Cekricek.id — Di hampir setiap sekolah, murid yang dianggap sedang bermasalah adalah murid yang terlihat bermasalah: nilainya jatuh, absennya menumpuk, atau namanya muncul di catatan guru piket. Murid yang duduk rapi di bangku ketiga dan mengumpulkan tugas tepat waktu jarang masuk daftar siapa pun. Padahal tekanan psikologis pada remaja kerap tampil dalam bentuk yang jauh lebih sunyi, mulai dari konsentrasi yang menurun sampai partisipasi yang meredup di kelas. Kejanggalan itu baru terlihat ketika sebuah sekolah berhenti menebak dan mulai mengukur, lalu menemukan bahwa kelompok yang paling banyak menyimpan gejala bukan kelompok yang selama ini diawasi.
Pengukuran seperti itu berlangsung di SMK Negeri 1 Lembah Gumanti, Alahan Panjang, Kabupaten Solok, pada 28 Mei 2025. Tim pengabdian masyarakat Departemen Keperawatan Jiwa dan Komunitas, Fakultas Keperawatan Universitas Andalas, yang dipimpin Bunga Permata Wenny bersama Rika Sarfika, Feri Fernandes, dan Randy Refnandes, meminta 225 siswa kelas XI mengisi satu kuesioner sebelum penyuluhan dimulai. Laporannya kemudian terbit dengan judul School-Based Early Detection, Mental Health Education, and Youth Mental Health Cadre Orientation for Adolescents di jurnal Warta Pengabdian Andalas Volume 33 Nomor 2 tahun 2026, sekitar setahun setelah kegiatannya berlangsung.
Rancangan kegiatannya perlu disebut lebih dulu supaya hasilnya tidak salah dibaca. Ini bukan survei epidemiologi dan bukan uji klinis, melainkan program pengabdian masyarakat satu hari yang datanya diolah secara deskriptif: 225 siswa dari satu sekolah, satu titik waktu, tanpa penarikan sampel acak, tanpa kelompok pembanding, dan tanpa pengukuran sebelum-sesudah. Pesertanya 157 siswa perempuan (69,8 persen) dan 68 siswa laki-laki (30,2 persen), tersebar cukup merata di empat jurusan: Manajemen Perkantoran dan Layanan Bisnis 62 siswa, Tata Busana 61 siswa, Perhotelan 52 siswa, serta Kuliner 50 siswa. Sekolah itu sendiri yang lebih dulu menyebut empat kekosongan layanannya, salah satunya ketiadaan data terstruktur tentang kesehatan jiwa muridnya.
Cara Rata-Rata Kelas Menyembunyikan Sebagian Muridnya
Baris pertama hasil kuesioner itu terlihat menenangkan, dan justru di situ letak jebakannya. Skor rata-rata ketiga domain sama-sama rendah: depresi 1,476, kecemasan 1,720, dan stres 1,396, masing-masing dengan simpangan baku di bawah 1,1. Sebuah sekolah yang hanya membaca baris rata-rata akan sampai pada satu kesimpulan yang terdengar melegakan, bahwa keadaan murid-muridnya wajar dan tidak menuntut tindakan apa pun. Rata-rata memang bekerja begitu. Ia meratakan yang tinggi dengan yang rendah sampai keduanya lenyap di dalam satu angka tunggal yang tidak mewakili siapa-siapa secara khusus.
Yang membuatnya rumit adalah rentang skornya, dan rentang itulah yang membongkar ketenangan tadi. Nilai depresi yang dilaporkan siswa membentang dari 0 sampai 17, kecemasan dari 0 sampai 16, dan stres dari 0 sampai 19, sementara nilai rata-ratanya tetap bertengger di kisaran satu koma sekian. Sebaran selebar itu tidak mungkin dihasilkan sekelompok remaja yang keadaannya seragam. Ia hanya muncul kalau ada sebagian siswa yang skornya berjarak jauh dari teman sekelasnya, sementara mayoritas berada dekat nol dan menarik angka rata-rata kelas ke bawah.
Baca juga Kesehatan Jantung Perempuan: Skor Naik, Risiko Tetap
Karena itu, kuesioner semacam ini tidak dibaca lewat rata-rata melainkan lewat pengelompokan kategori, dan hasilnya berubah wajah begitu skor dipilah satu per satu. Sembilan puluh siswa atau 40,0 persen berada di atas kategori normal untuk kecemasan, lima puluh enam siswa atau 24,9 persen untuk depresi, dan lima puluh satu siswa atau 22,7 persen untuk stres. Temuan itulah yang menurut tim penulis menuntut tindak lanjut per individu, bukan pengamatan di depan kelas. Mereka menyatakannya tanpa berputar: “Meskipun rata-rata kelompok relatif rendah, rentang skor yang lebar menunjukkan bahwa sebagian siswa melaporkan gejala yang jauh lebih tinggi.”
