Cekricek.id — Tim peneliti di Icahn School of Medicine at Mount Sinai memetakan lebih dari 830.000 sel imun otak dari 1.607 pendonor, dan menemukan satu subtipe sel mikroglia yang tampaknya berperan melindungi otak, bukan merusaknya, seiring perkembangan penyakit Alzheimer. Subtipe itu justru membesar populasinya dan makin giat membersihkan material berbahaya di otak seiring penyakit berkembang.
Hasil kajian itu dipaparkan Donghoon Lee, asisten profesor Genetika dan Ilmu Genomik serta Psikiatri di Icahn School of Medicine at Mount Sinai, bersama tim penelitinya lewat artikel Plasticity of human microglia and brain perivascular macrophages in aging and Alzheimer's disease dalam jurnal Nature Genetics, terbit daring Selasa (11/8/2026).
Memetakan Sel Imun dari Rentang Usia Penuh
Mikroglia adalah sel imun bawaan otak yang bertugas menyapu sisa-sisa sel mati, protein yang menggumpal, dan zat asing lainnya. Bersama makrofag perivaskular — sel imun lain yang berjaga di sekitar pembuluh darah otak — mikroglia lama dicurigai berperan dalam perkembangan Alzheimer, tetapi perannya masih diperdebatkan: apakah memperparah kerusakan atau justru membantu membersihkannya.
Untuk menjawabnya, tim menganalisis jaringan korteks prefrontal dari 1.607 pendonor yang mencakup rentang usia penuh manusia dewasa, dari yang sehat sampai yang menunjukkan berbagai tingkat keparahan patologi Alzheimer. Dari situ mereka mengidentifikasi 13 subtipe sel yang terbagi dalam enam subkelas besar — pemetaan sel imun otak berskala terbesar untuk topik ini sejauh ini.
Satu Subtipe yang Justru Membesar dan Melindungi
Satu subtipe mikroglia yang ditandai tingginya ekspresi protein GPNMB ternyata membesar populasinya seiring parahnya patologi Alzheimer, dan kemampuannya menelan serta membersihkan material berbahaya ikut meningkat — pola yang oleh tim dibaca sebagai respons protektif, bukan tanda kerusakan.
Tim juga menemukan jalur molekuler yang menjaga sel itu tetap berada dalam kondisi pelindung tersebut, melibatkan tiga protein: TREM2, MITF, dan GPNMB. Sinyal dari TREM2 terbukti penting untuk mempertahankan manfaat itu, baik pada jaringan manusia maupun pada model tikus percobaan.
“Studi kami memberikan gambaran paling jelas sejauh ini tentang bagaimana sel imun otak beradaptasi selama penuaan dan penyakit Alzheimer. Dengan mengidentifikasi sel imun spesifik yang tampaknya melindungi otak, beserta sinyal molekuler yang mereka andalkan, kami menemukan sasaran baru yang berpotensi untuk terapi yang ditujukan memperlambat perkembangan penyakit Alzheimer,” kata Lee.
Bukan Sekadar Soal Plak Amiloid
Temuan ini menambah bukti bahwa strategi mengatasi Alzheimer tidak harus melulu berfokus pada plak amiloid, melainkan bisa diarahkan untuk memperkuat pertahanan imun alami otak yang sudah ada. Sebelumnya, studi lain juga menunjukkan bahwa sel imun otak bisa berperan lebih rumit daripada sekadar penyebab kerusakan, termasuk dalam kaitannya dengan gangguan tidur pada pasien Alzheimer.
Baca juga: Mikroglia, Bukan Plak, yang Merampas Tidur Penderita Alzheimer
Studi ini merupakan analisis skala besar terhadap jaringan otak pascakematian, sehingga belum menjawab apakah memperkuat subtipe mikroglia pelindung ini lewat obat benar-benar bisa memperlambat penyakit pada manusia hidup. Yang ditawarkan tim adalah peta dan sasaran molekuler baru, bukan terapi yang siap diuji klinis.
Baca juga: Terungkap! Alzheimer Bukan Sepenuhnya Penyakit Otak, Ini Penjelasan Para Ahli
Baca juga: Metode Pindai SANDI Petakan Kerusakan Otak Huntington pada 56 Pasien, Belum Siap untuk Rumah Sakit




















