Cekricek.id — Pemerintah Australia memutuskan memvaksinasi burung-burung asli yang paling rentan di fasilitas penangkaran, setelah flu burung H5N1 menyebar hampir ke seluruh wilayah negara itu. Lebih dari 230 kasus sudah dikonfirmasi, dan Australia untuk pertama kalinya mencatat peristiwa kematian massal satwa liar yang dikaitkan dengan virus tersebut.
Mengutip Anadolu Agency, Selasa (11/8/2026), program vaksinasi itu menyasar spesies yang populasinya sudah menipis dan kini berada di bawah pengawasan lembaga konservasi. Burung liar yang hidup bebas di alam tidak menjadi sasaran utamanya.
“Kami tidak bisa menghentikan penyebaran flu burung H5 di antara burung liar, tetapi kami bisa mengambil langkah untuk melindungi spesies yang paling berisiko, dan vaksinasi kini menjadi bagian dari respons itu,” kata Menteri Pertanian Australia Julie Collins.
Jumlah lebih dari 230 kasus terkonfirmasi itu tersebar hampir merata di seluruh negeri, membuat wabah kali ini berbeda dari temuan sporadis yang biasanya berhenti di satu lokasi. Yang mendorong otoritas bergerak bukan semata jumlahnya, melainkan munculnya kematian satwa liar dalam jumlah besar pada satu rentang waktu, pola yang belum pernah tercatat di Australia sebelumnya.
Vaksin Dua Dosis Membatasi Jangkauan Program
Pilihan untuk memusatkan vaksinasi di penangkaran bukan soal kemauan, melainkan soal takaran. Menteri Lingkungan Hidup Australia Murray Watt menjelaskan vaksinasi menyeluruh terhadap burung liar sulit dijalankan karena vaksin yang tersedia menuntut dua kali penyuntikan pada satu ekor burung yang sama. Menangkap kembali satwa liar untuk dosis kedua nyaris mustahil dilakukan dalam skala besar, sehingga otoritas hanya akan menyuntik di lokasi yang memungkinkan.
Pemerintah federal menyiapkan dana sekitar 2 juta dolar Australia atau setara 1,3 juta dolar Amerika Serikat untuk pengadaan vaksin. Angka itu tergolong kecil untuk sebuah program nasional, tetapi mencerminkan sasarannya yang memang sempit: menahan agar spesies yang jumlahnya tinggal sedikit tidak hilang sama sekali ketika virus mencapai koloni terakhir mereka.
Baca juga: Remaja Vietnam Tewas Akibat Flu Burung H5N1, Waspada Penularan
Otoritas Veteriner Ingatkan Batas Vaksinasi
Kepala Dokter Hewan Australia Beth Cookson mengingatkan bahwa vaksinasi “bukan solusi yang berdiri sendiri”. Menurutnya, langkah biosekuriti tetap menjadi pertahanan utama, mulai dari pembatasan lalu lintas orang dan kendaraan di fasilitas penangkaran, kebersihan peralatan, sampai pemantauan kesehatan satwa yang dilakukan terus-menerus.
Penekanan itu penting karena vaksin pada satwa liar bekerja berbeda dibanding vaksin pada unggas ternak yang hidup dalam kandang tertutup dan mudah diawasi. Burung di penangkaran konservasi umumnya berumur panjang, jumlahnya sedikit, dan tidak bisa diganti bila mati.
Tiga Wilayah Masih Bersih, Peternakan Belum Terdampak
Tasmania, Northern Territory, dan Australian Capital Territory sejauh ini belum melaporkan temuan kasus. Sebaran H5N1 juga belum menyentuh unggas ternak maupun industri pertanian, sebuah pembeda yang membuat wabah kali ini lebih berupa krisis konservasi ketimbang krisis pangan.
Meski begitu, jarak antara satwa liar dan kandang ternak biasanya tipis. Burung air yang bermigrasi kerap singgah di kolam dan lahan basah yang berdampingan dengan peternakan, dan justru lewat jalur itulah wabah di banyak negara berpindah dari alam ke sektor perunggasan.
Baca juga: Waspada! Kasus Infeksi Burung Beo Meningkat di Eropa, 5 Orang Tewas
Kematian massal satwa liar yang tercatat kali ini menjadi penanda bahwa H5N1 tidak lagi sekadar persoalan peternakan. Bagi Australia, yang keanekaragaman burung endemiknya tidak ditemukan di benua lain, kehilangan satu koloni bisa berarti kehilangan permanen.
Baca juga: Gajah Sumatera Ditemukan Mati di Aceh Tamiang, Nekropsi Awal Mengarah ke Keracunan




