Dua Puluh Satu Pertanyaan yang Hanya Mengukur Gejala
Alat yang dipakai bernama Indonesian Depression Anxiety Stress Scales for Youth atau IDASS-Y, sebuah kuesioner laporan diri berisi 21 butir pertanyaan yang terbagi rata menjadi tujuh butir depresi, tujuh butir kecemasan, dan tujuh butir stres. Tiap butir dinilai dari 0 sampai 3, lalu skor dijumlahkan di dalam domainnya masing-masing tanpa dicampur antardomain; makin tinggi jumlahnya, makin berat gejala yang dilaporkan siswa. Versi aslinya, DASS-Y, memang dikembangkan khusus untuk anak dan remaja oleh Szabo dan Lovibond pada 2022, bukan diturunkan begitu saja dari kuesioner orang dewasa.
Versi Indonesianya sudah melewati pengujian sebelum dipakai di lapangan, dan itu yang membuat angkanya bisa dipertanggungjawabkan sebagai hasil skrining. Evaluasi psikometrik yang dilaporkan Rika Sarfika dan kolega pada 2024 mendukung struktur tiga faktornya dengan indeks validitas isi 0,95, sementara koefisien alfa Cronbach tercatat 0,897 untuk depresi, 0,893 untuk kecemasan, 0,884 untuk stres, dan 0,948 secara keseluruhan. Di sekolah itu, kuesioner dibagikan sebelum sesi penyuluhan dimulai, memakai instruksi baku, dengan jawaban yang ditangani secara rahasia dan kategori keparahan yang ditetapkan mengikuti panduan penyekoran resminya.
Persoalannya, alat ini punya batas yang tegas dan batas itu yang paling sering dilanggar orang awam. IDASS-Y mengukur gejala yang dilaporkan sendiri oleh siswa, bukan menegakkan diagnosis, dan hasilnya dipakai tim untuk memetakan tingkat gejala serta kebutuhan dukungan, bukan untuk menempelkan label gangguan jiwa pada seorang remaja. Identitas dan hasil individual dilindungi dari pengumuman terbuka maupun pelabelan. Siswa yang masuk kategori sedang hingga sangat berat direkomendasikan menjalani tindak lanjut rahasia bersama guru bimbingan konseling, wali kelas, orang tua bila memungkinkan, dan tenaga kesehatan yang berkualifikasi.
Baca juga Kalimat "Ini Normal" dari Tenaga Kesehatan Bikin Pasien Enggan Berobat
Mengapa Kecemasan Muncul Lebih Sering daripada Dua Domain Lain
Begitu dipilah per kategori, ketiga domain bergerak dengan pola yang berbeda satu sama lain. Pada domain depresi, 169 siswa (75,1 persen) masuk kategori normal, 22 siswa (9,8 persen) ringan, 23 siswa (10,2 persen) sedang, 5 siswa (2,2 persen) berat, dan 6 siswa (2,7 persen) sangat berat. Pada stres, kategori normal justru paling lapang dengan 174 siswa atau 77,3 persen, dan hanya enam siswa yang masuk kategori berat maupun sangat berat. Kecemasan bergerak ke arah sebaliknya: hanya 135 siswa atau 60,0 persen yang berada di kategori normal.
Selisih itu makin jelas di kategori yang lebih berat, tempat kebutuhan tindak lanjut sebenarnya ditentukan oleh sekolah. Kategori sedang sampai sangat berat tercatat pada 54 skor kecemasan (24,0 persen), 34 skor depresi (15,1 persen), dan 28 skor stres (12,4 persen). Tim penulis memberi peringatan yang jarang muncul dalam laporan sejenis: angka per domain itu bisa saling tumpang tindih karena satu siswa dapat melaporkan gejala di lebih dari satu domain sekaligus, sehingga ketiganya tidak boleh dijumlahkan sebagai hitungan jumlah siswa dan tindak lanjut harus disusun per orang.
