Cekricek.id — Pengapalan ponsel pintar global turun 7 persen sepanjang kuartal kedua 2026 dibanding periode yang sama tahun lalu. Penyebab utamanya bukan selera pembeli yang berubah, melainkan harga cip memori yang terus memanjat dan menyeret naik harga jual perangkat.
Dikutip dari GSMArena, Selasa (11/8/2026), angka itu berasal dari lembaga riset pasar FDM CCS Insight. Dibanding kuartal pertama 2026, pengapalan juga menyusut 3 persen. Pada saat yang sama, harga jual rata-rata ponsel baru pada kuartal kedua tercatat 13 persen lebih mahal dibanding kuartal sebelumnya.
Pengapalan berbeda dari penjualan ke konsumen. Angka ini menghitung perangkat yang dikirim pabrikan ke jalur distribusi, sehingga lebih cepat memperlihatkan sikap produsen terhadap biaya produksi ketimbang perubahan minat pembeli di gerai.
Kelangkaan Memori yang Belum Berujung
Memori yang dimaksud adalah dua komponen di dalam ponsel: DRAM, tempat data diolah sementara saat perangkat menyala, dan NAND, tempat data disimpan permanen. Keduanya kini diperebutkan dengan pusat data kecerdasan buatan, yang membutuhkan kapasitas produksi pabrik yang sama. Akibatnya pasokan untuk produsen ponsel menipis dan harganya melambung.
“Paruh pertama tahun ini ternyata lebih tahan banting daripada yang kami perkirakan. Namun kami tetap berhati-hati terhadap paruh kedua, karena kenaikan harga lanjutan dan kelangkaan memori yang berkepanjangan, yang kami perkirakan bertahan sampai 2028, akan terus mengerek harga perangkat dan melemahkan permintaan konsumen,” kata Ben Hatton, Analis FDM CCS Insight.
Baca juga: SK hynix Gelontorkan Investasi Besar demi Memori AI
Yang Murah Menghilang dari Etalase
Tekanan biaya itu memukul kelas pemula lebih keras ketimbang kelas atas. Ponsel murah menjadi barang yang makin jarang terlihat, sementara pembeli didorong naik ke model yang lebih mahal tanpa memperoleh spesifikasi yang sepadan.
“Selisih harga yang menyempit antara Android dan iOS membuka peluang bagi Apple untuk menarik pengguna yang sebelumnya tidak sanggup masuk ke ekosistemnya. Pada saat yang sama, terbatasnya pasokan ponsel kelas pemula di pasar primer mempercepat pergeseran ke model yang lebih premium. Konsumen membayar lebih mahal untuk perangkat berspesifikasi lebih rendah dibanding model generasi sebelumnya pada rentang harga serupa,” kata Ekta Mittal, Analis Senior FDM CCS Insight.
Mittal menambahkan, ketika keterjangkauan tertekan, skema pembiayaan, sewa, dan pembelian kembali akan menentukan apakah konsumen masih mau mengganti perangkatnya.
Baca juga: iPhone 15: Mengapa Apple Harus Pertahankan Harga yang Terjangkau
Pasar Bekas Menjadi Katup Pelepas
Sebagian permintaan yang tidak terlayani pasar baru berpindah ke pasar bekas. Pasar sekunder terorganisir, yaitu perangkat bekas dan rekondisi yang diperjualbelikan lewat jalur resmi dan bergaransi, tumbuh 3 persen dibanding kuartal kedua 2025.
Untuk sepanjang 2026, FDM CCS Insight memperkirakan pasar primer menyusut 12 persen, sementara pasar sekunder terorganisir tumbuh 9 persen.
“Peluang bagi pasar sekunder tetap sangat besar. Seiring perangkat baru menjadi semakin mahal, kian banyak konsumen akan mencari alternatif di pasar sekunder,” kata Hatton.
Persoalannya kemudian berpindah ke sisi pasokan. Jumlah tukar tambah di Amerika Serikat menurun sehingga stok perangkat layak jual ikut seret, meski ekspor dari China dan Jepang sedikit menambal kekurangan itu. Penurunan pengapalan sendiri lebih landai di pasar-pasar maju dan lebih tajam di pasar berkembang, tempat pembeli paling sensitif terhadap perubahan harga.
Baca juga: Nokia Siap Bangkit, Buka Peluang Lisensi Merek HP ke Produsen Baru





















