Cekricek.id — Seorang lelaki berusia awal tiga puluhan naik ke panggung kecil beralas karpet merah tipis di sebuah kafe di Pamulang, Tangerang Selatan. “Malam ini kita akan memainkan lagu punk!” katanya dengan suara berat dan serak, menirukan gaya vokalis rock. Begitu akor pertama dibunyikan, seisi ruangan paham itu lelucon. Yang keluar justru lagu folk bernuansa Melayu berjudul “Trauma Irama”, terinspirasi penyanyi dangdut Rhoma Irama, dengan lirik yang mengambang: “Benalu ... Benar-benar tak tahu ... Tak tahu malu-malu ...” Selesai bernyanyi, lelaki bernama Don itu menjelaskan bahwa lagunya ia tulis ketika seseorang di kantor membuatnya kesal. Endah Widiastuti, yang duduk di sebelahnya, bertanya apakah nadanya terlalu rendah untuk suaranya. Don langsung menggeser posisi capo, memainkan lagu itu sekali lagi, dan kali ini penonton ikut bernyanyi lebih lantang sampai berakhir dengan sorak.
Malam Senin seperti itu adalah pemandangan biasa di Earhouse, kafe sekaligus ruang pertunjukan tempat Earhouse Songwriting Club berkumpul setiap pekan. Adegan tersebut dicatat Arya J.P. Adyuta, mahasiswa magister antropologi di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, dalam artikel Appreciative commoning; Musical knowledge-sharing in Earhouse Songwriting Club, yang terbit dalam jurnal Wacana, Journal of the Humanities of Indonesia Vol. 27 No. 2 pada 2026. Artikel itu dikembangkan dari skripsi sarjananya dan bersandar pada kerja lapangan etnografis di Earhouse antara Oktober 2022 dan Februari 2023, ditambah pengamatan atas dua akun Instagram komunitas tersebut.
Kata kunci yang dipakai Arya adalah commoning. Kalau diterjemahkan ke bahasa sehari-hari, commoning adalah cara sekelompok orang memperlakukan sesuatu — tanah, pengetahuan, lagu — sebagai barang milik bersama yang boleh dipakai siapa saja di dalam kelompok itu, bukan sebagai dagangan yang dikunci satu pemilik. Yang ditekankan bukan bendanya, melainkan kebiasaan berbagi yang membuat benda itu jadi milik bersama. “Commoning adalah semacam kegiatan atau interaksi yang memunculkan proses berbagi milik bersama, sehingga sesuatu itu dipahami sebagai milik bersama,” tulis Arya dalam artikel tersebut. Di atas gagasan itu ia mengusulkan istilah baru, appreciative commoning atau commoning yang apresiatif, yakni bentuk berbagi yang justru digerakkan oleh apresiasi.
Kafe di Sudut Ruko Pamulang
Earhouse berdiri pada 2013 di sudut paling utara sebuah kompleks ruko di Pamulang. Ruangannya jauh dari luas. Pintu kaca memisahkan area luar dan dalam, lampu-lampu kekuningan mengimbangi dinding bercat kelabu, dan kursi-kursi di halaman depan sebagian dibuat dari drum logam serta baja bekas. Di dalam, ada papan kecil yang diletakkan di kotak gitar terbuka bertuliskan ajakan mendukung musisi. Namanya sendiri singkatan dari Endah N Rhesa house, merujuk pada duo suami istri Endah Widiastuti dan Rhesa Adityarama, pemilik sekaligus pendirinya.
Pamulang dipilih Arya bukan sekadar sebagai latar. Kota itu, tulisnya, punya watak yang oleh Abidin Kusno disebut middling urbanism: kawasan yang tetap menyimpan kampung padat di balik jalan raya yang ramai, berbeda dari kawasan terencana berpagar seperti BSD City atau Bintaro Jaya di sekitarnya. Banyak musisi tinggal di Pamulang, tetapi kegiatan mereka selama ini berpusat di Jakarta, tempat kesempatan, panggung, dan apresiasi terkumpul. Endah N Rhesa sendiri besar di jejaring Jakarta: merilis album lewat label independen demajors, manggung di berbagai panggung ibu kota, dan berkawan dengan orang-orang di skenanya.
Jejaring itulah yang kemudian ditarik pulang. Endah kerap mengundang musisi profesional dari Jakarta untuk berbagi keahlian atau menilai karya anggota di pertemuan mingguan. Dari situ, menurut Arya, pengetahuan musik yang selama ini terpusat mulai tersebar ke luar pusat kebudayaan yang mapan. Pada 2020, di tengah pandemi, Endah N Rhesa merilis “Pulang ke Pamulang”, lagu yang menyebut tempat-tempat dan orang-orang di kota itu dan langsung ramai dibicarakan. Tiga tahun berselang, penggalan liriknya dipahatkan di monumen alun-alun baru yang dibangun pemerintah di pusat Pamulang, dan duo itu tampil pada hari peresmiannya. Apresiasi, tulis Arya, tidak hanya beredar di dalam komunitas, tetapi juga bisa diberikan oleh lembaga yang dominan bila sudah cukup meluas.
