Perang Iran Pukul Wisata Medis India, Pasien dari Teluk Anjlok hingga 60 Persen

Ilustrasi perawat berjalan di koridor rumah sakit

Ilustrasi layanan rumah sakit. [Foto: Ilustrasi/Pexels]

Cekricek.id — Industri wisata medis India yang bernilai 13 miliar dolar Amerika Serikat melambat karena perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Penutupan ruang udara, pembatalan penerbangan, dan lonjakan harga tiket membuat pasien asing, terutama dari kawasan Teluk, sulit mencapai rumah sakit di India.

Dikutip dari Arab News, Senin (10/8/2026), India menempati peringkat kesepuluh dunia dari 46 negara tujuan wisata medis menurut Medical Tourism Index 2025. Selama lima bulan terakhir, pembatasan ruang udara dan pengalihan rute penerbangan menurunkan mobilitas pasien lintas negara secara langsung.

Penurunan 40 sampai 60 Persen

Raajiv Singhal, Direktur Utama Marengo Asia Hospitals yang juga Ketua Komite Medical Value Travel pada Federation of Indian Chambers of Commerce and Industry, menyebut tantangan operasional sektor itu berat.

“Kami melihat penurunan 40 sampai 60 persen jumlah perjalanan berobat dari kawasan yang terdampak konflik, dengan penutupan ruang udara, penghentian penerbangan, dan kenaikan tarif pesawat 15 sampai 25 persen yang menjadi penghalang besar bagi pasien internasional,” kata Singhal.

Menurut dia, kawasan terdampak konflik selama ini menjadi sumber pasien dalam jumlah besar. “Warga dari daerah-daerah itu kini mengambil langkah kewaspadaan dan menunda perjalanan yang tidak mendesak,” ujarnya. Klinik yang menawarkan layanan elektif dan kebugaran mengalami penurunan paling tajam, sementara rumah sakit dengan layanan jantung lanjutan, ginjal, dan onkologi relatif lebih bertahan karena, kata Singhal, kasus kritis tidak bisa ditunda meski ada ketegangan geopolitik.

Baca juga: Layanan Kesehatan Gratis IDI Disambut Antusias Masyarakat Limapuluh Kota

Sekalipun begitu, kedatangan untuk kasus rumit pun ikut menurun. Sebagian pasien menunda perjalanan sejauh mungkin karena khawatir terjebak dan tidak bisa pulang.

Pasien Timur Tengah Menyusut

Di jaringan Max Healthcare, yang menangani kanker, jantung, saraf, transplantasi, penggantian sendi, dan bedah robotik, jumlah pasien dari kawasan lain kini melampaui pasien Timur Tengah. Dari 32.000 pasien asing tahun lalu, 5.000 di antaranya datang dari Timur Tengah, dan angka serupa diperkirakan tidak terulang pada 2026.

“Kami menyaksikan penurunan kedatangan pasien dari sejumlah negara Timur Tengah, terutama Irak, Oman, Yaman, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab,” kata Anas Abdul Wajid, Direktur sekaligus Chief Sales and Marketing Officer Max Healthcare. Gangguan itu, menurut dia, terutama dipicu pembatasan ruang udara, pembatalan penerbangan, ketidakpastian perjalanan, dan penundaan perjalanan berobat yang tidak mendesak.

Pola serupa terjadi di Yashoda Super Speciality Hospital di Noida, rumah sakit yang dikenal lewat teknologi pencitraan yang memungkinkan dokter memindai sekaligus menangani tumor dalam satu prosedur. “Pasien asing kami ragu bepergian karena perang. Kalaupun negaranya tidak terdampak perang, rute perjalanan kini lebih panjang dan harganya mahal,” kata Upasna Arora, promotor rumah sakit tersebut. Ia menambahkan negara-negara Teluk saat ini tidak mengirim pasien, dan yang datang justru berasal dari negara lain.

Baca juga: Iran-Israel Terus Berperang, Eropa Upayakan Penyelesaian Damai

Beralih ke Pasar Asia

Sebagian besar rumah sakit yang selama bertahun-tahun membangun fasilitas bagi pasien asing kini mencoba menutup kekurangan itu dengan membuka pasar baru. Ritu Garg, Chief Growth and Innovation Officer Fortis Healthcare, menyebut kelompoknya menarik lebih banyak pasien dari kawasan seperti dan Asia Tengah.

Baca juga: Hari ASEAN ke-59, Pertama dengan Sebelas Anggota

“Langkah ini membantu kami mempertahankan volume pasien internasional secara keseluruhan,” kata Garg. “Kami tetap berkomitmen pada Timur Tengah begitu keadaan stabil.”

Baca Juga

Ilustrasi petani memegang kentang hasil panen
Penduduk Asli Andes Punya Sepuluh Salinan Gen Pencerna Pati, Diduga Warisan Ribuan Tahun Makan Kentang
Ilustrasi kapal perang di laut lepas
Pejabat Pentagon: Amerika Tidak Meninggalkan Asia, Lawatan Berlanjut ke Indonesia
Ilustrasi obat dalam kemasan blister dan kapsul
Pil GLP-1 Aleniglipron Pangkas Berat Badan 12,1 Persen dalam 36 Pekan
Ilustrasi alat berat menyingkirkan reruntuhan bangunan
Gempa M7,4 Guncang Kolombia Barat, 111 Orang Tewas dan Puluhan Kota Rusak
Gedung-gedung tinggi di kawasan bisnis sebuah kota
Merger dan Akuisisi Timur Tengah-Afrika Utara Tembus USD46,7 Miliar di Semester I
Pesawat tempur mengudara di langit terbuka
Australia dan Filipina Yakin Teken Perjanjian Kerja Sama Pertahanan Tahun Ini