Cekricek.id — Dari 105 pasien lupus di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta, yang terpaksa berganti obat imunosupresan bukan karena keputusan dokternya, 83 orang — sekitar 79 persen — berganti semata karena obatnya tidak tersedia atau stoknya kosong. Selama masa pemantauan, 30 dari 105 orang itu mengalami peningkatan aktivitas penyakit. Pada kelompok pembanding yang tetap memakai obat rumatannya, angka itu 15 dari 108 orang.
Temuan tersebut dilaporkan Rosvitha Amanda, Sukamto Koesnoe, Alvina Widhani, Ikhwan Rinaldi, Adityo Susilo, Juferdy Kurniawan, Rudi Putranto, dan Birry Karim dari Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta, lewat artikel Hubungan Penggantian Imunosupresan Tidak Terencana dengan Aktivitas Penyakit Lupus Eritematosus Sistemik: Studi Kohort Retrospektif di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta, yang terbit dalam Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol. 13 No. 2 pada 2026.
Studi ini berdesain kohort retrospektif dan hanya menelaah rekam medis satu rumah sakit, yaitu RSCM Jakarta, untuk periode Januari 2019 sampai April 2025. Penelitian memperoleh persetujuan etik dari Komite Etik Penelitian Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia bernomor KET-1071/I/UN2.F1/ETIK/PPM.00.02/2025 dan izin lokasi dari RSCM bernomor DP.04.03/D.IX.1.33/0822/2025.
Baca juga: Sisi Batu yang Tak Pernah Dibaca Akhirnya Terbuka Lewat Fotogrametri
Lima Ratus Lima Puluh Tiga Rekam Medis
Lupus eritematosus sistemik atau LES adalah penyakit autoimun kronik yang menyerang banyak sistem organ dan berjalan dengan pola kambuh dan reda. Penulisnya mengingatkan, meski diagnosis dan terapinya sudah maju, angka kematian pasien lupus tetap dua sampai tiga kali lebih tinggi dibanding populasi umum, dan eksaserbasi penyakit — dalam istilah klinis disebut flare — masih menjadi penyumbang utama kesakitan serta kerusakan organ jangka panjang. Bahkan setelah mencapai remisi atau keadaan aktivitas penyakit rendah, 40 sampai 60 persen pasien masih bisa kambuh dalam 5 sampai 10 tahun.
Tulang punggung tata laksana lupus derajat sedang hingga berat adalah obat imunosupresan, yang menekan kerja sistem kekebalan agar berhenti menyerang tubuh sendiri. Yang lazim dipakai meliputi mikofenolat, azatioprin, metotreksat, penghambat kalsineurin, dan siklofosfamid, sementara hidroksiklorokuin menjadi terapi dasar. Karena itu, kesinambungan terapi bukan urusan administratif belaka.
Penulisnya membedakan dua jenis penggantian obat. Penggantian terencana didasarkan pada respons terapi, efek samping, atau rekomendasi panduan — artinya ada pertimbangan medis di belakangnya. Penggantian tidak terencana terjadi karena faktor non-medis: stok obat kosong, kendala pembiayaan, atau masalah distribusi. Studi ini mendefinisikan penggantian tidak terencana secara khusus sebagai perubahan regimen atas alasan ketidaktersediaan obat, termasuk kekosongan stok atau gangguan pengadaan.
Untuk mengumpulkan peserta, tim menelaah 553 rekam medis pasien lupus yang berobat di RSCM sepanjang periode itu dengan metode pengambilan sampel menyeluruh. Kriteria inklusinya pasien dewasa berusia 18 tahun ke atas yang terdiagnosis lupus menurut kriteria American College of Rheumatology dan European League Against Rheumatism tahun 2019, dan sedang menjalani terapi imunosupresan rumatan. Yang dikeluarkan antara lain penggantian terencana atas indikasi klinis, kehamilan, penyakit autoimun tumpang tindih, infeksi akut berat yang memaksa penghentian terapi, pemakaian imunosupresan pengganti kurang dari empat minggu, serta rekam medis yang tidak lengkap. Hasil akhirnya 213 subjek: 105 orang di kelompok penggantian dan 108 orang di kelompok yang melanjutkan terapi rumatan.
Hampir seluruh peserta perempuan, yaitu 98 persen di kedua kelompok, dengan median usia 35 tahun pada kelompok penggantian dan 37 tahun pada kelompok rumatan. Karakteristik dasar keduanya sebanding secara umum, tetapi kelompok penggantian cenderung memiliki proporsi lebih tinggi untuk anemia, keterlibatan ginjal, dan titer anti-dsDNA tinggi — keterlibatan ginjal misalnya tercatat pada 60,95 persen kelompok penggantian berbanding 39,81 persen kelompok rumatan.
