- Bera 10 tahun di Ayambori dan bera bekas kebun cokelat 19 tahun di Bremi sama-sama berstatus kesuburan sedang.
- Bera tepi pantai Bremi berstatus rendah, sekelas dengan kebun aktif, dengan tanah yang 99,3 persen pasir.
- Paper menyimpulkan tekstur tanah memengaruhi kesuburan, dan tanah liat lebih baik daripada tanah berpasir.
- Semua lahan bera dinilai dapat diolah kembali, dengan natrium dan kalium sebagai unsur pembatas.
Daftar Isi
- Mengapa Ladang Ditinggalkan Begitu Saja
- Lima Petak di Ayambori dan Bremi yang Dibandingkan
- Hasil yang Tidak Mengikuti Lamanya Masa Bera
- Karbon Organik dan Daya Ikat Hara yang Menjadi Penentu
- Tanah Liat Menahan, Tanah Pasir Melepaskan
- Bahan Organik yang Cepat Terurai di Semua Petak
- Unsur yang Masih Kurang dan Saran Para Peneliti
Tanah yang lelah diistirahatkan, dan makin lama ia beristirahat, makin pulih pula kesuburannya. Begitulah asumsi yang melekat pada lahan bera, sebutan bagi lahan tidak produktif yang ditinggalkan peladang supaya tanahnya subur kembali. Di dua kampung suku Arfak di Manokwari, asumsi itu diuji dengan bor tanah, dan hasilnya tidak sejalan: sepetak bera di tepi pantai sama rendah status kesuburannya dengan kebun yang masih digarap.
Pengujian itu dikerjakan Heru Joko Budirianto dari Program Studi Biologi FMIPA Universitas Papua bersama Insar Damopolii dari Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Papua, Manokwari. Keduanya melaporkannya dalam artikel Impact of the time of returning soil fertility in the fallow land of Arfak Tribe in West Papua yang dimuat Jurnal Biologi Tropis volume 22 nomor 2 tahun 2022. Yang mereka cari sederhana: apakah lamanya sebuah ladang ditinggalkan memang sejalan dengan kembalinya kesuburan tanah.
Mengapa Ladang Ditinggalkan Begitu Saja
Suku Arfak, tulis kedua peneliti, adalah suku asli yang berdomisili di Manokwari dan menggantungkan hidup terutama pada bertani. Membuat pagar, memilih bibit, sampai mengelola kebun masih dikerjakan dengan cara tradisional. Tidak ada pola tanam tertentu yang dipakai. Yang berjalan adalah peladangan berpindah, yakni masyarakat berpindah dan membiarkan lahan lama supaya kesuburannya meningkat.
Karena itu, lahan yang tidak lagi produktif ditinggalkan beberapa lama, bahkan tanpa batas waktu tertentu. Bahan kimia nyaris tidak dipakai, ketergantungan pada iklim setempat tinggi, dan peningkatan unsur hara hanya dilakukan dengan meramu tumbuhan liar, ciri yang menurut paper umum pada peladang di Papua. Bera yang sudah tua baru dibuka lagi bila tanahnya dianggap subur atau produktif kembali.
Persoalannya, data tentang kesuburan bekas kebun suku Arfak menurut paper ini sangat minim. Di dua kampung yang diteliti, lahan yang diberakan tidak mempunyai waktu tertentu untuk diolah kembali. Para peneliti juga mengingatkan bahwa pemberaan tidak sepenuhnya berdampak baik bagi tanah, sebab vegetasi, tekstur, dan lama pemberaan memengaruhi kandungan humus tanah. Dari situ mereka berangkat dengan satu asumsi yang hendak diperiksa, yaitu bahwa dampak bera berbanding lurus dengan pulihnya kesuburan.
Baca juga Mas Kawin Senjata Api Suku Arfak dan Ancaman UU Darurat 1951
Lima Petak di Ayambori dan Bremi yang Dibandingkan
Lokasinya dua kampung di Distrik Manokwari Utara, Kabupaten Manokwari, Papua Barat. Kampung Ayambori digambarkan relatif datar dan didominasi batuan karang, dengan bekas kebun yang sudah berumur 10 tahun. Kampung Bremi punya bekas kebun berumur 19 tahun dan dua rupa lahan tinggalan, yaitu bekas kebun cokelat dan petak di tepian pantai, tempat warga Arfak setempat juga menanam ubi-ubian dan pisang.
Di Ayambori tanah diambil dari dua tempat: bera berumur 10 tahun dan sebuah kebun campur yang masih aktif. Kebun aktif itu dijadikan pembanding karena kampung ini tidak memiliki hutan primer. Di Bremi ada tiga tempat, yakni bera bekas kebun cokelat berumur 19 tahun, bera tepi pantai, dan hutan primer sebagai pembanding. Dengan dua pembanding itu, para peneliti hendak mengukur seberapa efektif pemberaan mengembalikan kesuburan.
