Cekricek.id — Lebih dari 16.000 dosis vaksin Ervebo tiba di Republik Demokratik Kongo (RD Kongo) pada Jumat (21/08/2026) malam, menjadi bagian dari upaya menekan wabah Ebola terparah dalam sejarah negara tersebut. Menurut laporan Al Jazeera, Sabtu (22/08/2026), sebanyak 16.250 dosis mendarat di Kinshasa, disusul pengiriman lanjutan pekan depan hingga total mencapai 70.000 dosis yang dijanjikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) beserta mitra internasional.
Vaksin tersebut dikirim di tengah lonjakan kasus yang belum mereda sejak wabah dinyatakan pada pertengahan Mei 2026, meski diyakini penyebarannya sudah dimulai beberapa minggu sebelum pengumuman resmi itu. Pengiriman dosis pertama ini menjadi salah satu langkah konkret pertama dari komitmen internasional untuk membantu RD Kongo menghadapi wabah yang oleh sejumlah pihak disebut sebagai yang paling serius sepanjang sejarah negara tersebut.
Kasus Terus Bertambah
Menurut laporan Al Jazeera, Sabtu (22/08/2026), hingga saat ini tercatat hampir 5.300 kasus terkonfirmasi dan lebih dari 2.500 orang meninggal dunia akibat wabah tersebut. Laporan itu turut mengutip peringatan Perserikatan Bangsa-Bangsa pekan ini bahwa penularan terus menyebar dengan sangat cepat di berbagai wilayah RD Kongo.
Baca juga RD Kongo dan M23 Sepakati Peta Jalan Damai
Menteri Kesehatan RD Kongo, Samuel Roger Kamba, mengatakan kepada wartawan bahwa Ervebo bukan vaksin baru bagi negaranya. “Vaksin ini telah digunakan beberapa kali sebelumnya, termasuk dalam skala yang sangat besar,” kata Kamba, merujuk pada penggunaan Ervebo selama wabah Ebola 2018 hingga 2020 di RD Kongo.
Vaksin untuk Galur yang Berbeda
Ervebo pada awalnya dikembangkan dan disetujui untuk melawan galur Zaire dari virus Ebola. Sementara itu, wabah yang tengah melanda RD Kongo saat ini disebabkan oleh galur Bundibugyo, yang hingga kini belum memiliki vaksin maupun terapi yang disetujui secara resmi.
Baca juga Brent Sentuh US$94,71, Tertinggi dalam Sebulan
Sebanyak 20.000 dari total 70.000 dosis yang dijanjikan akan digunakan dalam uji klinis tahap lanjut untuk menguji efektivitas Ervebo terhadap galur Bundibugyo yang tengah beredar. Data awal dari uji coba pada hewan menunjukkan vaksin ini berpotensi memberikan perlindungan, meski buktinya pada manusia masih terbatas.
Baca juga Hakim AS Batalkan Larangan Visa Imigran 75 Negara
Uji klinis tersebut dianggap penting karena selama ini belum ada satu pun vaksin yang secara resmi terbukti efektif melawan galur Bundibugyo. Para peneliti berharap data yang dikumpulkan dari lapangan RD Kongo dapat memberi jawaban lebih pasti soal seberapa besar perlindungan yang bisa diberikan Ervebo terhadap galur tersebut.
Harapan di Tengah Ketidakpastian
Epidemiolog sekaligus profesor kedokteran di University of East Anglia, Paul Hunter, menilai ada dasar ilmiah untuk berharap Ervebo tetap bermanfaat meski dikembangkan untuk galur berbeda. “Ada sejumlah bukti bahwa vaksin ini bisa memiliki nilai,” tutur Hunter.
Ia menjelaskan bahwa studi pada hewan yang dilakukan sekitar sepuluh tahun lalu menunjukkan vaksin untuk galur Zaire mampu mengurangi risiko kematian akibat virus tersebut. “Kami mengetahui dari studi pada hewan yang dilakukan sepuluh tahun lalu bahwa vaksin untuk galur Zaire, yang merupakan galur dari virus ini, memang mengurangi risiko kematian,” jelas Hunter. “Ada pula sejumlah studi pada manusia yang menunjukkan adanya reaksi silang tertentu, tetapi itu baru sebatas spekulasi pada tahap ini.”
Pemerintah RD Kongo bersama WHO dan Africa Centres for Disease Control and Prevention terus memperluas jangkauan vaksinasi ke wilayah-wilayah yang paling terdampak sembari menunggu kedatangan sisa dosis pada pekan-pekan mendatang. Ribuan dosis tambahan itu diharapkan mampu memperlambat laju penyebaran virus yang selama ini terus meningkat di sejumlah provinsi di negara tersebut.
















