Naskah 1814: Bharatayuddha Diterjemahkan Kata demi Kata

Ilustrasi halaman naskah tulisan tangan kuno

Ilustrasi halaman naskah tulisan tangan kuno. [Foto: Ilustrasi/Canva]

Cekricek.id — Perempuan itu meminta izin untuk pergi. Namanya Kṣitisundarī, istri Abhimanyu, dan yang ia maksud dengan pergi adalah menyusul suaminya yang gugur di medan perang dengan cara membakar diri. Dalam naskah aslinya yang berbahasa Jawa Kuno, baris itu kurang lebih hanya berbunyi: Sundarī memohon diri, wahai sayangku. Tidak ada kata mati di sana, tidak ada kata api. Namun ketika seorang juru tulis di Yogyakarta menyalin dan menerjemahkan baris yang sama ke bahasa Jawa Modern pada 1814, ia menyisipkan satu kata yang tidak ada dalam aslinya: abela, yang berarti menyerahkan nyawa, bersiap mati bersama orang lain, mati demi orang lain.

Perubahan sekecil satu kata itu dibedah Keiko Kamiishi dari Hebrew University of Jerusalem lewat artikel Literature across generations; The Old Javanese epic poem “Bhāratayuddha” translated into Modern Javanese (Sastra lintas generasi; Kakawin Jawa Kuno Bhāratayuddha diterjemahkan ke bahasa Jawa Modern), yang terbit dalam jurnal Wacana, Journal of the Humanities of Indonesia Vol. 26 No. 3 pada 2025.

Naskah yang ia teliti tersimpan di British Library dengan nomor Add MS 12279 dan berjudul Bratayuda — ejaan Jawa Modern untuk Bhāratayuddha. Naskah itu bertarikh 1814, berasal dari lingkungan Kadipaten Pakualaman Yogyakarta, dan dibuat setahun setelah Pakualaman memisahkan diri dari Kasultanan Hamengkubuwanan. Nama juru tulisnya tercantum di awal naskah, Pun Sastrawijaya, tetapi Kamiishi menegaskan tidak ada kepastian apakah orang itu penerjemahnya atau sekadar penyalin dari naskah lain. Naskah tersebut kemudian masuk ke koleksi John Crawfurd, residen Inggris di Yogyakarta pada masa pemerintahan Britania di Jawa, 1811 sampai 1816.

Baca juga: Ketika Haji Merah Menyerang Muhammadiyah dari Mimbar dan Koran

Tiga langkah untuk satu baris puisi

Yang membuat naskah ini tidak biasa adalah cara halamannya disusun. Setiap baris puisi Bhāratayuddha dipecah menjadi tiga bagian yang ditulis beruntun tanpa ganti baris. Bagian pertama adalah baris asli Jawa Kuno apa adanya. Bagian kedua mengulang kata-kata Jawa Kuno itu satu per satu, masing-masing langsung dibuntuti padanannya dalam bahasa Jawa Modern — kecuali nama orang, yang kerap dilewati karena pembaca dianggap tidak memerlukan terjemahannya. Bagian ketiga menyusun ulang kata-kata Jawa Modern tadi menjadi satu kalimat yang utuh, kadang dengan kata ganti atau kata tambahan. Prosedur itu diulang untuk setiap baris, dari awal sampai pupuh ke-21.

Pola semacam ini berbeda dari terjemahan antarbaris yang lazim dikenal di Jawa, yaitu makna gandhul atau glosa gantung, yang dipakai di pesantren untuk membaca Al-Qur’an dan kitab-kitab berbahasa Arab, dengan terjemahan Jawa ditulis miring seolah menggantung di bawah baris Arabnya. Berbeda pula dari cara Ronggawarsita, pujangga kraton Surakarta, yang membagi halaman menjadi tiga kolom: kata Jawa Kuno di kiri, padanannya di tengah, dan terjemahan satu bait di kanan. Format kolom semacam itu, menurut T.E. Behrend yang dikutip Kamiishi, baru muncul pada 1840-an di Surakarta dan diduga dipengaruhi kerja penyusunan kamus Jawa–Belanda oleh C.F. Winter dan J.A. Wilkens dengan bantuan Ronggawarsita. Pada 1814, format itu belum ada.

Lalu mengapa penerjemah repot-repot menambahkan langkah kedua, padahal langkah pertama dan ketiga saja sudah cukup sebagai terjemahan? Kamiishi menduga itu wujud kehati-hatian. Dengan tiga tahap, proses penerjemahan menjadi kasatmata dan bisa dilacak. Naskahnya memang penuh kesalahan kecil, tetapi salah eja dan kata yang terlewat sering kali justru terkoreksi ketika berpindah dari bagian pertama ke bagian kedua. Gelar kehormatan pun kerap baru muncul di bagian ketiga, padahal tidak ada di bagian pertama dan kedua.