Cara kerjanya ringkas. Di tiap petak, tanah sedalam 0–20 sentimeter dibor di 10 titik acak, dicampur menjadi satu contoh, lalu dikirim ke laboratorium tanah SEAMEO BIOTROP di Bogor. Status kesuburan kemudian ditetapkan dengan kriteria Pusat Penelitian Tanah tahun 1995, yang menimbang lima hal: karbon organik, fosfor, kalium, kapasitas tukar kation atau KTK, dan kejenuhan basa.
Hasil yang Tidak Mengikuti Lamanya Masa Bera
Asumsi awalnya, dampak pemberaan berbanding lurus dengan kembalinya kesuburan, dan petak-petak bera di Bremi disebut lebih lama ditinggalkan daripada bera di Ayambori. Hasil laboratorium tidak mengikuti urutan itu. Bera 10 tahun di Ayambori, bera bekas kebun cokelat, dan hutan primer di Bremi sama-sama berstatus kesuburan sedang. Kebun aktif Ayambori dan bera tepi pantai Bremi sama-sama berstatus rendah.
Petak berumur 10 tahun dan petak berumur 19 tahun berada di kelas yang sama, sedangkan bera tepi pantai tertinggal sekelas dengan kebun yang masih ditanami. Simpulan paper pun lugas: masa pemberaan tidak berpengaruh terhadap pengembalian kesuburan tanah di Ayambori dan Bremi, yang statusnya sedang kecuali pada bekas kebun tepi pantai. Penyebab di dua petak berstatus rendah itu, menurut paper, tidak sama.
Karbon Organik dan Daya Ikat Hara yang Menjadi Penentu
Dua petak berstatus rendah itu jatuh karena dua ukuran yang sama, yaitu karbon organik dan KTK, padahal fosfor potensial, kalium potensial, dan kejenuhan basanya tergolong sedang sampai sangat tinggi. Karbon organik kebun aktif 1,77 persen dan bera tepi pantai 1,76 persen, nyaris kembar. Bandingkan dengan 2,55 persen di bera 10 tahun, 3,42 persen di hutan primer, dan 4,25 persen di bekas kebun cokelat.
KTK mengikuti pola serupa: 13,53 dan 14,47 cmol per kilogram di dua petak berstatus rendah, 20,78 di bera Ayambori, lalu melonjak ke 44,09 dan 48,48 di bekas kebun cokelat dan hutan primer Bremi. Paper menjelaskan mengapa ukuran ini penting. KTK menandai kemampuan tanah menahan hara dan mengurangi hara yang hilang tercuci, dan besarnya berkaitan erat dengan masukan bahan organik.
Bahan organik itu sendiri datang dari serasah yang disumbangkan vegetasi, dan di sinilah dua petak tadi berpisah jalan. Bera tepi pantai menanggung cekaman lingkungan yang tinggi berupa suhu tinggi, kelembapan rendah, dan salinitas tanah, sehingga keragaman vegetasinya rendah dan masukan karbonnya ikut sedikit. Di kebun aktif sebabnya lain: karbon rendah karena serapan yang tinggi oleh vegetasi untuk fotosintesis.
Baca juga Orang Rimba Lari ke Hutan Saat Pandemi, Ubi Kayu Tetap Cukup
Tanah Liat Menahan, Tanah Pasir Melepaskan
Paper juga memeriksa butiran tanahnya. Bera tepi pantai Bremi hampir seluruhnya pasir, 99,3 persen, dengan liat hanya 0,4 persen. Bekas kebun cokelat sebaliknya: liatnya 45,4 persen dan pasirnya 15,9 persen, sedangkan hutan primer berliat 41,9 persen dan tergolong liat berdebu. Dua petak Ayambori berada di tengah, sama-sama berkelas lempung liat berpasir.
Pada tanah berpasir, hara lebih mudah hilang. Paper menyebut nitrogen di bera tepi pantai cepat tercuci air hujan karena teksturnya berpasir, terlebih nitrogen berbentuk nitrat yang sangat mudah tercuci saat hujan sehingga ketersediaannya dalam tanah rendah. Sebaliknya, kadar liat disebut sebagai faktor penting penahan kation tanah. Tanah liat berkorelasi positif dengan tingginya KTK dan karbon organik, sedangkan pada tanah berpasir korelasinya negatif.
Paper lalu membandingkan dua petak Bremi. Hutan primer disebut sebagai lahan dengan usia paling lama, tetapi karbon organiknya lebih rendah daripada bekas kebun cokelat. Para peneliti menautkannya pada tekstur, sebab tanah bekas kebun cokelat berkelas liat sementara hutan primer liat berdebu, dan tanah liat berpeluang lebih besar menyerap serta mengangkut karbon organik.
