Cekricek.id — Universitas Hasanuddin (Unhas) memperoleh pendanaan tahap pertama Program Hilirisasi Riset Tahun 2026 senilai Rp31,3 miliar. Dana itu menopang 67 proposal inovasi yang dikembangkan para inventor dari 12 fakultas.
Dikutip dari laman resmi Universitas Hasanuddin, unhas.ac.id, Jumat (7/8/2026), pendanaan berasal dari dua skema di bawah Program Diktisaintek Berdampak. Sebanyak 52 proposal Hilirisasi Riset Prioritas didukung Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri lewat Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi senilai Rp15,3 miliar. Sisanya, 15 proposal Hilirisasi Riset Strategis yang bersifat tahun jamak, dibiayai Lembaga Pengelola Dana Pendidikan Kementerian Keuangan dengan pencairan tahun pertama Rp15,8 miliar.
Bukan Berhenti di Prototipe
Rektor Unhas, Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc., menyatakan capaian itu mencerminkan makin matangnya ekosistem riset dan inovasi
Baca juga: Katalis Baru Bikin Sel Bahan Bakar Tahan 25 Ribu Jam
di kampusnya. Dalam beberapa tahun terakhir, menurut dia, pendekatan riset di Unhas bergeser menjadi lebih berorientasi pada penyelesaian persoalan nyata melalui kolaborasi dengan berbagai mitra.
“Target utama kita adalah memastikan hasil penelitian tidak hanya berhenti pada laporan atau prototipe di dalam kampus. Melalui dukungan LPDP dan BOPTN ini, kita mendorong agar inovasi dari Unhas dapat diproduksi secara luas, dimanfaatkan oleh industri, serta memberikan manfaat langsung bagi perekonomian dan penyelesaian berbagai persoalan masyarakat,” jelasnya.
Wakil Rektor Bidang Inovasi dan Pengelolaan Usaha Unhas, Prof. Dr. Amir Ilyas, S.H., M.H., menegaskan keberhasilan hilirisasi tidak hanya ditentukan mutu inovasinya, tetapi juga perlindungan kekayaan intelektual dan tata kelola kemitraan. “Tugas kita sekarang bukan hanya meneliti, tetapi juga memastikan seluruh produk inovasi terlindungi melalui hak cipta maupun paten
Baca juga: IPM 84,93, Wamendiktisaintek Sebut Padang Punya Modal Jadi Kota Global Berbasis Pendidikan
. Kami mengawal setiap perjanjian kerja sama agar memiliki dasar hukum yang kuat sehingga memberikan kepastian bagi inventor maupun mitra industri,” ujarnya.
Kelautan dan Pertanian Terbesar
Berdasarkan distribusi tahap pertama, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan menerima porsi terbesar dengan 16 proposal senilai Rp9,66 miliar, disusul Fakultas Pertanian dengan 12 proposal senilai Rp7,68 miliar. Fakultas Peternakan memperoleh 10 proposal senilai Rp3,83 miliar dan Fakultas Teknik 10 proposal senilai Rp3,57 miliar, sementara delapan fakultas lain berbagi sisanya.
Ke-67 proposal itu tersebar dalam empat skema. Skema Ajakan Industri menampung 30 proposal, Sinergi atau Inovasi Sosial 21 proposal, Dorongan Teknologi 13 proposal, dan Pengujian Produk tiga proposal.
Riset yang didanai mencakup teknologi pakan dan benih budidaya laut, pembibitan ternak lokal, inovasi pupuk organik cair, pengembangan pangan sehat berbasis sumber daya lokal, hingga model inovasi sosial untuk pemberdayaan nelayan dan masyarakat desa
Baca juga: Dosen Unand Gagas Penguatan Layanan Kesehatan Primer Berbasis Masyarakat di ICHS 2026
. Jamaluddin menyampaikan terima kasih kepada para inventor yang menghasilkan 67 proposal tersebut dan berharap mereka memperluas kolaborasi dengan mitra industri.
Direktur Inovasi dan Kekayaan Intelektual Unhas, Asmi Citra Malina, S.Pi., M.Agr., Ph.D., menyatakan pihaknya akan mendampingi proses hilirisasi mulai dari pengelolaan kekayaan intelektual hingga komersialisasi hasil riset. “Kami ingin memastikan setiap inovasi memiliki peluang untuk berkembang menjadi produk yang bernilai ekonomi,” katanya.



