Rumah yang Dibangun untuk Didengarkan
Motif awal berdirinya Earhouse justru sangat pribadi. Ketika pindah ke Pamulang sekitar 2009, Endah dan Rhesa nyaris tidak mengenal siapa-siapa. Kafe itu dibangun sebagai titik temu dengan penggemar — dan Endah sempat terkejut mendapati sebagian penggemarnya ternyata tetangganya sendiri. Endah menyebut tempat itu sebagai halaman depan atau ruang tamu, tempat ia dan Rhesa bisa menggelar acara sesuka hati. “Kalau punya tempat sendiri, aku bisa melakukan apa pun yang aku mau!” katanya kepada Arya. Dengan kata lain, Earhouse lahir dari kebutuhan seorang musisi untuk memperlihatkan karya sekaligus menerima apresiasi.
Yang membuatnya bertahan, kata Arya, adalah komunitas yang tumbuh di dalamnya. Selama masa penelitian, ada dua komunitas utama: Earhouse Songwriting Club yang berfokus pada penulisan lagu, dan Earhouse Guitar Club yang berkutat pada gitar dan perangkatnya. Belakangan menyusul Earhouse Chess Night. Klub penulis lagu adalah yang paling hidup. Anggotanya membagi diri sendiri menjadi pengabdi, semacam pengurus aktif, dan penganut, mereka yang mengikuti kegiatan dengan santai. Empat pengabdi — Andin, Don, Ashry, dan Ade — mulai memikul lebih banyak tanggung jawab, sebagian agar komunitas itu tetap berjalan tanpa Endah dan Rhesa bertahun-tahun ke depan.
Endah tetap tokoh sentral, tetapi ia berulang kali menolak posisi itu mengeras jadi hierarki. Pada satu malam yang hangat di Earhouse, katanya kepada Arya, Earhouse bukan cuma soal Endah N Rhesa. Kepada anggotanya ia berpesan, “Jangan jadi Endah N Rhesa.” Ashry, salah satu pengabdi, menyebut Endah sebagai figur yang kepribadiannya menular ke perilaku anggota lain. Pola serupa terlihat pada kru kafe. Ketika Endah mendesak mereka menulis lagu, lahirlah “Nge-shift”, salah satu nomor di album perdana komunitas bertajuk Karya-karya, yang kemudian dibawakan di Synchronize Festival 2022. Kebiasaan berkumpul dan berbagi seperti ini punya kemiripan dengan cara komunitas kreatif lokal di banyak kota merawat kebiasaan nongkrong sebagai ruang belajar yang tak resmi.
Arisan yang Ditukar dengan Lagu
Kegiatan klub itu berputar pada tiga hal: pertemuan mingguan tiap Senin yang gratis dan terbuka untuk umum, showcase bulanan, dan afterparty. Baris pertama poster pertemuan mingguannya berbunyi bahwa semua orang bisa menulis lagu. Paruh pertama kelas biasanya diisi materi dari Endah. Selama penelitian, ia sering memulai dengan object writing, teknik menulis lirik yang dipancing satu benda atau satu kata yang dipilih acak. Anggota lalu naik ke panggung membacakan liriknya, ditanggapi Endah dengan pertanyaan tentang arti lirik itu bagi si penulis, disusul komentar, saran perbaikan, dan penyebutan teknik yang tanpa sadar sudah mereka pakai. Sesi itu selalu ditutup tepuk tangan. Bahan tulisannya lazimnya datang dari kejadian sehari-hari, seperti halnya lirik lagu yang lahir dari pengamatan atas orang di sekitar.
Mekanisme yang paling menarik justru bernama PR alias pekerjaan rumah. Setiap pekan Endah memberi instruksi menulis lagu, dan hasilnya dibawakan pada pertemuan berikutnya. Endah mengaku mengambil idenya dari arisan, perkumpulan simpan pinjam bergilir yang lazim dikelola perempuan di desa-desa Jawa, lengkap dengan lotre untuk menentukan giliran. “Jadi ada sesuatu yang mengikat orang. Kalau yang mengikat ibu-ibu di kampung dalam arisan itu uang, di sini karyamu,” kata Endah dalam wawancara yang dicatat Arya. Yang dipertukarkan bukan modal uang, melainkan modal karya. Cara serupa — menjadikan karya sebagai pengikat kelompok — juga bisa ditemukan pada tradisi musik lisan yang diwariskan lewat perkumpulan di banyak daerah.
Showcase bulanan menaikkan taruhannya. Anggota terpilih, dikurasi Endah, tampil satu set penuh di Earspace, studio berukuran sekitar 7 kali 5 meter di lantai dua Earhouse, lengkap dengan ruang kontrol berkaca besar. Karena digelar di studio yang tertata, penonton diminta membayar sekitar Rp30.000 yang mereka sebut upeti. Uang itu dikelola para pengabdi dan dipakai untuk kebutuhan komunitas. Di salah satu showcase awal, ketika ada penampil membawakan lagu yang belum dirilis, penonton meneriakkan “Rilis! Rilis! Rilis!” — sebuah isyarat bahwa lagu itu dianggap sudah matang untuk dilepas ke publik.
