Cekricek.id — Benda-benda di ruangan itu sederhana saja: sebuah kompor, satu wajan, daun kelor segar, dan bubuk kelor. Ada poster edukasi. Ada selebaran bergambar. Ada pula lembar-lembar kertas berisi lima pernyataan benar-salah yang belum diisi siapa pun. Hari itu Sabtu, 4 Oktober 2025, di Kelurahan Gantiang, Kota Padang Panjang, Sumatera Barat, dan dua puluh dua orang hadir untuk satu pelatihan tentang daun yang selama ini dianggap murah dan gampang didapat.
Yang terjadi di ruangan itu dicatat oleh lima orang dari Fakultas Farmasi Universitas Andalas, Padang: Meri Susanti dan Nova Syafni dari Departemen Biologi Farmasi, Annisa Fauzana dari Departemen Kimia Farmasi, serta Yoneta Srangenge dan Najmiatul Fitria dari Departemen Farmakologi dan Farmasi Klinis. Laporan mereka, Utilization Of Moringa Leaves As A Nutrient to Prevent Stunting In Children In Gantiang Village, Padang Panjang City, terbit di jurnal Warta Pengabdian Andalas Volume 33 Nomor 2 tahun 2026, di halaman 166–172.
Bentuknya bukan uji klinis. Yang dikerjakan adalah pengabdian masyarakat satu hari pada satu kelompok tanpa pembanding: peserta mengisi pra-tes sebelum penyuluhan, lalu pasca-tes setelah seluruh sesi dan demonstrasi pengolahan selesai. Pesertanya dua puluh dua orang — ibu rumah tangga, kader Posyandu, dan pengasuh balita yang tinggal di kelurahan itu. Seluruh datanya berasal dari satu hari, 4 Oktober 2025, dan dari satu titik di peta Sumatera Barat.
Sebelum kompor dinyalakan, ada yang lebih dulu harus dibongkar. Di banyak rumah, kelor bukan sayur. Kelor adalah obat kampung, sesuatu yang dicari ketika seseorang sakit, bukan yang dimasak pada hari biasa. Hambatan itu ditulis terang-terangan di bagian pendahuluan: “Pengetahuan ibu yang terbatas tentang kandungan gizi kelor, minimnya inovasi pengolahan, dan salah persepsi bahwa daun kelor semata-mata dipakai untuk pengobatan tradisional merupakan hambatan utama,” tulis Meri Susanti, peneliti Departemen Biologi Farmasi Universitas Andalas, bersama timnya.
Lima Soal Benar-Salah
Lembar pra-tes itu tipis. Isinya lima pernyataan benar-salah seputar manfaat, keamanan, dan penggunaan daun kelor: kandungan gizinya, aman atau tidaknya dikonsumsi, perannya dalam pencegahan stunting, peluangnya diolah menjadi produk suplemen, pemakaiannya dalam makanan, dan minat mencoba produk berbahan kelor. Satu jawaban benar bernilai satu poin. Nilai tertinggi yang bisa diraih seseorang pada lembar setipis itu adalah lima. Instrumen yang sama persis dipakai dua kali dalam satu hari, sebelum penyuluhan dan sesudah semua sesi tuntas, supaya selisih keduanya bisa dihitung.
Rata-rata yang keluar dari tumpukan lembar pertama 2,95, dengan simpangan baku 1,588. Angka simpangan sebesar itu memberi tahu sesuatu yang tidak terbaca dari rata-ratanya: sebagian peserta menjawab hampir seluruhnya benar, sebagian lain meleset di banyak nomor. Jaraknya lebar. Padahal yang hadir di ruangan itu justru orang-orang yang keputusannya menentukan apa yang masuk ke piring balita di rumah masing-masing.
Setelah lembar itu dikumpulkan, penyuluhan berjalan. Materinya kandungan gizi daun kelor dan manfaatnya sebagai pangan lokal bernilai tinggi, disandingkan dengan stunting sebagai kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis, terutama pada seribu hari pertama kehidupan. Metodenya partisipatif: penyuluhan, demonstrasi, tanya jawab, praktik langsung dengan panduan booklet. Poster dan selebaran di ruangan itu bukan hiasan, melainkan alat yang dipakai sepanjang sesi.