Simpulan itu mereka rumuskan dalam satu kalimat pendek. “Tekstur tanah mempengaruhi kesuburan tanah, dimana liat lebih baik daripada berpasir,” tulis Heru Joko Budirianto dan Insar Damopolii. Tekstur pula yang dipakai paper untuk menerangkan soal lereng: hutan primer Bremi berlereng 30–45 persen, tetapi magnesium dan nitrogennya tetap tinggi, yang menurut paper kemungkinan karena pasirnya lebih sedikit daripada liatnya.
Bahan Organik yang Cepat Terurai di Semua Petak
Ada satu hal yang seragam di kelima petak, yaitu rasio karbon terhadap nitrogen yang rendah, berkisar dari 3 di bekas kebun cokelat sampai 9 di kebun aktif. Paper membacanya sebagai tanda bahwa pelapukan dan penguraian bahan organik berlangsung cepat. Rasio itu, tulis para peneliti, mengindikasikan seluruh lahan bera berkembang dengan baik walau derajat kesuburannya berbeda, sebab rasio yang tinggi justru berakibat buruk bagi lahan.
Keasaman tanahnya pun tidak menjadi penghalang. Nilai pH bergerak dari 6,2 yang agak masam di bera tepi pantai, netral di kebun aktif dan dua petak Bremi lainnya, sampai 7,8 yang agak alkalis di bera Ayambori. Paper merujuk kisaran 5,51–7,09 sebagai lahan tanpa persoalan, lalu menafsirkan bahwa masa bera yang sudah berjalan mampu menyediakan unsur makro maupun mikro yang dibutuhkan tumbuhan.
Dari situ keluar kabar yang paling dekat dengan kepentingan peladang. “Olehnya, seluruh lahan yang diberakan dapat diolah kembali oleh masyarakat suku Arfak,” tulis kedua peneliti. Kalium tersedia di semua petak juga dilaporkan melampaui ambang minimal 0,2 me per 100 gram tanah. Kesimpulan paper juga menyatakan semua lahan bekas kebun memiliki kapasitas unsur hara yang tersedia bagi tanaman, termasuk petak tepi pantai yang berstatus rendah.
Baca juga Sagu Marind-Anim di Merauke Kini Hanya Dimasak Saat Acara Adat
Pada satu ukuran, yaitu kalium potensial, paper menemukan keselarasan dengan lamanya bera: makin lama lahan ditinggalkan, makin besar kandungannya. Angkanya 141 dan 151 miligram per 100 gram di bekas kebun cokelat dan hutan primer Bremi serta 64 di bera tepi pantai, ketiganya sangat tinggi. Di Ayambori nilainya 35 pada bera 10 tahun dan 36 pada kebun aktif, sama-sama sedang.
Batuan induk juga ikut berbicara. Kalsium di bera Ayambori sangat tinggi, 21,05 cmol per kilogram, dan paper mengaitkannya dengan batuan karang yang mendominasi kampung itu. Fosfor tersedianya pun tertinggi di antara kelima petak, 72,7 ppm. Dari data kation itu, paper menyatakan pengolahan tanah sesudah masa pemberaan sudah bisa dilakukan.
Unsur yang Masih Kurang dan Saran Para Peneliti
Paper juga menunjuk apa yang perlu ditambahkan bila lahan dibuka lagi. Di Ayambori, kalium dan natrium mudah tercuci dan menjadi faktor pembatas; di Bremi faktor pembatasnya natrium. Para peneliti menyarankan pupuk kalium dan natrium untuk Ayambori serta pupuk yang mengandung natrium untuk Bremi. Saran itu sejalan dengan harapan yang ditulis di awal kajian, yakni agar masyarakat mengetahui unsur tanah mana yang perlu ditambah saat mengelola lahan.
Untuk petak tepi pantai, kesimpulan paper menyebut status rendahnya disebabkan cekaman lingkungan seperti iklim dan salinitas. Jumlah dan mutu serasah, yang dipakai untuk menerangkan karbon dan nitrogen, dinyatakan tidak diukur dalam penelitian ini. Para peneliti menutup dengan menyarankan kajian lanjutan tentang pengaruh mikroba terhadap kesuburan tanah di lahan bera.
Di Ayambori dan Bremi, menurut paper, ladang yang ditinggalkan dapat diolah kembali, tetapi masa pemberaan tidak berpengaruh pada kembalinya kesuburan. Bekas kebun cokelat bertanah liat menyimpan karbon organik paling banyak, sedangkan bera berpasir di tepi pantai berstatus rendah. Yang berpengaruh, simpul kedua peneliti, adalah tekstur tanah, dengan liat lebih baik daripada pasir.