Ketika Stok Obat di Apotek Habis
Dari 105 pasien yang mengalami penggantian tidak terencana, 83 orang atau 79 persen berganti karena obatnya tidak tersedia atau stoknya kosong. Sisanya, 22 orang atau 21 persen, tercatat berganti akibat efek samping, intoleransi, atau toksisitas. Alasan penggantian dikonfirmasi lewat dokumentasi klinisi dan catatan farmasi dengan penelusuran kata kunci seperti perubahan terapi, stok kosong atau tidak ada dalam persediaan, serta efek samping dan alergi. Ekstraksi datanya dikerjakan dua penelaah independen.
Aktivitas penyakit diukur memakai skor MEX-SLEDAI, versi Meksiko dari indeks aktivitas penyakit lupus. Batasan kambuh yang dipakai penulisnya adalah kenaikan skor MEX-SLEDAI lebih dari 3 poin atau minimal 4 poin dibanding penilaian sebelumnya. Pasien dipantau sampai 12 bulan atau sampai regimen penggantinya selesai.
Selama pemantauan, 45 dari 213 pasien atau 21,1 persen mengalami peningkatan aktivitas penyakit. Sebarannya timpang: 30 dari 105 orang atau 28,6 persen pada kelompok penggantian tidak terencana, berbanding 15 dari 108 orang atau 13,9 persen pada kelompok yang melanjutkan terapi rumatan. Pada analisis dua arah, penggantian tidak terencana berhubungan bermakna dengan peningkatan aktivitas penyakit dengan risiko relatif 2,06 dan interval kepercayaan 95 persen 1,18 sampai 3,60 pada nilai p 0,011 — kira-kira dua kali lipat dibanding pasien yang meneruskan obatnya.
Setelah disesuaikan terhadap faktor perancu, hubungan itu bertahan meski melemah. Hanya glukokortikoid dosis tinggi yang memenuhi kriteria perancu dengan perubahan estimasi 13,3 persen, sedangkan infeksi dan titer anti-dsDNA tinggi menghasilkan perubahan kurang dari 10 persen. Setelah penyesuaian, risiko relatif terkoreksinya 1,82 dengan interval kepercayaan 95 persen 1,05 sampai 3,15 pada nilai p 0,034. Perlu ditegaskan, ini hubungan statistik pada kumpulan rekam medis, bukan pembuktian bahwa pergantian obat menyebabkan kambuhnya penyakit.
Baca juga: Satu Butir Pati di Gigi Rangka Plawangan Ternyata Bukan Gandum
Bulan Pertama sampai Ketiga yang Paling Rawan
Analisis subkelompok memberi gambaran waktu. Median lama pemakaian obat pengganti adalah 5 bulan dengan rentang 1 sampai 24 bulan. Di antara pasien yang kambuh setelah berganti obat, median waktu sampai kambuh hanya 2 bulan dengan rentang 1 sampai 9 bulan. Sebagian besar kejadian menumpuk pada bulan pertama hingga ketiga, lalu menurun setelah bulan keenam.
Jenis peralihan obat yang paling banyak diikuti eksaserbasi adalah dari asam mikofenolat ke azatioprin, dari asam mikofenolat ke siklosporin, dan dari asam mikofenolat ke mikofenolat mofetil — masing-masing 5 dari 30 kasus. Angka-angka itu kecil dan penulisnya tidak mengujinya satu per satu, sehingga tidak bisa dibaca sebagai peringkat risiko antarobat.
Faktor lain yang berhubungan bermakna dengan kambuh pada analisis dua arah adalah pemakaian glukokortikoid dosis tinggi, yaitu lebih dari 5 miligram prednisolon per hari, dengan risiko relatif 3,45 dan interval kepercayaan 95 persen 1,75 sampai 6,78 pada nilai p kurang dari 0,001. Infeksi aktif juga berhubungan bermakna dengan risiko relatif 1,72 dan interval kepercayaan 95 persen 1,01 sampai 2,92 pada nilai p 0,045. Sebaliknya, durasi penyakit, anemia, titer anti-dsDNA, kadar komplemen rendah, keterlibatan organ mayor, dan jenis imunosupresan awal tidak menunjukkan hubungan bermakna.
