Cekricek.id — Samsung Heavy Industries menyiapkan langkah tak lazim untuk menjawab ledakan kebutuhan komputasi: memindahkan pusat data ke atas air. Perusahaan galangan kapal asal Korea Selatan itu menggandeng Mousterian Corporation, perusahaan yang bermarkas di Dallas, untuk membangun pusat data terapung berkapasitas 50 megawatt di Texas.
Dikutip dari TechRadar Pro, Minggu (9/8/2026), fasilitas tersebut direncanakan berlabuh di dekat pembangkit listrik siklus gabungan berbahan bakar gas yang sudah beroperasi di Houston. Penempatan itu dipilih agar pasokan daya tidak perlu menunggu antrean sambungan jaringan listrik yang kini tersendat.
Dibangun di Galangan, Bukan di Lahan Kosong
Perbedaan mendasar konsep ini terletak pada cara pembangunannya. Alih-alih menuangkan beton di lokasi lalu memasang perangkat, seluruh bangunan dirakit di galangan kapal sementara pekerjaan penyiapan lokasi berjalan bersamaan.
“Karena fasilitas ini dibangun di galangan kapal, pabrikasi berjalan paralel dengan pekerjaan lokasi, bukan sesudahnya. Ini jadwal dan skala yang tidak bisa ditandingi metode pembangunan konvensional,” kata Min Suh, Chief Executive Mousterian Corporation.
Samsung Heavy Industries membawa pengalaman lima dekade di bidang rekayasa lepas pantai dan maritim ke dalam proyek ini. “Bersama Mousterian, kami bermaksud menghadirkan pusat data terapung dengan ketelitian, kualitas, dan kepastian jadwal yang sama seperti yang menjadi ciri rekam jejak maritim kami,” ujar Sung-an Choi, Chief Executive Samsung Heavy Industries.
Berada di atas air juga memberi keuntungan lain, yaitu pendinginan. Fasilitas terapung dapat memanfaatkan air di sekitarnya untuk membuang panas, sehingga mengurangi ketergantungan pada sistem pendingin darat yang haus air dan listrik. Peluncuran fasilitas pertama dibidik pada 2028.
Baca juga: SK hynix Gelontorkan Investasi Besar demi Memori AI
Jaringan Listrik Texas Kewalahan
Pilihan berlabuh di sebelah pembangkit bukan kebetulan. Operator jaringan listrik Texas, ERCOT, kini menelaah permohonan sambungan baru dengan total lebih dari 474 gigawatt. Sekitar 90 persen di antaranya datang dari pusat data. Angka tersebut berasal dari laporan The Register yang dikutip TechRadar Pro.
Antrean sepanjang itu membuat pengembang pusat data harus mencari jalan memintas. Menempel langsung ke sumber pembangkitan memungkinkan fasilitas beroperasi tanpa menunggu bertahun-tahun, sementara lambung terapung memangkas kebutuhan lahan industri yang harganya terus terkerek di sekitar Houston.
Taruhan pada Ledakan Permintaan Komputasi
Kapasitas 50 megawatt per unit menempatkan fasilitas ini pada kelas menengah menurut ukuran pusat data modern, tetapi keunggulannya terletak pada kemampuan replikasi. Begitu satu lambung selesai dirancang, galangan dapat memproduksi unit berikutnya dengan pola yang sama, mirip cara industri perkapalan memproduksi kapal seri.
Bagi Samsung Heavy Industries, proyek ini sekaligus menjadi jalan keluar dari siklus naik-turun pesanan kapal. Permintaan komputasi untuk kecerdasan buatan menawarkan pasar baru bagi kapasitas galangan yang selama ini bergantung pada pesanan kapal tanker dan pengangkut gas alam cair.
Baca juga: Daftar Pekerjaan yang Hilang dan Tumbuh Cepat di Era AI 2025
Baca juga: Kekayaan Elon Musk Kembali Tembus US$800 Miliar Setelah Saham SpaceX Melonjak




















