Cekricek.id — Segelas jus buah atau smoothie sehari, ditambah buah dan sayur utuh, menyertai skor depresi yang lebih rendah pada peserta sebuah uji acak terkendali di Inggris. Rata-rata skornya 2,93 poin dari skala 27, dibandingkan 5,45 poin pada kelompok yang meneruskan pola makan biasa.
Dikutip dari ScienceDaily, Minggu (9/8/2026), uji yang dijalankan Newcastle University itu berlangsung empat pekan dan melibatkan 42 orang dewasa yang sebelumnya hanya menyantap dua porsi buah dan sayur atau kurang setiap hari.
Tiga Kelompok, Empat Pekan
Peserta dibagi rata menjadi tiga kelompok berisi 14 orang. Kelompok kontrol meneruskan pola makan seperti biasa. Kelompok kedua diminta mencapai lima porsi buah dan sayur sehari dari bahan utuh. Kelompok ketiga mengejar target yang sama, tetapi satu porsinya diganti segelas jus buah seratus persen atau smoothie.
Selisih skor depresi antara kelompok peminum jus dan kelompok kontrol tercatat 2,52 poin — oleh para penelitinya sendiri disebut sederhana tetapi bermakna secara statistik. Kedua kelompok intervensi menambah asupan serat harian sekitar delapan sampai sepuluh gram. Suasana hati diukur dengan kuesioner baku PHQ-9 untuk gejala depresi dan GAD-7 untuk kecemasan.
“Temuan bahwa peminum jus buah mengalami penurunan skor depresi itu menjanjikan dan layak ditelusuri lebih jauh,” kata Oliver Shannon, peneliti di Newcastle University.
PHQ-9 dan GAD-7 adalah kuesioner penapisan yang lazim dipakai di layanan primer. Keduanya mengukur gejala yang dilaporkan sendiri oleh responden dalam dua pekan terakhir, dan skor tinggi menjadi dasar rujukan — bukan diagnosis gangguan jiwa.
Empat Puluh Dua Orang, Empat Pekan
Ukuran studi ini menetapkan batas yang jelas pada seberapa jauh angkanya boleh dibawa. Empat puluh dua peserta yang terbagi menjadi tiga kelompok berarti setiap kelompok hanya berisi belasan orang, dan pengamatan berhenti pada pekan keempat. Uji sependek itu belum bisa menunjukkan apakah perubahan suasana hati bertahan, apalagi apakah jus yang menyebabkannya.
Para peneliti mencatat tidak menemukan efek buruk pada penanda kesehatan metabolik meski jus buah mengandung gula, tetapi mereka juga menegaskan efek jangka panjangnya belum diteliti.
“Solusi yang sederhana dan murah, seperti minum segelas kecil jus buah seratus persen atau smoothie setiap hari, bisa membantu orang mencapai lima porsi sehari,” ujar Courtney Neal, peneliti di University of Liverpool yang sebelumnya bekerja di Newcastle University.
Peserta dari ketiga kelompok sama-sama menerima uang sepuluh pound sterling setiap pekan selama uji berlangsung, sementara dua kelompok intervensi juga memperoleh materi edukasi tentang pola makan sehat.
Tambahan serat delapan sampai sepuluh gram sehari pada kedua kelompok intervensi menjadi salah satu perubahan yang paling terukur. Serat memberi makan bakteri usus, dan hubungan antara komposisi bakteri usus dan suasana hati adalah salah satu jalur yang selama ini dijajaki peneliti gizi — meski uji ini sendiri tidak memeriksa isi usus pesertanya.
Laporan Ilmiahnya
Hasilnya dipaparkan Courtney Neal bersama G. Lietz, K. Brandt, A. W. Watson, dan Oliver M. Shannon dari Newcastle University lewat artikel Including fruit juice and smoothies within 5-a-day fruit and vegetable intake recommendations: a randomised controlled trial investigating impact on levels of intake, mood and markers of health dalam jurnal British Journal of Nutrition pada 2026.
Anjuran lima porsi buah dan sayur sehari sudah lama menjadi patokan gizi masyarakat di Inggris, dan perdebatan apakah jus boleh dihitung sebagai salah satu porsinya belum selesai. Studi ini menambah satu bahan pertimbangan ke perdebatan itu, bukan menutupnya.





















