Panji Iskaq Tjokroadisurjo

Panji Iskaq Tjokroadisurjo adalah menteri Dalam Negeri (Kabinet Sukiman- Suwiryo1951-1952), Menteri Perekonomian, salah seorang pendiri Partai Nasional Indonesia kelahiran Ngoro, Jombang 1896.

Panji Iskaq Tjokroadisurjo. . [Foto: Istimewa]

Siapa Panji Iskaq Tjokroadisurjo?

Panji Iskaq Tjokroadisurjo adalah seorang tokoh nasional yang dikenal sebagai mantan Menteri Dalam Negeri (Kabinet Sukiman- Suwiryo 1951-1952) dan Menteri Perekonomian. Ia lahir di Ngoro, Jombang pada tahun 1896. Setelah menyelesaikan Sekolah Kehakiman (1917), Panji melanjutkan studinya di Universitas Leiden, Belanda dan lulus pada tahun 1925. Setelah lulus, ia bekerja sebagai pegawai kehakiman (1917-1922) dan pengacara di Surabaya (1925). Selain itu, Panji juga aktif dalam dunia politik sebagai pendiri dan pengurus Partai Nasional Indonesia, Partai Indonesia dan Partai Indonesia Raya.

Pada masa pendudukan Jepang, Panji menjabat sebagai anggota Chuo Sangi In, Jakarta dan Surabaya-Syu Sangi Kai. Ia pernah melakukan perjalanan ke Jepang bersama 25 utusan dari Jawa lainnya. Namun, Panji Iskaq Tjokroadisurjo tidak memiliki informasi yang lebih jauh dari cut off date yang saya miliki.

elain aktif dalam dunia politik dan hukum, Panji Iskaq Tjokroadisurjo juga dikenal sebagai seorang aktivis sosial dan kemanusiaan. Ia pernah terlibat dalam berbagai gerakan sosial dan organisasi yang berjuang untuk memperjuangkan hak-hak rakyat, seperti organisasi pemuda, organisasi buruh dan organisasi veteran perang.

Ia juga dikenal sebagai salah satu pendiri dan pengurus Yayasan Pendidikan Pancasila yang bergerak dalam bidang pendidikan dan pengembangan sikap nasionalisme, Pancasila dan kebhinekaan.

Selain itu, Panji Iskaq Tjokroadisurjo juga aktif dalam dunia jurnalistik dan menulis beberapa buku yang membahas tentang perjuangan kemerdekaan Indonesia dan pembangunan negara.

Referensi: Kamus Sejarah Indonesia.

Baca Juga

Deretan lampion merah tergantung di bangunan kelenteng
Rayap di Tiang 1771: Klenteng Tertua Semarang Bertahan dari Sumbangan Umat
Hamparan hutan hujan tropis terlihat dari udara
Sejarah Indonesia Masih Jarang Menempatkan Alam sebagai Pelaku
Mushaf Al-Quran terbuka di atas rehal di dalam masjid
Sebelum “Islam, Yes, Partai Islam, No”: Lima Pekan yang Mengubah Nurcholish Madjid
Tumpukan surat kabar lama yang menguning
Iklan yang Menyamar Jadi Berita: Cara Belanda Merayu Kaum Terpelajar ke Lampung
Penari mengenakan busana tradisional Indonesia dalam sebuah pertunjukan
Sepuluh Klaim Budaya dalam Sepuluh Tahun: Bagaimana Indonesia Membalas
Bangunan bergaya kolonial Belanda di kawasan kota tua Jakarta
Dari 17.000 Orang Indo Melarat ke Partai Politik Pertama di Hindia Belanda