Cekricek.id — Setiap tanaman obat keluarga di taman Balai Desa Kebalanpelang, Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan, kini dilengkapi kode QR. Cukup dipindai dengan telepon pintar, pengunjung langsung memperoleh nama, jenis, dan manfaat kesehatan tanaman tersebut tanpa perlu bertanya kepada siapa pun.
Dikutip dari laman resmi Universitas Brawijaya, prasetya.ub.ac.id, Minggu (16/8/2026), taman itu dibangun 12 mahasiswa Membangun Desa Universitas Brawijaya (MMD UB) Kelompok 55 pada Senin (13/7/2026). Kegiatan tersebut merupakan bagian dari tema pengabdian masyarakat SEKAR DESA atau Sinergi Ekonomi, Kesehatan, Agrikultur, dan Ruang Belajar, di bawah bimbingan dosen Fakultas Ilmu Administrasi UB, Edriana Pangestuti, S.E., M.Si., DBA.
Baca juga: Pengguna Ganja Rutin Bangun dengan Kadar Kortisol Lebih Tinggi
Menjawab Lahan Hijau yang Belum Optimal
Program ini digagas untuk menjawab persoalan pemanfaatan lahan hijau dan tanaman obat keluarga di Desa Kebalanpelang yang selama ini belum optimal. Padahal, tanaman obat keluarga mudah dibudidayakan di pekarangan rumah dan berperan penting menopang kesehatan keluarga sekaligus membuat lahan lebih produktif. Upaya penghijauan lingkungan desa pun dinilai masih perlu ditingkatkan agar suasana desa lebih asri, sehat, dan berkelanjutan.
Ketua kelompok, Taufiq Ali Hakim, menjelaskan taman tersebut dirancang bukan sekadar mempercantik area balai desa, melainkan sebagai ruang belajar bagi warga mengenai manfaat tanaman obat dalam kehidupan sehari-hari. Menurut dia, banyak tanaman obat sebenarnya sudah tumbuh di sekitar rumah warga, tetapi manfaat spesifiknya belum diketahui.
“Kami harap taman ini punya fungsi ganda, jadi ruang hijau sekaligus perpustakaan hidup buat warga,” kata Taufiq Ali Hakim, Ketua Kelompok 55 MMD UB.
“Melalui taman edukatif ini, harapannya pengetahuan itu bisa lebih mudah diakses oleh siapa saja yang datang ke balai desa,” ujar Taufiq.
Baca juga: ITB Terima 8.945 Mahasiswa Baru dari 38 Provinsi dan Puluhan Negara
Sprinkler Otomatis agar Taman Tak Mati Ditinggal
Rangkaian kegiatan diawali observasi lokasi untuk menentukan titik penanaman dan tata letak taman, dilanjutkan koordinasi perizinan dengan perangkat desa mengenai lokasi serta jenis tanaman. Tim kemudian melakukan pengadaan aneka tanaman obat, pupuk, hingga perlengkapan sistem sprinkler.
Pada hari pelaksanaan, seluruh anggota kelompok turun tangan bersama-sama, mulai dari mencangkul dan mengolah lahan, menanam berbagai jenis tanaman obat keluarga, hingga memasang sistem sprinkler otomatis yang dirancang memudahkan penyiraman secara berkala setiap hari. Kehadiran sprinkler itu diharapkan menjaga keberlanjutan perawatan taman meski masa penugasan MMD telah berakhir.
Tim juga memasang pagar keliling untuk melindungi taman dari gangguan hewan maupun aktivitas yang dapat merusak tanaman. Sebagai kampanye pengelolaan sampah berbasis daur ulang, mereka membuat tempat sampah kreatif dari jaring dan botol air mineral bekas. Sebuah plang kayu berisi imbauan untuk tidak membuang sampah sembarangan turut dipasang di sekeliling taman.
Kode QR agar Taman Tidak Sekadar Pajangan
Sentuhan teknologi dihadirkan melalui pemasangan kode QR pada tanaman obat yang ditanam. Pemindaian kode tersebut mengantarkan pengunjung pada informasi nama, jenis, serta manfaat kesehatan tanaman yang bersangkutan.
Baca juga: Peneliti Universitas Brawijaya Deskripsikan Spesies Kumbang Baru dari Hutan Kagoshima
“Kami sengaja tambahkan QR code supaya taman ini tidak hanya jadi pajangan hijau, tapi benar-benar interaktif. Warga atau siapa pun yang berkunjung ke taman balai desa bisa langsung belajar mandiri hanya dengan memindai kode di dekat tanaman,” tambah Taufiq Ali Hakim, Ketua Kelompok 55 MMD UB.
Program penanaman pohon dan taman obat edukatif ini disebut sejalan dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Desa, khususnya tujuan ketiga tentang desa sehat dan sejahtera serta tujuan kelima belas tentang desa peduli lingkungan darat. Setelah tahap penanaman selesai, tim akan melakukan monitoring berkala terhadap pertumbuhan tanaman, fungsi sistem sprinkler, serta tingkat partisipasi dan pemanfaatan taman oleh masyarakat sebagai bahan evaluasi dan penyusunan laporan akhir kegiatan.













