Cekricek.id — Seorang petani di Chuzhou, China, kehilangan tanaman wijennya hanya dalam semalam setelah menyemprotkan campuran herbisida dan pestisida yang direkomendasikan sebuah aplikasi kecerdasan buatan. Kerusakannya menurut laporan mencapai sekitar 25 acre lahan.
Dikutip dari Tom’s Hardware, Senin (10/8/2026), petani berusia 67 tahun bermarga Wu itu sudah hampir setahun mengikuti saran aplikasi tersebut untuk mengendalikan gulma dan hama, dan selama itu hasilnya memuaskan. Kepercayaan itu membuatnya menyemprotkan resep terakhir tanpa lebih dulu memeriksakannya kepada penyuluh pertanian.
Rumput dan Bibit Mati Bersamaan
Resep yang disodorkan aplikasi itu berupa campuran beberapa bahan aktif, salah satunya herbisida bernama flusulfasulfaether. Campuran tersebut dimaksudkan menuntaskan dua pekerjaan sekaligus dalam satu kali penyemprotan, yakni mematikan gulma dan menahan hama, sehingga petani tidak perlu turun ke lahan dua kali.
Wu menyemprotkannya ke hamparan wijen yang tanamannya masih berupa bibit. Sehari setelah penyemprotan, bukan hanya gulmanya yang mati, melainkan juga seluruh bibit wijen di lahan tersebut.
“Kalau disemprotkan, keesokan harinya bibit itu tidak akan bertahan. Rumput dan bibitnya sama-sama mati, dan bibitnya justru mati lebih cepat,” kata Wu, petani pemilik lahan tersebut.
Baca juga: Anak China Berpaling ke Tutor AI Saat Libur Musim Panas
Salah Sasaran karena Sama-sama Berdaun Lebar
Para ahli pertanian yang dimintai keterangan menjelaskan letak kekeliruannya. Flusulfasulfaether dirancang untuk membasmi gulma berdaun lebar di lahan kedelai, yaitu tumbuhan pengganggu yang helai daunnya melebar, berbeda dari rumput-rumputan yang daunnya memanjang.
Persoalannya, wijen juga termasuk tanaman berdaun lebar. Karena itu herbisida tersebut tidak boleh disemprotkan menyeluruh ke seluruh lahan wijen: bahan yang sama akan membunuh gulma dan tanaman budidayanya sekaligus. Aplikasi itu tidak menangkap perbedaan tersebut ketika menyusun rekomendasinya.
Pada lahan kedelai, kombinasi itu masuk akal karena kedelai punya toleransi terhadap bahan aktifnya, sementara gulma sasaran tidak. Begitu bahan yang sama dipindahkan ke lahan wijen, pembeda itu hilang dan penyemprotan menyeluruh berubah menjadi pembasmian tanpa pandang bulu.
Peringatan yang Ada, tetapi Tidak Terbaca
Wu menyatakan aplikasi tidak memberinya peringatan risiko apa pun sebelum resep itu dipakai, termasuk soal jenis tanaman yang tidak boleh terkena bahan tersebut. Aplikasi tersebut sebenarnya menampilkan penafian bahwa jawabannya bisa saja tidak akurat, tetapi keterangan itu tidak cukup menahan langkahnya.
Perangkat semacam ini bekerja dengan model bahasa besar, yaitu sistem yang menyusun jawaban berdasarkan pola kata yang dipelajarinya dari teks dalam jumlah sangat besar. Model semacam itu menghasilkan kalimat yang terdengar meyakinkan dan seragam nadanya, baik ketika jawabannya benar maupun ketika keliru, sehingga pengguna sulit membedakan keduanya dari cara penyampaiannya saja.
Baca juga: Petani Mungka Berhenti Beli Solar Setelah Terima Irigasi Panel Surya dari UNP
Rekam jejak selama setahun sebelumnya membuat persoalan itu makin terselubung. Saran yang berkali-kali terbukti tepat membangun kebiasaan mengikuti tanpa memverifikasi, dan kebiasaan itulah yang akhirnya berbenturan dengan satu rekomendasi yang salah sasaran.
Kasus di Chuzhou memperlihatkan bahwa kekeliruan sebuah model bahasa tidak selalu berhenti di layar. Ketika keluarannya berupa takaran bahan kimia yang langsung dituangkan ke lahan, jarak antara kesalahan perangkat lunak dan kerugian nyata di lapangan hanya sejauh satu musim tanam.
Baca juga: Pengacara AS Didenda Rp74 Juta karena Menggunakan ChatGPT





