Dominasi kecemasan sejalan dengan gambaran nasional, meski jalan menuju kedua angka itu sama sekali berbeda. Survei Kesehatan Mental Remaja Nasional Indonesia atau I-NAMHS mencatat 34,9 persen remaja berusia 10 sampai 17 tahun mengalami masalah kesehatan jiwa dalam dua belas bulan terakhir, 5,5 persen memenuhi kriteria gangguan, dan gangguan kecemasan menjadi yang terbanyak didiagnosis pada 3,7 persen, disusul depresi mayor 1,0 persen. Angka 40,0 persen di Alahan Panjang tidak boleh disandingkan langsung dengan 3,7 persen itu karena instrumen, ambang batas, cara penarikan sampel, dan tujuan penafsirannya berbeda.
Yang tidak dikerjakan program ini adalah mencari penyebabnya, dan itu perlu ditegaskan sebelum pembaca melangkah terlalu jauh. Tim penulis hanya menyebut sejumlah kemungkinan yang masuk akal bagi populasi sekolah kejuruan — tuntutan penilaian akademik, beban kompetensi praktik, hubungan dengan teman sebaya, harapan keluarga, serta ketidakpastian soal pekerjaan dan pendidikan lanjutan. Semua itu ditempatkan sebagai hipotesis untuk penelitian berikutnya, bukan sebagai sebab yang sudah terbukti, karena program ini memang tidak mengukur satu pun faktor penentu maupun konteks yang melatarbelakangi skor siswa.
Baca juga Segelas Jus Buah Sehari Menyertai Skor Depresi Lebih Rendah pada Uji Empat Pekan
Kader yang Menyambungkan, Bukan yang Menangani
Dari peta gejala itulah bentuk tanggapannya disusun, dan tanggapannya sengaja tidak seragam untuk semua siswa. Di lapis universal, seluruh 225 peserta menerima penyuluhan tatap muka berisi pengenalan tanda peringatan dini, stigma, cara mencari pertolongan, dan pilihan rujukan, disampaikan lewat presentasi interaktif, diskusi terpimpin, tanya jawab, leaflet, serta peragaan teknik koping sederhana berupa napas dalam, relaksasi otot progresif, hipnosis lima jari, dan koping spiritual. Teknik-teknik itu diperkenalkan sebagai pengenalan keterampilan awal, bukan sebagai pengganti pemeriksaan dan penanganan tenaga profesional.
Di lapis berikutnya, sekolah menyiapkan Kader Kesehatan Jiwa Remaja, dan justru pembatasan perannya yang paling banyak dibahas dalam laporan itu. Siswa terpilih diorientasikan sebagai pendidik sebaya sekaligus penyambung awal menuju orang dewasa dan tenaga profesional, bukan sebagai konselor, dengan pemilihan yang mempertimbangkan keaktifan, minat, potensi komunikasi, dan rekomendasi sekolah. Materinya mencakup cara berbagi informasi yang akurat, mendengarkan tanpa menghakimi, menjaga kerahasiaan, serta mengenali batas peran. Kalimat penulis soal batas itu tegas: “Kader tidak boleh mendiagnosis, melakukan terapi, atau menangani situasi berisiko tinggi secara mandiri.”
Di sinilah penjelasan program ini berhenti, dan penulisnya sendiri yang memasang rambunya. Hasil skrining berasal dari satu sekolah pada satu titik waktu sehingga tidak bisa dipakai menetapkan prevalensi klinis, hubungan sebab-akibat, atau gambaran remaja Indonesia pada umumnya. Tidak ada uji sebelum-sesudah, kelompok pembanding, maupun alat ukur baku untuk literasi, stigma, perilaku, keterampilan koping, dan kompetensi kader. Jumlah kader yang diorientasi bahkan tidak tercatat, begitu pula durasi tiap sesi, dan umpan balik lisan diakui tidak dapat menggantikan pengukuran yang tervalidasi.
Karena itu, klaim yang sah dari kegiatan ini hanya sebatas apa yang benar-benar terdokumentasi: penyuluhan tersampaikan, peragaan koping berlangsung, orientasi kader diberikan, dan peta gejala tersedia untuk dipakai sekolah. Kejanggalan di awal tadi kini punya penjelasannya. Murid yang paling banyak memenuhi kategori di atas normal justru murid yang gejalanya tidak berbunyi di ruang kelas, dan satu-satunya cara sekolah mengetahuinya adalah bertanya langsung kepada semua orang, lalu menyiapkan jalur rujukan rahasia yang tertulis bagi mereka yang skornya menonjol.
















