Cekricek.id — Harga minyak dunia melonjak menjelang akhir pekan setelah rentetan serangan terhadap kapal tanker di dekat Selat Hormuz dan kebuntuan perundingan gencatan senjata memicu kekhawatiran pasokan. Pada perdagangan Jumat (14/8/2026), minyak mentah Brent naik 1,45 dolar AS atau 1,67 persen menjadi 88,52 dolar AS per barel, sementara patokan Amerika Serikat West Texas Intermediate (WTI) menguat 1,15 dolar AS atau 1,42 persen ke 82,40 dolar AS per barel.
Dalam hitungan sepekan, Brent membukukan kenaikan sekitar 6 persen dan WTI sekitar 5,4 persen. Dengan kurs sekitar Rp16.300 per dolar AS, harga Brent setara sekitar Rp1,44 juta per barel. Mengutip laporan Reuters, Jumat (14/8/2026), lonjakan itu terjadi setelah serangan baru terhadap tanker, ketiadaan kemajuan dalam kesepakatan damai, hingga serangan drone terhadap terminal ekspor Rusia di Laut Hitam.
Kenaikan mingguan sebesar itu termasuk yang terkuat dalam beberapa bulan terakhir dan membalik tren pelemahan yang membayangi pasar minyak sepanjang paruh pertama 2026, ketika pasokan berlimpah dan permintaan yang lesu menekan harga. Kembalinya premi risiko geopolitik mengingatkan pelaku pasar bahwa gangguan pada jalur pelayaran utama masih menjadi ancaman nyata bagi keseimbangan pasokan global.
Baca juga: Penjualan Ritel AS Anjlok 0,6 Persen di Juli, Keyakinan Konsumen Merosot
Serangan tanker dan kebuntuan Iran
Pemicu utama reli adalah rangkaian serangan terhadap kapal tanker di dekat Selat Hormuz, jalur pelayaran yang dilalui hampir seperlima pasokan minyak dunia, di tengah macetnya negosiasi antara Washington dan Teheran. Ketegangan itu mengembalikan premi risiko ke pasar minyak yang sepanjang paruh pertama tahun ini cenderung tertekan pasokan berlimpah.
“We’re getting a rally going into the weekend after new attacks on tankers and lack of progress on a cease-fire agreement,” kata Andrew Lipow, Presiden Lipow Oil Associates. Dalam pernyataan berbahasa Inggris itu ia menegaskan reli menjelang akhir pekan dipicu serangan baru terhadap tanker dan mandeknya kesepakatan gencatan senjata.
Analis lain menyoroti sensitivitas pasar terhadap berita keamanan pelayaran. “That’s the headline that pushed up prices: Tankers attacked,” ujar Phil Flynn, Analis Senior pada Price Futures Group, merujuk kabar serangan tanker yang mengerek harga. Ancaman Amerika Serikat untuk memberlakukan blokade laut terhadap Iran secara tak terbatas turut memperkeruh sentimen.
Baca juga: Prabowo Umumkan Pusat Finansial Internasional Indonesia di Nota Keuangan 2027
Ancaman sanksi baru dari Washington
Tekanan tambahan datang dari sisi kebijakan. Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent mengisyaratkan paket pembatasan baru yang lebih keras terhadap negara sasaran. “Watch this space for more announcements coming next week because we are going to apply measures like have never been seen in the history of economic isolation of a country,” kata Bessent. Ia menyebut langkah yang akan diumumkan pekan depan sebagai isolasi ekonomi yang belum pernah terjadi dalam sejarah terhadap sebuah negara.
Di sisi Rusia, serangan drone terhadap terminal ekspor di Novorossiysk di pesisir Laut Hitam menambah kekhawatiran gangguan pasokan. Novorossiysk merupakan salah satu pintu ekspor utama minyak Rusia dan negara pengekspor kawasan, sehingga setiap gangguan di sana cepat merambat ke harga acuan global.
Pasokan dinilai masih longgar
Kendati harga melonjak, sejumlah analis mengingatkan bahwa fundamental pasokan masih relatif longgar sehingga reli berbasis risiko geopolitik berpotensi tak bertahan lama. “Storage is holding up much better than feared, which should pull oil prices lower,” kata Norbert Rucker, Kepala Riset Ekonomi dan Next Generation di Julius Baer. Dalam pernyataan berbahasa Inggris itu ia menilai stok minyak jauh lebih baik dari kekhawatiran, yang semestinya menekan harga.
Baca juga: DPR Terima 4 Nama Calon Pimpinan Bank Indonesia, Destry Damayanti Diusulkan Jadi Gubernur
Bagi konsumen, kenaikan harga acuan berpotensi merembet ke harga bahan bakar dan biaya logistik bila bertahan lama. Namun sejarah menunjukkan lonjakan yang dipicu ketegangan geopolitik kerap surut begitu ancaman langsung terhadap pasokan mereda, terutama jika stok global tetap memadai. Selisih antara premi risiko dan kondisi pasokan yang longgar itulah yang kini membuat arah harga sulit ditebak.
Pasar kini menanti langkah lanjutan Washington terhadap Iran serta perkembangan di jalur pelayaran Timur Tengah pada awal pekan depan. Kombinasi ketegangan keamanan dan potensi sanksi baru membuat harga minyak rentan bergerak liar dalam waktu dekat, sementara data stok dan produksi akan menjadi penentu arah setelahnya.


















