Cekricek.id — Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (Africa CDC) mendesak pengerahan segera vaksin Ervebo untuk menahan wabah Ebola galur Bundibugyo di Republik Demokratik Kongo. Jumlah kasus terkonfirmasi menembus 4.665 dengan 2.184 kematian, menjadikan wabah ini yang terbesar sepanjang sejarah pencatatan di negara tersebut.
Enam Provinsi, 54 Zona Kesehatan
Mengutip laporan CGTN, Sabtu (15/8/2026), tingkat kematian kasus berada di angka 46,8 persen, sementara 965 pasien dinyatakan sembuh. Penularan tercatat di 54 zona kesehatan yang tersebar di enam provinsi, yaitu Bas-Uele, Haut-Uele, Ituri, Kivu Utara, Kivu Selatan, dan Tshopo. Ituri tetap menjadi episentrum wabah.
Sehari sebelumnya, Jumat (14/8/2026), kantor berita Xinhua mencatat 4.449 kasus terkonfirmasi dan 2.061 kematian dengan tingkat kematian kasus 46,3 persen. Selisih dua laporan itu memperlihatkan lebih dari dua ratus kasus baru dan seratus kematian tambahan hanya dalam satu hari pelaporan.
Dikutip dari laman resmi Organisasi Kesehatan Dunia, who.int, Sabtu (1/8/2026), wabah bermula pada 15 Mei 2026 di zona kesehatan Mongbwalu, Provinsi Ituri, dan disebabkan virus Bundibugyo — galur Ebola yang jarang muncul. Selain di Kongo, kasus terkait wabah ini tercatat di Uganda dan satu kasus di Prancis. Laporan PBB, Senin (3/8/2026), menyebut wabah ini sudah melampaui epidemi 2018–2020 yang mencatat 3.317 kasus, sehingga menjadi yang terbesar yang pernah tercatat di Kongo.
Vaksin yang Tidak Dirancang untuk Galur Ini
Ervebo adalah vaksin berlisensi untuk galur Zaire, bukan Bundibugyo. Meski begitu, pemerintah Kongo mengajukan permintaan 100.000 dosis kepada International Coordinating Group on Vaccine Provision, badan yang mengatur alokasi vaksin untuk situasi darurat. Keputusan memperluas pemakaiannya diambil dalam pertemuan krisis yang melibatkan Presiden Kongo Félix Tshisekedi, pimpinan Africa CDC, dan Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus.
Direktur Jenderal Africa CDC Jean Kaseya menyebut langkah itu sebagai kemajuan besar dalam penanganan wabah yang, menurut dia, meningkat sangat cepat.
Baca juga: WHO: Wabah Ebola di Kongo Sudah Menyebar Sejak Februari, Tiga Bulan Sebelum Diumumkan
“The current emergency risks becoming the deadliest the country has faced, and we cannot allow that trajectory to continue,” ujar Kaseya. Dalam pernyataan berbahasa Inggris itu ia menyatakan darurat kesehatan yang berlangsung berisiko menjadi yang paling mematikan yang pernah dihadapi Kongo, dan hal itu tidak boleh dibiarkan berlanjut.
Kaseya menyebut vaksinasi sebagai pendekatan strategis untuk menekan angka sakit berat dan kematian. Ia menegaskan vaksinasi harus memperkuat, bukan menggantikan, komponen respons lain seperti pelacakan kontak, pemakaman aman, dan perawatan pasien.
Baca juga: Stetoskop AI Terbukti Sering Lewatkan Murmur Jantung pada Kucing dan Anjing
Pelacakan Kontak Jauh dari Target
Dikutip dari laman resmi Africa CDC, africacdc.org, Senin (10/8/2026), hanya sekitar 10 persen dari perkiraan jumlah kontak yang berhasil didaftarkan petugas. Dari kontak yang sudah terdaftar pun, baru sekitar 70 persen yang benar-benar dipantau, di bawah target operasional 95 persen. Empat dari lima infeksi baru muncul di luar rantai penularan yang sudah diketahui.
Lebih dari 60 persen kematian terjadi di komunitas, bukan di fasilitas perawatan. Pola itu menandakan banyak penderita meninggal tanpa pernah tersentuh sistem kesehatan, sekaligus memperbesar risiko penularan pada keluarga dan penyelenggara pemakaman. Pada awal Agustus, wabah sudah meluas dari 11 zona kesehatan di satu provinsi menjadi 53 zona di lima provinsi hanya dalam kurun 12 pekan.
Prioritas Penerima Dosis
Kampanye vaksinasi yang diperluas menyasar tenaga kesehatan, petugas kesehatan komunitas, tim pemakaman, pemuka agama dan tokoh masyarakat, serta penduduk di zona dengan penularan tinggi. Africa CDC menyatakan pemakaian Ervebo dilakukan di bawah protokol yang disepakati bersama otoritas kesehatan Kongo dan WHO.
Kondisi lapangan mempersulit pekerjaan itu. Laporan PBB, Senin (3/8/2026), menyebut sekitar 270.000 orang mengungsi dan tinggal di kamp-kamp di Ituri, lingkungan yang membuat penularan mudah menyebar. Penjabat Kepala Program Pangan Dunia (WFP) Carl Skau menggambarkan situasi itu dalam pernyataan berbahasa Inggris.
“Ebola is moving fast, hitting people already facing conflict and hunger. Communities are key to ending it, but need support,” kata Skau. Ia menyebut wabah bergerak cepat dan menghantam penduduk yang sudah menghadapi konflik dan kelaparan, sementara komunitas menjadi kunci penyelesaiannya tetapi membutuhkan dukungan.
Baca juga: Terumbu Karang Groote Archipelago Dipetakan Ilmuwan, Ungkap Dampak Pemutihan Massal
WHO menyatakan perpaduan situasi tidak aman, perpindahan penduduk, dan mobilitas lintas batas menyulitkan operasi respons sekaligus meningkatkan risiko penyebaran geografis. Sebuah pusat perawatan berkapasitas 100 tempat tidur yang dibuka International Medical Corps menambah kapasitas yang sebelumnya berkisar 900 tempat tidur. Permintaan 100.000 dosis Ervebo masih menunggu keputusan alokasi.


