Baca juga Kesehatan Jantung Perempuan: Skor Naik, Risiko Tetap
Lembar kedua dibagikan ketika semuanya selesai. Rata-ratanya 4,77 dari nilai maksimal lima, dan simpangan bakunya menyusut jauh menjadi 0,752. Simpangan yang mengecil itu barangkali lebih berarti daripada rata-rata yang naik. Pemahaman peserta menjadi lebih merata, bukan cuma membaik pada mereka yang sejak awal sudah tahu banyak. Yang semula tertinggal di belakang ikut terangkat.
Uji t berpasangan dipakai karena sebaran datanya normal. Selisih rata-rata pra-tes dan pasca-tes 1,818 poin, dengan nilai t -5,354 pada derajat bebas 21 dan p = 0,000; rentang keyakinan 95 persennya berada antara -2,524 dan -1,112. Korelasi antara nilai pra-tes dan pasca-tes hanya 0,23 dan tidak bermakna, dengan p = 0,302. Menurut tim penulis, itu menandakan kenaikan tersebut bukan warisan bekal pengetahuan awal peserta, melainkan efek langsung penyuluhan hari itu.
Bubur, Teh, dan Bakso
Beberapa langkah dari meja lembar tes, kompor menyala. Daun kelor segar dan bubuk kelor berpindah ke wajan. Yang dibuat hari itu bubur kelor, teh kelor, dan beberapa olahan sederhana lain — bukan resep rumit yang menuntut alat mahal, melainkan bentuk-bentuk yang mungkin diulang di dapur mana pun di kelurahan itu, dengan kompor dan wajan yang sama sederhananya.
Bagian inilah yang paling laku. Penilaian kepuasan peserta terhadap kegiatan mencapai 94,54 persen, angka yang oleh tim penulis dibaca sebagai tanda bahwa cara penyampaian, materi edukasi, dan demonstrasi pengolahan diterima dengan baik. Kombinasi ceramah dan praktik memang berulang kali disebut lebih ampuh daripada ceramah saja di dalam literatur yang mereka rujuk.
Ada satu produk yang justru tidak pernah ada di atas wajan hari itu: bakso daun kelor. Peserta hanya ditanya, seandainya bakso semacam itu tersedia di pasar, apakah mereka berminat mencobanya. Sebanyak 88,64 persen menjawab berminat. Minat pada sesuatu yang belum mereka cicipi, tumbuh dari penjelasan dan demonstrasi yang baru saja mereka saksikan di meja sebelah. Bagi tim penulis, angka setinggi itu menandakan peluang cukup besar bahwa olahan kelor diterima sebagai bagian menu harian keluarga.
Baca juga Uji Lab Daun Suruhan pada Sel Kanker Payudara MCF-7
Dari angka itu tim penulis melihat pintu ke arah lain: pelatihan rutin, pemanfaatan kelor di Posyandu, program Pemberian Makanan Tambahan, sampai kelompok usaha kecil berbasis produk kelor. Semua itu masih berstatus rekomendasi, bukan hasil. Yang benar-benar terukur pada 4 Oktober 2025 hanya tiga hal — pengetahuan, kepuasan, dan minat — dan ketiganya belum tentu berubah menjadi kebiasaan makan.
Tiga Kolom Umur yang Kosong
Kembali ke tumpukan berkas peserta, ke bagian yang jarang dilihat orang. Sembilan peserta berada pada rentang usia 36–45 tahun, kelompok terbesar dengan 40,9 persen. Lima orang berusia 26–35 tahun dan lima lagi 46–55 tahun, masing-masing 22,7 persen. Sisanya, tiga orang atau 13,6 persen, membiarkan kolom umur kosong. Sampai laporan itu terbit, tidak ada yang bisa mengembalikan angka yang hilang tersebut.
