Cekricek.id — Perusahaan rintisan Discovered Materials menutup putaran pendanaan awal senilai 9 juta dolar AS untuk memburu material baru yang bisa membuat chip kecerdasan buatan bekerja pada suhu lebih rendah. Putaran itu dipimpin Lightspeed India Partners, dengan Peak XV Partners ikut serta.
Dikutip dari TechCrunch, Senin (10/8/2026), sejumlah pemodal perorangan juga masuk, di antaranya pendiri Y Combinator Paul Graham, Gokul Rajaram, dan Thariq Shihipar. Discovered Materials sendiri merupakan lulusan program akselerator Y Combinator.
Panas sebagai Beban Pusat Data
Masalah yang dibidik perusahaan itu adalah panas. Chip yang menjalankan beban kerja kecerdasan buatan menghasilkan panas berlebih, dan sebagian besar listrik yang ditelan pusat data justru habis untuk sistem pendingin, bukan untuk komputasi itu sendiri. Material yang lebih baik dalam membuang panas berarti tagihan listrik yang lebih kecil untuk pekerjaan yang sama.
Discovered Materials didirikan Advaith Sridhar dan Akash Ramdas. Ramdas menyandang gelar doktor ilmu material dari Stanford, sedangkan Sridhar sebelumnya menggarap agen kecerdasan buatan di Persona AI dan Luma Labs.
Baca juga: SK hynix Gelontorkan Investasi Besar demi Memori AI
Ribuan Tebakan Sehari
Keduanya menyusun jalur perangkat lunak yang memakai model kecerdasan buatan untuk melahirkan kandidat material, lalu menyaringnya dengan model fisika yang dilatih khusus untuk menyimulasikan apakah kandidat itu layak ditelusuri lebih jauh. Semasa menempuh program doktor, Ramdas hanya sanggup menguji sekitar 20 tebakan sehari.
“Kami sekarang bisa melakukan ribuan tebakan sehari dengan membiarkan agen-agen ini bekerja 24 jam sehari di komputasi awan, menelusuri arah riset yang ia berikan kepada mereka,” kata Advaith Sridhar, salah satu pendiri Discovered Materials.
Perusahaan itu juga merilis ratusan contoh material baru serta perangkat uji bernama Material Discovery Bench untuk mengukur seberapa baik model kecerdasan buatan mutakhir menyelesaikan persoalan penemuan material. Perangkat semacam itu lazim dipakai industri untuk membandingkan kemampuan model secara terbuka, alih-alih bersandar pada klaim pembuatnya.
Semua Sifat Harus Menyatu Sekaligus
Tantangan terbesarnya adalah kompromi teknis: sebuah material bisa unggul dalam satu sifat tetapi gagal pada sifat lain yang sama pentingnya. Hemant Mohapatra, partner Lightspeed yang memimpin putaran pendanaan ini, menggambarkannya seperti permainan ketangkasan memukul boneka tikus yang muncul bergantian dari lubang.
“Ini agak seperti bermain whack-a-mole dengan struktur atom. Sebuah material baru berguna di dunia nyata kalau seluruh sifatnya menyatu sekaligus, dan justru itulah yang membuat ini menjadi persoalan pencarian yang benar-benar menarik,” ujar Mohapatra.
Menurut Mohapatra, hambatannya bukan pada memproduksi kandidat, melainkan pada menyaring dan mensintesisnya. Sridhar mengakui batas itu. “Banyak dari pekerjaan ini akan melibatkan masuk ke laboratorium basah dan benar-benar membuat sesuatu. Dan proses itu tidak bisa dipercepat,” kata dia.
Perusahaan mengaku sudah menemukan material yang menyamai sifat bahan yang dipakai produsen chip saat ini, meski rinciannya belum bisa dibuka. Sridhar menargetkan material yang bisa dipatenkan tersedia dalam setahun, untuk kemudian dilisensikan kepada produsen chip. Sejumlah perusahaan lain menggarap arah serupa, antara lain MatNex, SandboxAQ, dan CuspAI, tetapi Discovered Materials memusatkan perhatian khusus pada efisiensi termal semikonduktor.





















