengoreksi dan mencontohkan isyarat yang tepat saat pendampingnya keliru.
“Kalau kami bingung, teman-teman tuli juga membantu mengajarkan. Jadi kami saling belajar,” kata Valentina.
Bukan Hanya Juru Bahasa Isyarat
Dukungan ULD UNP tidak berhenti pada mahasiswa tuli. Kampus turut menyediakan pendamping mobilitas bagi mahasiswa netra serta dukungan yang disesuaikan bagi mahasiswa dengan disabilitas lain, termasuk autisme dan disabilitas fisik, bagian dari upaya menjadikan PKKMB benar-benar bisa diikuti oleh seluruh mahasiswa baru, apa pun kondisinya.
Perhatian pada aksesibilitas semacam ini melengkapi upaya lain yang belakangan muncul di ranah pendidikan tinggi soal disabilitas. Tiga mahasiswa Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung, misalnya, belum lama ini merakit alat penerjemah isyarat dua arah bernama SignWave untuk kelas reguler, upaya lain menjembatani komunikasi murid tuli dengan lingkungan yang belum semuanya bisa berbahasa isyarat.
Baca juga: Hanya 11,6 Persen Penyandang Disabilitas Berolahraga, Kemenpora Cetak Penggerak Baru
PKKMB UNP 2026 sendiri berlangsung dengan skala besar. Rangkaian penyambutan mahasiswa baru itu turut diramaikan atraksi papermob yang melibatkan lebih dari 12 ribu mahasiswa baru dalam dua puluh formasi raksasa di Lapangan Atletik Fakultas Ilmu Keolahragaan. Di tengah kemeriahan berskala besar semacam itu, pendampingan personal bagi 20 mahasiswa disabilitas berjalan nyaris tanpa sorotan, meski dari sudut pandang mahasiswa yang didampinginya, justru itulah yang menentukan apakah mereka bisa benar-benar mengikuti orientasi kampus atau tertinggal di setiap sesi.




