Malam yang Tak Selesai di Halaman Depan
Setiap pertemuan dan showcase ditutup dengan tos telapak tangan. Sesudah itu anggota biasanya berkumpul di halaman depan, mengobrol sampai larut, kadang sampai pagi. Inilah yang Arya sebut afterparty. Hadi, anggota yang datang sebagai penulis dan penyair alih-alih penulis lagu, menyebutnya dengan singkat: di sini ada afterparty. Pada momen itu orang bertanya soal pengaruh musik masing-masing, memuji penampilan sebelumnya, bergosip tentang komunitas lain, mempromosikan karya, atau sekadar bercerita tentang harinya. Musisi tamu yang diundang pun jadi lebih terbuka untuk ditanyai secara informal.
Vanessa, salah satu anggota, menekankan bahwa yang penting bukan pujiannya, melainkan pembahasannya. “Yang membuat saya senang adalah adanya diskusi ini [...] yang mencakup perspektif mereka sendiri dan orang lain, dan rasa ingin tahu yang ingin mereka bicarakan dengan saya. Jadi, tidak pernah selalu soal memuji diri sendiri,” katanya. Bagi Arya, obrolan semacam itu adalah proses produksi pengetahuan bersama, tempat dialog menggantikan persaingan. Ia juga jujur mencatat bahwa afterparty inilah yang memberinya sebagian besar data, sekaligus memperkenalkannya pada narasumber-narasumbernya.
Pagar-Pagar Selera di Skena Musik
Kebiasaan mengapresiasi itu, menurut Arya, tumbuh dari pengalaman pribadi Endah. Ia sendiri dilatih dengan cara keras dan kritik tanpa tedeng aling-aling, sementara Rhesa justru berkembang tanpa tekanan semacam itu. “Saya tidak mau orang berhenti menulis lagu karena ditekan,” kata Endah. Ia juga menyebut kegiatan klub itu sebagai latihan mendengarkan: menurutnya, tidak ada pertunjukan bila tidak ada yang mendengarkan. Sebelumnya Endah sempat singgah di beberapa lingkungan — Warung Apresiasi yang digerakkan Kelompok Penyanyi Jalanan dan ia sebut liar, Komunitas Jazz Kemayoran yang ia rasakan lebih bebas, serta Potlot di Kalibata yang mengajarinya pentingnya berkumpul.
Latar sebaliknya datang dari cerita para anggota. Bhisma bercerita pernah berada di lingkungan bermusik yang menertawakan cara ia menyanyi, sementara Vanessa pernah bergabung dengan komunitas seni yang dihuni sosok abang-abangan yang memagari pengetahuan seni dan musik. Arya menempatkan pengalaman itu dalam gejala yang lebih luas yang ia sebut musical gatekeeping, mulai dari music snob yang menolak genre populer sambil memamerkan selera non-arus utama, kata skena yang dipakai menyeleksi gaya hidup dan kebiasaan mendengarkan, sampai kasus pada pertengahan Oktober 2025 yang viral setelah diunggah sebuah media budaya populer daring: seorang mahasiswa asal Kediri bernama Ruli yang di kampusnya di Ciputat diolok karena menyukai lagu pop Jawa Denny Caknan, sementara teman-temannya menggemari band independen. Gejala ini mengingatkan pada apa yang oleh Jeremy Wallach disebut gengsi, yakni kesadaran status dalam mendengarkan musik, dan sebagian besar perdebatannya kini berlangsung di lini masa media sosial.
Melawan pagar-pagar itu, tulis Arya, klub tersebut membentuk apa yang oleh Victor Turner disebut communitas, keadaan ketika perbedaan status sesama anggota melebur. “Tanpa apresiasi, berbagi pengetahuan musik di ESC tidak akan seefektif itu,” tulisnya. Arya juga menandai batas temuannya sendiri: kasus yang ia teliti hanya satu komunitas di satu kota selama kira-kira lima bulan, kasus gatekeeping yang ia pakai sebagai latar terjadi dua tahun setelah kerja lapangannya selesai, dan gagasan appreciative commoning masih perlu diuji pada konteks lain sebelum bisa dipakai lebih jauh. Ia menambahkan bahwa posisinya sendiri berlapis-lapis — peneliti, penggemar lama Endah N Rhesa, sekaligus penulis lagu amatir yang baru bergabung — sesuatu yang membuatnya, meminjam istilahnya, menjadi etnografer yang tidak nyaman. Pertemuan mingguan klub itu masih berjalan sampai artikelnya terbit, sementara Arya kini meneliti kultur sound system yang dikenal sebagai sound horeg di Jawa Timur, mendekati para kru sound, pendengar, dan pembuat kontennya.















