Cekricek.id — Korps Garda Revolusi Islam Iran menyatakan sebagian rudal yang dimiliki negaranya kini dilengkapi sistem pemandu dan mampu mengubah lintasan saat masih terbang. Kemampuan itu disebut ditujukan untuk mengecoh sistem pertahanan udara lawan.
Dikutip dari Anadolu, Senin (10/8/2026), pernyataan itu disampaikan juru bicara Garda Revolusi Hossein Mohabi dalam sebuah acara di Provinsi Qazvin. Ia menggambarkan perubahan mendasar pada persenjataan rudal Iran dibandingkan generasi sebelumnya.
“Rudal Iran tidak lagi seperti dulu, yang sekadar diluncurkan dari satu titik untuk jatuh di titik lain,” kata Hossein Mohabi.
Klaim Kemampuan Mengubah Lintasan
“Rudal-rudal itu kini memiliki kemampuan pemanduan dan pengubahan arah, dan sebagian dapat mengubah lintasannya saat terbang untuk melewati sistem pertahanan udara musuh,” ujar Mohabi.
Menurut dia, senjata dengan kemampuan tersebut sudah dipakai dalam rangkaian pertempuran terakhir melawan Amerika Serikat. Sasarannya, kata Mohabi, adalah prasarana energi pihak lawan. Ia tidak merinci jenis rudal yang dipakai maupun jumlah yang diluncurkan, dan tidak menjelaskan bagaimana kemampuan itu diuji.
Pernyataan itu disiarkan media pemerintah Iran. Mohabi berbicara di hadapan peserta acara di Provinsi Qazvin, sebelah barat laut Tehran, dan tidak menyebut waktu maupun lokasi peluncuran yang ia maksud.
Istilah Perang Teknologi
Mohabi menyebut pendekatan negaranya sebagai “perang teknologi”. Sasaran yang dituju, kata dia, melampaui kerusakan fisik dan diarahkan pada proses pengambilan keputusan serta jaringan pertahanan pihak lawan.
Klaim semacam itu sulit diverifikasi dari luar. Iran secara berkala mengumumkan kemajuan program rudalnya lewat pernyataan pejabat militer di acara-acara daerah, sementara pihak Amerika Serikat dan Israel jarang menanggapi rincian teknisnya secara terbuka. Keterangan Mohabi disampaikan tanpa peragaan maupun data pendukung.
Rangkaian Konflik Sejak Februari
Ketegangan meningkat sejak Februari, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran. Tehran membalas dengan serangan pesawat nirawak dan rudal balistik yang diarahkan ke negara-negara Teluk yang menampung aset militer Amerika Serikat.
Kedua pihak menyepakati gencatan senjata pada April. Dua bulan berselang, pada Juni, keduanya menandatangani nota kesepahaman yang dimediasi Pakistan. Kesepakatan itu dimaksudkan untuk mengakhiri konflik militer sekaligus membuka jalan menuju perdamaian yang lebih permanen.
Nota kesepahaman tersebut runtuh bulan lalu. Kedua pihak kembali saling menyerang selama hampir dua pekan sebelum Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara mendadak menghentikan pengeboman, di tengah laporan mengenai pembicaraan untuk menyelesaikan konflik.
Pernyataan Garda Revolusi soal kemampuan rudal itu muncul ketika perundingan mengenai Selat Hormuz masih berjalan dan lalu lintas pelayaran di kawasan tersebut belum sepenuhnya pulih. Belum ada tanggapan dari pihak Amerika Serikat atas klaim tersebut.





















