Cekricek.id — Tim astronom menemukan kategori objek astrofisika yang sama sekali baru: gabungan karakteristik bintang masif dan lubang hitam yang bersinar sangat terang di alam semesta awal, hanya beberapa ratus juta tahun setelah Big Bang. Objek yang diberi nama MoM-BH*-1 itu berukuran sebesar Tata Surya, namun memancarkan energi 100 miliar kali lebih besar dari bintang mana pun yang diketahui.
Temuan itu dipaparkan Rohan Naidu, NASA Hubble Fellow sekaligus Pappalardo Fellow di MIT Kavli Institute for Astrophysics and Space Research, bersama Robert Simcoe, profesor fisika eksperimental di MIT, lewat artikel A Gas Enshrouded and Gas Reddened Black Hole at Cosmic Dawn dalam jurnal Nature, Rabu (12/8/2026).
Dikutip dari rilis MIT News, Rabu (12/8/2026), Naidu menjelaskan struktur objek yang mereka sebut “bintang lubang hitam” ini.
“Kami menduga ada lubang hitam pusat bermassa 100.000 kali massa Matahari. Di sekeliling lubang hitam ini, ada semacam selubung gas yang meluas menyerupai bintang seukuran Tata Surya,” kata Naidu.
Titik Merah Kecil yang Ada di Mana-mana
Naidu menyebut objek serupa yang dikenal sebagai “little red dots” ini tampak begitu umum ditemukan di alam semesta awal lewat citra James Webb Space Telescope (JWST), namun nyaris tak pernah dijumpai lagi di alam semesta masa kini.
“Titik-titik merah kecil ini tampak ada di mana-mana pada alam semesta awal, tapi nyaris hilang sama sekali di masa kini,” kata Naidu. “Anda menemukan sesuatu yang tampak seperti bintang, tapi kecerlangannya 100 miliar kali lebih terang.”
Robert Simcoe, Direktur MIT Kavli Institute for Astrophysics and Space Research, menjelaskan bagaimana tim mengidentifikasi tanda warna merah pekat pada objek tersebut.
“Ketika kami melihat sesuatu yang sangat merah di alam semesta, kami sering berasumsi objek itu diselimuti debu, seperti jelaga atau abu,” kata Simcoe. Analisis lanjutan tim justru mengarah pada selubung gas padat di sekitar lubang hitam yang baru terbentuk, bukan sekadar debu antarbintang biasa.
Naidu menduga fenomena ini bukan kasus tunggal, melainkan pola umum di galaksi-galaksi purba.
“Setiap titik merah kecil konsisten dengan kemungkinan sebagai bintang lubang hitam, tertanam dalam galaksi purba generik,” tutur Naidu.
Melengkapi Daftar Misteri Lubang Hitam
Penemuan objek langka semacam ini menambah daftar panjang misteri lubang hitam yang sebelumnya diberitakan Cekricek.id, termasuk Penemuan Lubang Hitam Tertua dalam Sejarah dan Kecepatan Lubang Hitam di Galaksi Bima Sakti Mendekati 'Speed Limit' Alam Semesta, Apa yang Akan Terjadi?, yang sama-sama menyoroti bagaimana lubang hitam purba menyimpan jejak penting sejarah pembentukan galaksi.
Baca juga: Astronom Temukan Aliran Bintang Gugus Bola Pertama di Luar Bima Sakti, Kunci Baru Materi Gelap
Penelitian ini didanai Departemen Fisika MIT, NASA, dan Space Telescope Science Institute, dan menjadi salah satu bukti kuat bahwa “bintang lubang hitam” mungkin menjelaskan sebagian besar populasi titik merah kecil yang selama ini terekam kamera JWST tanpa identitas jelas.





















