Penjualan Ritel AS Anjlok 0,6 Persen di Juli, Keyakinan Konsumen Merosot

Ilustrasi aktivitas belanja ritel

Ilustrasi aktivitas belanja di sebuah pusat perbelanjaan. [Foto: Pexels]

Cekricek.id — Penjualan ritel di Amerika Serikat turun 0,6 persen pada Juli 2026, penurunan terdalam dalam lebih dari setahun, sementara keyakinan konsumen anjlok sekitar delapan persen pada Agustus. Data yang dirilis akhir pekan lalu itu memperkuat sinyal bahwa daya beli rumah tangga Amerika mulai kehabisan tenaga di tengah harga energi yang tinggi.

Mengutip laporan Reuters, Jumat (14/8/2026), Departemen Perdagangan Amerika Serikat mencatat nilai penjualan ritel Juli sebesar 763,6 miliar dolar AS atau sekitar 12.370 triliun rupiah dengan kurs perkiraan 16.200 rupiah per dolar. Penurunan itu menjadi yang pertama dalam sembilan bulan sekaligus yang paling tajam sejak pertengahan 2025. Pelemahan tersebut terjadi setelah dorongan dari pengembalian pajak pemerintah, yang sempat mengangkat belanja pada bulan-bulan sebelumnya, mulai memudar. Meski begitu, secara tahunan penjualan ritel masih tumbuh sekitar 5 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Dalam laporan tersebut, ekonom kepala Navy Federal Credit Union, Heather Long, menilai konsumen Amerika mulai kelelahan. “American consumers are showing signs of fatigue. July retail sales were disappointing on all levels,” kata Long. Ia menambahkan bahwa meski pengeluaran untuk bahan bakar menurun pada Juli, warga tetap enggan berbelanja untuk kebutuhan lain. “Even with lower spending on gas in July, consumers weren’t eager to spend elsewhere,” ujarnya.

Baca juga: Prabowo Umumkan Pusat Finansial Internasional Indonesia di Nota Keuangan 2027

Long juga menduga sebagian konsumen telah memajukan belanja mereka ke Juni. Menurut dia, warga “brought forward their spending to capitalize on online sales events in June” atau memanfaatkan berbagai ajang diskon daring pada bulan sebelumnya, sehingga permintaan pada Juli ikut tertekan. Hal itu tercermin dari penjualan daring yang justru merosot pada Juli.

Rincian Sektor yang Melemah

Pelemahan terjadi hampir merata di sejumlah sektor. Penjualan kendaraan bermotor dan suku cadang turun 1,8 persen dari bulan sebelumnya, penjualan daring merosot 2,2 persen, dan penjualan di stasiun pengisian bahan bakar turun 0,9 persen. Penjualan di toko bahan makanan juga tercatat menurun. Di luar kendaraan dan bahan bakar, penjualan ritel masih turun 0,2 persen, menandakan pelemahan tidak semata dampak harga energi. Long turut mencatat belanja untuk hobi stagnan pada bulan itu. “It’s notable that in July, hobby spending was flat,” katanya.

Baca juga: DPR Terima 4 Nama Calon Pimpinan Bank Indonesia, Destry Damayanti Diusulkan Jadi Gubernur

Keyakinan Konsumen dan Ekspektasi Inflasi

Survei Universitas Michigan menunjukkan indeks keyakinan konsumen turun sekitar delapan persen pada Agustus dibandingkan Juli, mencerminkan kekhawatiran warga terhadap kondisi ekonomi dan harga kebutuhan pokok. Pada saat yang sama, ekspektasi inflasi untuk setahun ke depan naik tipis dari 4,2 persen pada Juli menjadi 4,3 persen pada Agustus. Kombinasi belanja yang melemah dan ekspektasi inflasi yang menanjak menempatkan rumah tangga Amerika dalam tekanan ganda.

Ekonom Pantheon Macroeconomics, Oliver Allen, memperkirakan tekanan terhadap belanja rumah tangga belum akan reda dalam waktu dekat. “The lift to households’ cash flows from tax refunds now is gone, higher energy prices will continue to put pressure on their finances, the underlying trend in income growth is weak, and the personal saving rate has little scope to fall further,” kata Allen. Ia menilai dorongan dari pengembalian pajak yang sempat mengangkat arus kas rumah tangga kini telah habis, sementara ruang untuk menekan tingkat tabungan pribadi semakin sempit.

Bayang-bayang Perang dan Harga Energi

Menurut laporan itu, harga energi melonjak sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan perang terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Iran membalas dengan menyerang sejumlah sekutu di kawasan Teluk dan mengganggu sekitar seperlima pasokan minyak dan gas global. Akibatnya, harga bensin reguler di Amerika Serikat naik lebih dari 35 persen sejak perang dimulai, meski sedikit mereda pada Juli seiring munculnya harapan perdamaian. Lonjakan harga energi itu menggerus daya beli sekaligus mendorong ekspektasi inflasi warga.

Baca juga: Konjen AS Puji Ekosistem UMM, Siap Perluas Kolaborasi Pendidikan dan Riset

Data belanja konsumsi pribadi atau personal consumption expenditures dijadwalkan terbit pada 26 Agustus, yang akan memberi gambaran lebih lengkap mengenai pola pengeluaran warga Amerika. Sementara itu, angka penjualan ritel untuk Agustus baru akan dirilis pada pertengahan September mendatang.

Baca Juga

Kapal kargo melintasi jalur pelayaran
Maersk dan Hapag-Lloyd Kembalikan Layanan AE19 ke Terusan Suez
Peti kemas menumpuk di dermaga sebuah pelabuhan
Gedung Putih Tuding 40 Negara Bantu China Kelabui Tarif, Indonesia Disebut
Kendaraan militer dengan latar gedung-gedung kota di Taiwan
Parlemen Taiwan Sahkan Anggaran 93 Miliar Dolar Usai Buntu 266 Hari
Gedung-gedung perkantoran di kawasan bisnis Jakarta
Prabowo Umumkan Pusat Finansial Internasional Indonesia di Nota Keuangan 2027
Komponen drone dirakit di atas meja kerja
AS Kenakan Tarif hingga 100 Persen bagi Drone Impor, Uni Eropa Dibatasi 15 Persen
Kendaraan lapis baja dan bendera Korea Selatan serta Amerika Serikat
Korut Ancam Balasan Berlipat Jelang Latihan Militer Korsel-AS