Tim penulis tidak menyembunyikannya. “Beberapa keterbatasan kegiatan ini mencakup jumlah responden yang relatif sedikit, data usia yang hilang, dan keterbatasan waktu yang mengurangi efektivitas proses pendampingan,” tulis Najmiatul Fitria, penulis korespondensi dari Departemen Farmakologi dan Farmasi Klinis Universitas Andalas, bersama para penulis lainnya di bagian akhir laporan — beberapa halaman setelah kompor dan wajan itu didaftar sebagai alat kegiatan.
Keterbatasan itu bukan urusan administratif. Dua puluh dua peserta di satu kelurahan tidak mewakili Padang Panjang, apalagi Sumatera Barat atau Indonesia. Tidak ada kelompok pembanding, sehingga kenaikan nilai tidak bisa sepenuhnya dipisahkan dari efek mengerjakan lima soal yang sama dua kali dalam satu hari yang sama. Pasca-tes pun diambil segera setelah sesi berakhir, bukan sebulan atau setahun kemudian.
Yang lebih mendasar: tidak ada satu pun anak yang diukur. Tinggi badan, berat badan, dan status gizi balita di kelurahan itu tidak pernah masuk ke dalam data. Yang diukur adalah apa yang diketahui orang dewasa tentang daun kelor pada satu hari, bukan apa yang terjadi pada tubuh anak setelah berbulan-bulan mengonsumsi sesuatu. Kenaikan skor pengetahuan bukan pencegahan stunting, dan laporan itu tidak mengklaim demikian.
Baca juga IC 1101, Galaksi Terbesar yang Pernah Diukur
Tim penulis sendiri menempatkan temuannya pada kerangka Pengetahuan–Sikap–Praktik, model yang justru menegaskan bahwa pengetahuan adalah tahap awal — fondasi bagi perubahan perilaku, bukan perubahan perilaku itu sendiri. Di antara tahu bahwa daun kelor bergizi dan benar-benar memasaknya untuk anak pada hari Selasa yang biasa saja, masih terbentang jarak yang tidak diukur siapa pun pada 4 Oktober 2025.
Meja Itu Lagi
Kegiatan di Gantiang dibiayai Fakultas Farmasi Universitas Andalas lewat hibah pengabdian masyarakat berbasis program studi tahun 2025, lengkap dengan nomor kontrak yang dicantumkan terbuka pada bagian ucapan terima kasih. Persiapannya melibatkan aparat kelurahan dan kader Posyandu setempat, dari koordinasi awal sampai penyusunan materi edukasi serta instrumen pra-tes dan pasca-tes yang kemudian tergeletak di meja itu.
Laporannya sendiri butuh waktu panjang untuk sampai ke pembaca. Naskah dikirim ke redaksi jurnal pada 10 Desember 2025, lebih dari dua bulan sesudah kompor di Gantiang dipadamkan, diterima pada 23 Mei 2026, dan baru terbit pada 30 Juni 2026. Delapan bulan berlalu antara hari ketika lembar pasca-tes dikumpulkan dan hari ketika angka 4,77 itu bisa dibaca orang di luar kelurahan tersebut.
Untuk kelanjutannya, yang direkomendasikan bukan satu hari pelatihan lagi. Yang diminta adalah pendampingan berkelanjutan, latihan mengolah kelor dalam bentuk yang lebih beragam, serta penyatuan kegiatan ke dalam program Posyandu atau Pembinaan Kesejahteraan Keluarga. Kalimat penutup laporan menyebut tujuannya dengan hati-hati: agar pemanfaatan kelor menjadi bagian dari kebiasaan gizi keluarga, bukan peristiwa sekali datang lalu selesai.
Pada akhir hari, benda-benda di meja itu masih sama: kompor, wajan, sisa daun kelor segar, dan bubuk kelor yang tidak habis terpakai. Yang berubah hanya lembar-lembar kertas yang tadi pagi kosong. Kini terisi, rata-rata 4,77 dari lima. Lembar itu membuktikan dua puluh dua orang tahu lebih banyak pada akhir kegiatan ketimbang pada awalnya. Apa yang kemudian benar-benar dimasak di dua puluh dua dapur berbeda tidak tercatat di mana pun.
















