Perikatan Perhimpunan Istri Indonesia (PPII)

Kamus Sejarah Indonesia -

Ilustrasi: Kamus Sejarah Indonesia. [Creator Cekricek.id]

Apa Itu Perikatan Perhimpunan Istri Indonesia (PPII)?

Perikatan Perhimpunan Istri Indonesia (PPII) adalah salah satu organisasi wanita yang dibentuk pada masa kolonial Hindia Belanda dan banyak memfokuskan diri pada perbaikan kondisi masyarakat Hindia Belanda.

Kondisi masyarakat di Hindia Belanda pada masa sebelum 1900 telah menunjukkan perubahan ke arah penurunan kesejahteraan.

Kondisi demikian ini menjadikan pemerintah Hindia Belanda satu badan yang dapat disalahkan sewaktu-waktu dengan luasnya persebaran kemiskinan dan taraf hidup yang menurun.

Dalam tahun-tahun itu, kebijakan Politik Etis kemudian diperkenalkan di Hindia Belanda. Kebijakan etis yang juga merambah persoalan pendidikan ini kemudian turut pula menyentuh kaum wanita di Hindia Belanda.

Kaum wanita yang telah terbuka pemikirannya turut pula menyebarkan semangat persatuan di samping terbentuk pula gerakan-gerakan pemuda.

Gerakan wanita yang paling awal adalah perjuangan individu dalam diri R. A. Kartini di Jepara. Hal ini kemudian berkembang pula dalam skala perkumpulan-perkumpulan.

Perikatan Perhimpoenan Istri Indonesia (PPII) kemudian turut pula mewarnai gerakan wanita di Hindia Belanda. Embrio awal pembentukan PPII dapat ditelusuri pada Kongres Perempuan Indonesia pada 22-25 Desember 1928 saat beberapa perkumpulan wanita di Hindia Belanda kemudian membentuk satu persatuan bernama Perikatan Perkoempoelan Perempoean Indonesia (PPPI).

Dua puluh perkumpulan kemudian bergabung di bawah PPPI. Beberapa hari setelahnya, di Jakarta, tepatnya pada 28-31 Desember 1928 diadakan lagi kongres PPPI yang memutuskan perubahan nama menjadi Perikatan Perhimpoenan Istri Indonesia (PPII).

PPPI maupun PPII bukan merupakanpersatuan dari dua puluh perkumpulan wanita yang bermacam-macam itu, namun lebih merupakan federasi.

Anggota dari PPPI dan PPII ini di antaranya adalah Wanito Oetomo, Wanita Taman Siswa, Aisiyah, Wanito Katholik, Poetri Indonesia, Jong Islamieten Bond, Dames Afdeeling, Jong Java Dames Afdeeling dan lainnya.

Referensi: Kamus Sejarah Indonesia.

Baca Juga

Ilustrasi dua buku terbuka di meja kayu perpustakaan
Guru Besar Bima dan Boyolali di Meja Bedah Metodologi Sejarah
Ilustrasi balok batu berprasasti dipotret kamera di atas tripod
Sisi Batu yang Tak Pernah Dibaca Akhirnya Terbuka Lewat Fotogrametri
Ilustrasi ruang pertemuan dengan kursi lipat dan meja bermikrofon
Usul Suksesi 1998 Ditolak Tanwir dan Jalan Amien Rais ke PAN
Deretan lampion merah tergantung di bangunan kelenteng
Rayap di Tiang 1771: Klenteng Tertua Semarang Bertahan dari Sumbangan Umat
Hamparan hutan hujan tropis terlihat dari udara
Sejarah Indonesia Masih Jarang Menempatkan Alam sebagai Pelaku
Mushaf Al-Quran terbuka di atas rehal di dalam masjid
Sebelum “Islam, Yes, Partai Islam, No”: Lima Pekan yang Mengubah Nurcholish Madjid