Penulisnya menafsirkan hubungan dosis kortikosteroid itu dengan hati-hati. Pola tersebut, tulis mereka, kemungkinan mencerminkan confounding by indication, yakni keadaan ketika pasien yang menerima dosis lebih tinggi memang sudah memiliki penyakit yang lebih aktif sejak awal — jadi bukan dosis obatnya yang membuat penyakit memburuk.
Mikofenolat dan Perbandingan dengan Kohort Jepang
Ada satu temuan yang bersifat menenangkan di tengah kabar buruk. Ketika penggantian memang tidak terhindarkan, regimen pengganti berbasis mikofenolat berkaitan dengan risiko peningkatan aktivitas penyakit yang lebih rendah dibanding regimen non-mikofenolat, dengan risiko relatif 0,50 dan interval kepercayaan 95 persen 0,27 sampai 0,93 pada nilai p 0,025. Sebaliknya, jenis regimen imunosupresan awal, baik hidroksiklorokuin maupun mikofenolat, tidak berhubungan bermakna dengan peningkatan aktivitas penyakit.
Angka kambuh 28,6 persen pada kelompok penggantian, menurut penulisnya, sebanding dengan data yang sudah dipublikasikan. Mereka merujuk laporan Zen dan rekannya yang mencatat 24,7 persen pasien dalam remisi mengalami kambuh setelah penghentian imunosupresan, meski penghentian di studi itu direncanakan secara klinis.
Yang menarik, hasil dari Jakarta ini berlawanan arah dengan sebuah kohort retrospektif dari Jepang oleh Ayano dan rekannya, yang justru melaporkan bahwa penggantian imunosupresan memperbaiki luaran, termasuk penurunan skor aktivitas penyakit dan kebutuhan glukokortikoid. Penulisnya menjelaskan perbedaan itu berasal dari alasan penggantiannya: pada kohort Jepang mayoritas penggantian terencana karena efikasi tidak memadai sebanyak 51,3 persen atau efek samping sebanyak 35,9 persen, sedangkan di kohort RSCM lebih dari 79 persen penggantian bersifat tidak terencana dan didorong ketidaktersediaan obat. “Hal ini menegaskan bahwa konteks penggantian menentukan luaran klinis,” tulis Amanda dan rekan-rekannya dalam artikel itu.
Apa yang Tidak Bisa Dibuktikan Kohort Retrospektif
Penulisnya memaparkan keterbatasan studinya secara terbuka. “Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan, antara lain desain retrospektif yang bergantung pada kualitas rekam medis dan berpotensi menimbulkan bias informasi, variasi regimen terapi yang tidak seluruhnya dikontrol, serta analisis waktu-ke-flare yang tidak dimodelkan dengan regresi Cox sehingga interpretasi temporal menjadi terbatas,” tulis mereka.
Tiga hal itu punya konsekuensi nyata. Karena datanya diambil dari catatan yang ditulis untuk keperluan perawatan, bukan untuk penelitian, kelengkapan dan ketelitiannya bergantung pada siapa yang menulis. Karena regimen terapi peserta beragam dan tidak seluruhnya dikendalikan, sebagian perbedaan hasil bisa berasal dari faktor yang tidak tercatat. Dan karena analisis waktu sampai kambuh tidak dimodelkan dengan metode yang lazim untuk data semacam itu, temuan bahwa kambuh menumpuk di bulan pertama sampai ketiga perlu dibaca sebagai gambaran deskriptif, bukan estimasi risiko sepanjang waktu.
Baca juga: Riset Australia: Kadar CO2 dalam Darah Manusia Naik Seiring Iklim Memanas
Satu hal lagi yang membatasi jangkauan temuannya: seluruh data berasal dari satu rumah sakit rujukan nasional di Jakarta, yang pola pasien dan pola pasokan obatnya belum tentu mewakili rumah sakit lain di Indonesia.
Meski begitu, penulisnya menilai studi ini memberi wawasan baru bahwa penggantian tidak terencana merupakan risiko bermakna bagi hilangnya kendali penyakit. “Mengingat sifat kronik LES dan potensi bahaya yang ditunjukkan studi ini, jaminan akses imunosupresan yang andal seharusnya menjadi prioritas layanan kesehatan,” tulis Amanda dan rekan-rekannya. Pada bagian simpulan mereka menyarankan pemantauan klinis dan laboratorium yang lebih ketat pada pasien yang mengalami penggantian, terutama dalam satu sampai tiga bulan pertama, serta studi prospektif dengan populasi lebih besar dan beragam untuk memperjelas dampak klinisnya.
















