Cekricek.id — Harga emas bertahan di atas 4.400 dolar AS per ons pada akhir pekan setelah data inflasi Amerika Serikat yang melunak memangkas ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral. Emas di pasar spot diperdagangkan di kisaran 4.419,60 dolar AS per ons pada Jumat (14/8/2026), membukukan kenaikan sekitar 3,1 persen dibanding sepekan sebelumnya. Dengan kurs sekitar Rp16.300 per dolar AS, harga itu setara sekitar Rp72 juta per ons.
Mengutip laporan Yahoo Finance, finance.yahoo.com, Jumat (14/8/2026), penguatan logam mulia didorong serangkaian laporan inflasi yang mereda sehingga pelaku pasar mengurangi taruhan bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga. Perangkat CME FedWatch menunjukkan peluang suku bunga dipertahankan pada September mencapai 69,4 persen, naik tajam dari 42 persen sebulan sebelumnya.
Inflasi mereda menahan langkah The Fed
Emas cenderung diuntungkan ketika ekspektasi suku bunga turun, sebab logam mulia yang tidak memberi imbal hasil menjadi relatif lebih menarik dibanding aset berbunga. Melunaknya data harga di Amerika Serikat membuat pasar menilai bank sentral tak lagi terdesak mengetatkan kebijakan, sehingga minat terhadap emas sebagai penyimpan nilai kembali menguat.
Baca juga: Penjualan Ritel AS Anjlok 0,6 Persen di Juli, Keyakinan Konsumen Merosot
Kenaikan pekan ini melanjutkan reli panjang emas sepanjang 2026 yang ditopang ketidakpastian kebijakan moneter, pelemahan dolar pada periode tertentu, serta permintaan aset lindung nilai di tengah gejolak geopolitik. Harga di dekat rekor membuat sebagian investor menimbang ulang porsi logam mulia dalam portofolio mereka.
Emas menjadi salah satu aset dengan kinerja terbaik sepanjang 2026, berkali-kali mencetak rekor seiring perpindahan dana ke aset aman. Kombinasi ketidakpastian arah kebijakan moneter, ketegangan perdagangan, dan gejolak geopolitik membuat permintaan terhadap logam mulia bertahan tinggi meski harga sudah berada di level yang secara historis mahal.
Daya tarik emas sebagai pelindung nilai
Sejumlah pengelola dana menilai emas tetap relevan sebagai pelindung nilai di tengah pelemahan daya beli mata uang. “gold keeps with inflation and gold retains its purchasing power,” kata Vince Stanzione, CEO dan Pendiri First Information, seraya menambahkan bahwa mata uang kertas terus terdevaluasi di berbagai belahan dunia. Dalam pernyataan berbahasa Inggris itu ia menekankan emas mengikuti laju inflasi dan mempertahankan daya belinya.
Baca juga: DPR Terima 4 Nama Calon Pimpinan Bank Indonesia, Destry Damayanti Diusulkan Jadi Gubernur
Blake McLaughlin, Wakil Presiden Eksekutif Axcap Ventures, menilai emas menawarkan sejumlah karakteristik yang makin sulit diabaikan investor. “Gold may not offer the outsized return potential of private investments, but the metal holds a set of attributes that are increasingly hard to ignore,” ujarnya. Ia mengakui potensi imbal hasil emas mungkin tak sebesar investasi privat, tetapi atribut logam mulia itu kian menonjol.
Pergerakan emas juga berkaitan erat dengan nilai tukar dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah. Ketika ekspektasi kenaikan suku bunga surut, imbal hasil cenderung melandai dan dolar melemah, dua faktor yang biasanya menopang harga logam mulia yang dihargai dalam dolar.
Peringatan soal imbal hasil jangka panjang
Tidak semua pihak sepakat menambah bobot emas dalam portofolio. Robert R. Johnson, Guru Besar pada Heider College of Business Creighton University, mengingatkan biaya kesempatan memegang logam mulia. “while having a small position in precious metals may dampen portfolio volatility in the short-run, the tradeoff between slightly dampened volatility and the lost long-term return is certainly not a prudent one,” kata Johnson. Ia menilai posisi kecil pada logam mulia memang bisa meredam gejolak jangka pendek, tetapi mengorbankan imbal hasil jangka panjang.
Baca juga: Prabowo Umumkan Pusat Finansial Internasional Indonesia di Nota Keuangan 2027
Level harga yang tinggi turut mengubah perilaku pembeli. Sebagian investor ritel menahan pembelian perhiasan dan koin, sementara pengelola dana institusional cenderung memperlakukan emas sebagai penyeimbang portofolio ketimbang instrumen spekulatif jangka pendek.
Arah harga emas selanjutnya akan sangat bergantung pada nada Federal Reserve dan rilis data ekonomi Amerika Serikat berikutnya. Pasar menanti sinyal lebih jelas soal kapan bank sentral akan bergerak, yang akan menentukan apakah reli logam mulia berlanjut atau terkoreksi dari level tingginya. Selain kebijakan bank sentral, permintaan fisik dari sejumlah bank sentral dunia serta arus dana ke produk investasi berbasis emas akan menjadi faktor penentu lain yang dicermati pelaku pasar dalam beberapa pekan ke depan.


















