Radius Prawiro

Radius Prawiro adalah seorang tokoh penting dalam dunia ekonomi, keuangan, dan perdagangan Indonesia. Ia pernah menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan, Industri, dan Pengawasan Pengembangan pada periode 1988-1992, Menteri Keuangan pada 1983-1988, dan Menteri Perdagangan pada 1973-1983.

Radius Prawiro. [Foto: Istimewa]

Siapa Radius Prawiro?

Radius Prawiro adalah seorang tokoh penting dalam dunia ekonomi, keuangan, dan perdagangan Indonesia. Ia pernah menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan, Industri, dan Pengawasan Pengembangan pada periode 1988-1992, Menteri Keuangan pada 1983-1988, dan Menteri Perdagangan pada 1973-1983.

Selain itu, ia juga pernah menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia pada 1966-1968. Kariernya dimulai dari pendidikan di Nederlandsce Economische Hogeschol di Rotterdam dan menyelesaikan pendidikan di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia di Jakarta.

Setelah lulus, ia mulai meniti karier di bidang keuangan, mulai dari menjadi Pegawai Teknis Direktorat Akuntan Negara pada 1960-1965, Menteri Pemeriksa Keuangan Negara/BPK dan Deputi Menteri Urusan Bank Sentral pada 1965, hingga akhirnya menjadi menteri dalam Kabinet Republik Indonesia.

Radius Prawiro meninggal di Jerman pada usia 76 tahun dan dimakamkan di taman Makam Pahlawan Kalibata.

Radius Prawiro sangat menyukai fotografi dan sepeda motor. Kegemarannya terhadap sepeda motor berawal saat dia bersekolah di Belanda. Namun, kegemaran ini harus dihentikan saat dia menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia karena alasan keamanan. Selain itu, dia juga sangat senang berkebun. Dia sering meluangkan waktu untuk merawat tanaman bersama istrinya, Leonie Supit.

Dalam hidupnya, Radius Prawiro dikaruniai empat anak dari pernikahannya dengan Leonie. Anak-anaknya yaitu Baktinendra, Loka Manya, Triputra Yusni Prawiro, dan Pingkan Riani Putri Prawiro. Namun, Radius Prawiro harus meninggalkan dunia ini akibat penyakit jantung yang dideritanya.

Referensi: Kamus Sejarah Indonesia.

Baca Juga

Deretan lampion merah tergantung di bangunan kelenteng
Rayap di Tiang 1771: Klenteng Tertua Semarang Bertahan dari Sumbangan Umat
Hamparan hutan hujan tropis terlihat dari udara
Sejarah Indonesia Masih Jarang Menempatkan Alam sebagai Pelaku
Mushaf Al-Quran terbuka di atas rehal di dalam masjid
Sebelum “Islam, Yes, Partai Islam, No”: Lima Pekan yang Mengubah Nurcholish Madjid
Tumpukan surat kabar lama yang menguning
Iklan yang Menyamar Jadi Berita: Cara Belanda Merayu Kaum Terpelajar ke Lampung
Penari mengenakan busana tradisional Indonesia dalam sebuah pertunjukan
Sepuluh Klaim Budaya dalam Sepuluh Tahun: Bagaimana Indonesia Membalas
Bangunan bergaya kolonial Belanda di kawasan kota tua Jakarta
Dari 17.000 Orang Indo Melarat ke Partai Politik Pertama di Hindia Belanda