Cekricek.id — Sebagian pasien kanker yang menjalani imunoterapi mengalami radang sendi sebagai efek samping, dan pada banyak orang radang itu datang lagi setelah sempat reda. Pemeriksaan cairan sendi enam pasien di Amerika Serikat kini menawarkan penjelasan: sel-sel imun yang sama muncul kembali pada serangan berikutnya, dalam keadaan yang justru lebih menyala.
Temuan itu dilaporkan Synat Keam bersama Roza I. Nurieva dan Yuanteng Jeff Li dari University of Texas MD Anderson Cancer Center lewat artikel Immune hallmarks of recurrent immune checkpoint inhibitor-mediated inflammatory arthritis dalam jurnal Cancer Immunology Research. Artikelnya terbit daring pada Jumat (31/7/2026) dan belum bernomor volume cetak.
Rem yang Sengaja Dilepas
Imunoterapi jenis penghambat pos pemeriksaan bekerja dengan melepas rem alami sistem kekebalan. Sel kekebalan punya sakelar penahan — salah satunya protein bernama PD-1 — yang mencegahnya menyerang jaringan tubuh sendiri. Tumor kerap memanfaatkan sakelar itu untuk bersembunyi, dan obat golongan ini menutupnya supaya sel kekebalan kembali mengenali sel kanker.
Harganya adalah kekebalan yang lebih mudah salah sasaran. Radang sendi termasuk efek samping yang muncul, dan sekitar 20 hingga 50 persen pasien yang mengalaminya menghadapi kambuhan — yang umumnya lebih berat daripada serangan pertama.
“Imunoterapi kanker bekerja dengan menciptakan respons kekebalan yang bertahan lama terhadap tumor, tetapi ketahanan yang sama itu mungkin ikut menyebabkan efek samping peradangan berulang yang bisa sangat menyiksa pasien,” kata Roza I. Nurieva, profesor Imunologi di University of Texas MD Anderson Cancer Center.
Baca juga: Terapi Kanker Kulit Baru: Kombinasi Vaksin mRNA dan KEYTRUDA Mampu Potong Risiko Kematian hingga 50%
Dua Jenis Sel yang Selalu Kembali
Tim mengambil cairan dari sendi enam pasien pada dua momen: saat radang pertama kali muncul dan saat radang itu kambuh. Membandingkan keduanya memungkinkan peneliti melihat sel mana yang benar-benar berulang, bukan sekadar hadir sekali.
Dua kelompok sel muncul pada kedua episode. Yang pertama sel T CD8 bercorak peradangan, jenis sel yang tugas aslinya membunuh sel terinfeksi atau sel kanker. Yang kedua sel T CD4 yang secara bersamaan menyandang PD-1 dan CXCL13, sebuah penanda yang mengarah pada pembentukan pusat kekebalan lokal di dalam jaringan sendi. Pada serangan kedua, keduanya kembali dalam keadaan lebih aktif dan menghasilkan molekul sinyal peradangan yang lebih tinggi.
Ada satu hal yang tidak diperkirakan. Sel T regulator, yang tugas normalnya justru meredam peradangan, ikut memproduksi molekul peradangan saat kambuhan. Kalau pengamatan itu bertahan pada penelitian berikutnya, artinya rem cadangan tubuh bukan sekadar gagal bekerja, melainkan berpindah pihak.
“Dengan mengenali sel imun yang menggerakkan radang sendi berulang, kami bisa menyusun strategi pengobatan yang menurunkan risiko kambuh sekaligus mempertahankan manfaat terapi kankernya,” ujar Nurieva.
Baca juga: Pasien Radang Sendi di Negara Eropa Berpendapatan Rendah Mulai Terapi dalam Kondisi Lebih Berat
Enam Pasien, Bukan Enam Ratus
Kegunaan praktis yang dibayangkan tim adalah penanda hayati: tanda yang bisa dibaca lebih awal untuk mengenali pasien berisiko tinggi mengalami kambuhan, supaya penanganannya bisa disiapkan tanpa menghentikan pengobatan kankernya. Menghentikan imunoterapi karena efek samping selalu berarti melepas sebagian manfaatnya melawan tumor.
Jarak menuju ke sana masih jauh. Enam pasien adalah jumlah yang sangat kecil, dan cairan sendi hanya bisa diambil ketika sendinya sedang bengkak, sehingga bahan penelitiannya terbatas pada mereka yang gejalanya cukup berat. Pola sel yang terbaca perlu diuji ulang pada kelompok yang jauh lebih besar sebelum bisa dipakai memilah pasien di klinik.
Penelitian ini juga menggarap satu sudut kecil dari persoalan imunoterapi yang lebih luas, mulai dari efek samping di organ lain sampai cara sel kanker sendiri memanfaatkan zat gizi untuk menyebar. Yang ditawarkannya bukan obat baru, melainkan peta yang sedikit lebih terang tentang apa yang terjadi di dalam sendi pasien.




















