Cekricek.id — Selama puluhan tahun, petani mete di Ghana hanya memanen bijinya dan membiarkan buahnya membusuk di kebun. Buah jambu mete — bagian berdaging yang menempel di atas biji — dianggap limbah karena tidak tahan disimpan. Sekarang buah itu mulai diolah menjadi minuman, dan sebagian petani menghitungnya sebagai sumber pendapatan kedua.
Perubahan itu berjalan lewat program bernama MA-CASH yang dijalankan lembaga riset pemerintah Ghana bersama kelompok tani dan otoritas tanaman keras.
Rusak dalam 24 Jam
Francisca Aba Ansah, ilmuwan pascapanen pangan di CSIR-Food Research Institute, menjelaskan bahwa kendala terbesarnya selama ini bersifat teknis dan sangat sederhana.
“Begitu buah jambu mete dipanen, dalam 24 jam ia sudah rusak,” katanya, seperti dikutip dari Al Jazeera, Minggu (9/8/2026).
Karena tenggat sependek itu, buahnya tidak pernah masuk rantai pasok mana pun. Petani memilih memungut bijinya saja, yang bisa dikeringkan, disimpan berbulan-bulan, dan diekspor tanpa perlakuan khusus. Buahnya ditinggal di tanah, menjadi pupuk seadanya atau sekadar terbuang. Ansah menyebut singkatan program yang ia kerjakan sebagai pengingat sasarannya. “MA-CASH pada dasarnya berarti Maximising Gains from Cashew Production for Youth Development,” ujarnya.
Baca juga: Ragam Sayuran Dunia Menyusut, Gizi Manusia Ikut Terancam
Dua Tahun Mengumpulkan Petani
Di sisi hulu, pekerjaan yang paling memakan waktu ternyata bukan teknologi pengolahannya melainkan pengorganisasiannya. Raphael Godlove Ahenu, Koordinator Nasional Cashew Watch Ghana, menuturkan organisasinya menghabiskan dua tahun untuk menghimpun petani ke dalam kelompok sebelum pengolahan bisa dibicarakan secara serius.
“Selama dua tahun terakhir, kami mengumpulkan petani ke dalam kelompok-kelompok dan memberi mereka edukasi,” kata Ahenu. Menurut dia, bahan bakunya sudah tersedia dan gagasannya sudah matang, yang belum datang adalah modalnya. “Kami punya buahnya. Kami punya gagasannya. Kami hanya butuh investasi supaya semuanya berjalan.”
Samuel Nortey Adumoah, petani yang ikut program itu, melihat peluang pasarnya nyata dan menyampaikan ajakan yang senada. “Minuman berbahan mete punya potensi pasar yang kuat. Saya mengajak investor masuk ke bidang ini,” ujarnya.
Baca juga: Ekspor Nonmigas Juni Naik 8,68 Persen, Defisit Dagang Menyusut Jadi USD 0,45 Miliar
Status Baru Sebagai Sumber Daya Ekonomi
Pemerintah Ghana mulai memasukkan buah jambu mete ke dalam perencanaan resminya, bukan lagi memperlakukannya sebagai sisa panen. Andrews Osei Okrah, Direktur Utama Tree Crops Development Authority, menyebut pergeseran cara pandang itu secara terbuka.
“Buah jambu mete sekarang adalah sumber daya ekonomi strategis dengan potensi yang sangat besar,” katanya.
Hambatan yang tersisa berada di ruang yang tidak bisa diselesaikan riset saja. Aaron Owusu Nketia, penasihat keuangan sekaligus petugas kredit yang menangani sektor ini, menilai keberadaan unit pengolahan di tingkat lokal justru penting bagi sisi pembiayaan. Pabrik yang dekat memberi kepastian kepada petani bahwa panennya punya pembeli, dan memberi kepastian kepada pemberi pinjaman bahwa pinjamannya punya arus kas untuk dibayar.
Baca juga: Perumda Tuah Sepakat Perkuat Hilirisasi Digital dan Ketahanan Pangan Tanah Datar
Ghana adalah salah satu produsen mete terbesar di Afrika Barat, dan selama ini nilai tambah terbesarnya tercipta di luar negeri — biji mentah dikirim keluar, diolah di tempat lain, lalu kembali sebagai produk jadi. Mengolah buahnya di dalam negeri berarti menahan sebagian nilai itu lebih dekat ke kebun, persoalan yang juga akrab bagi negara penghasil komoditas lain, termasuk Indonesia.





















