Cekricek.id — Peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan sistem kecerdasan buatan bernama TBScreen.AI untuk mempercepat penapisan tuberkulosis di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar. Sistem itu membaca citra rontgen dada, lalu mengeluarkan skor keyakinan sebagai penanda awal kemungkinan penyakit pada seseorang.
Dikutip dari laman resmi Universitas Gadjah Mada, ugm.ac.id, Jumat (7/8/2026), pengembangan berlangsung selama dua tahun dan sejauh ini memberikan hasil berupa sensitivitas 83 persen serta spesifisitas 87 persen. Sensitivitas menggambarkan kemampuan sistem mengenali orang yang benar-benar sakit, sedangkan spesifisitas menggambarkan kemampuannya untuk tidak menandai orang sehat sebagai pasien. Keduanya dibaca berpasangan karena sebuah alat penapisan bisa saja unggul pada satu sisi tetapi lemah pada sisi lain.
Belum untuk Dipakai Sendirian
Ketua tim peneliti, dr. Antonia Morita Iswari Saktiawati, Ph.D., menegaskan angka tersebut masih berstatus awal. “TBScreen.AI memerlukan proses validasi lebih lanjut agar dapat memastikan tingkat akurasi dan kesiapan penerapannya dalam mendukung pelayanan kesehatan di masyarakat,” katanya.
Skor keyakinan yang dikeluarkan sistem berkisar antara 0 hingga 100 persen. Angka itu bukan kesimpulan diagnosis. Peneliti dalam tim yang sama, Wahyono, S.Kom., Ph.D., menyatakan pembacaan mesin harus ditempatkan sebagai satu masukan di antara sejumlah masukan lain yang dipertimbangkan dokter.
“Hasil skrining tetap harus dipadukan dengan gejala klinis, faktor risiko pasien, penilaian dokter, serta pemeriksaan penunjang lainnya,” ujarnya.
Para pemangku kepentingan yang dilibatkan dalam pengembangan merekomendasikan validasi lanjutan menggunakan 40.000 citra rontgen dada guna mengoptimalkan akurasinya sebelum sistem dipakai lebih luas. Jumlah sebesar itu diperlukan agar kemampuan sistem teruji pada variasi kasus yang jauh lebih beragam daripada data awal. Penggunaannya pun disarankan berjalan beriringan dengan program penemuan kasus aktif tuberkulosis
Baca juga: Dosen Unand Gagas Penguatan Layanan Kesehatan Primer Berbasis Masyarakat di ICHS 2026
yang sudah lebih dahulu berjalan.
Empat Hambatan yang Ditemukan
Riset ini juga memetakan alasan penapisan tuberkulosis sulit menjangkau sebagian penduduk. Keterbatasan fasilitas dan layanan kesehatan
menjadi hambatan pertama, disusul kendala ekonomi serta cakupan jaminan kesehatan yang belum menyeluruh. Faktor sosial budaya, termasuk stigma terhadap penderita, memperberat keadaan. Persoalan transportasi dan keterjangkauan lokasi menutup daftar tersebut, dan justru pada titik itulah wilayah 3T paling banyak tertinggal.
Indonesia berada pada peringkat kedua dunia dalam beban penyakit tuberkulosis. Pengembangan TBScreen.AI dikaitkan dengan Peraturan Presiden Nomor 67 Tahun 2021 yang mendorong riset dan inovasi untuk penapisan serta penanganan penyakit tersebut.
Pengembangan dikerjakan bersama University of Melbourne, Universitas Sebelas Maret, Monash University Indonesia, Pusat Rehabilitasi YAKKUM, Sentra Advokasi Perempuan Difabel dan Anak, serta Papua Health and Community Development Foundation. Susunan mitra itu memadukan universitas dengan lembaga layanan dan advokasi yang bekerja langsung di masyarakat, termasuk yang mendampingi penyandang disabilitas dan warga di Papua. Pendanaannya datang dari KONEKSI
Baca juga: Apia Dewi Agustin: Dari Lereng Gunung Lawu ke Puncak Akademik UGM
, program kemitraan riset antara Indonesia dan Australia.



