Kakawin yang bertahan lebih dari 800 tahun

Bhāratayuddha sendiri, menurut keterangan dalam pembukaannya, digubah di Jawa Timur pada 1157 Masehi, pada masa Kerajaan Kaḍiri. Penulisnya dua orang pujangga kraton, Mpu Sedhah dan Mpu Panuluh — satu-satunya karya sastra Jawa Kuno yang dikerjakan dua penyair. Dari 52 pupuh, sekitar tiga puluh pertama digarap Mpu Sedhah, sisanya oleh Mpu Panuluh. Ceritanya bersumber dari epos India Mahabharata, khususnya perang terakhir antara lima ksatria Pāṇḍawa dan seratus sepupu mereka, Kaurawa. Kamiishi mencatat bahwa karena Mahabharata sudah lebih dulu dialihbahasakan dari Sanskerta ke Jawa Kuno dalam bentuk prosa parwa pada akhir abad kesepuluh, naskah Pakualaman ini sebenarnya adalah penceritaan ulang dua lapis: dari Sanskerta ke Jawa Kuno, lalu berabad-abad kemudian dari Jawa Kuno ke Jawa Modern.

Yang membuat Bhāratayuddha menyimpang dari sumber Indianya justru bagian-bagian yang ditambahkan penyair Jawa: matahari terbenam di laut, bintang mengambang dalam gelap, perempuan duduk di taman istana, medan perang yang porak-poranda. Tambahan paling menonjol adalah adegan delapan perempuan meratapi kematian orang-orang terkasih mereka, dan empat di antaranya mengakhiri hidup sendiri. Adegan-adegan itu, menurut S. Supomo yang dikutip dalam artikel tersebut, merupakan “the most significant departure from the Mahābhārata” — penyimpangan paling berarti dari Mahabharata.

Helen Creese, peneliti sastra kakawin yang juga dikutip Kamiishi, menempatkan adegan-adegan semacam itu sebagai ruang bermain bagi para penyair. “Kenyataannya, sebagian besar tokoh perempuan yang berupaya mengikuti suami atau majikan mereka ke dalam kematian tampaknya murni ciptaan Jawa… Dalam penggambaran tindakan kesetiaan tertinggi itu, penyair Jawa dan Bali agaknya dapat mencurahkan bakat kreatif mereka secara bebas dengan menciptakan puisi-puisi mungil berbentuk ratapan sepasang kekasih yang dipisahkan kematian,” tulis Creese dalam kutipan yang diterjemahkan dari bahasa Inggris.

Huruf yang menandai rasa hormat

Salah satu jurang terbesar antara Jawa Kuno dan Jawa Modern adalah sistem tingkat tutur. Jawa Modern mengenal ngoko dan krama, dan aksaranya menyediakan sekelompok huruf khusus bernama aksara murda yang dipakai untuk menuliskan nama, kata ganti, dan gelar orang yang dihormati. Jawa Kuno relatif tidak memiliki perangkat itu. Bagi telinga pembaca abad kesembilan belas, teks aslinya bisa terdengar kurang santun.

Penerjemah Add MS 12279 mengisi lubang itu. Sufiks milik Jawa Kuno -nira diterjemahkan menjadi sira, dan ketika kata itu merujuk ke tokoh besar seperti Kṛṣṇa atau Arjuna, huruf s-nya ditulis dengan aksara murda. Gelar pun ditambahkan meski tidak ada dalam aslinya: putri Subhadrā dalam teks Jawa Kuno menjadi Dewi Sumbadra dalam terjemahannya. Kamiishi membandingkan gejala ini dengan temuan Ronit Ricci pada terjemahan antarbaris Babad Maulud, yang juga memberi gelar kepada tokoh yang tidak bergelar dalam teks Arabnya. Bedanya, pada Babad Maulud itu proses melokalkan bahasa Arab ke Jawa, sementara pada naskah Pakualaman ini yang berlangsung adalah proses memodernkan.

Baca juga: Satu-satunya Nisan Bertulis di Lombok Menyebut Angka Tahun 1729

Mengejar bunyi yang tidak ada padanannya

Persoalan kedua bersifat bunyi. Jawa Kuno membedakan vokal panjang dan pendek karena pengaruh Sanskerta; Jawa Modern tidak. Kadang penerjemah memilih jalan pintas. Bentuk Jawa Kuno Yudhisthireki, gabungan nama Yudhisthira dan kata tunjuk iki menurut kaidah sandhi Sanskerta, ditulisnya Yudhisthiraki. Jayadratheng, gabungan Jayadratha dan ing, ditulisnya Jayadrathing. Vokal panjang ö diganti ĕ pendek, sehingga masö menjadi masĕ. Ketelitian prosodi dikorbankan.

Namun di tempat lain ia justru berusaha keras mempertahankan bunyi panjang itu dengan alat yang ada. Vokal panjang ā kadang ditulisnya dengan menambahkan h — tanda wignyan — sehingga lumrā menjadi lumrah. Cara lain, ia menyelipkan tanda baca pada lingsa, yang fungsinya mirip koma, sesudah vokal pendek, terutama di tempat terjadi penggabungan bunyi dalam teks aslinya. Kamiishi menduga itu upaya menirukan tanda tarung dalam aksara Jawa Kuno yang berfungsi memanjangkan vokal di depannya. Jadi sementara nama-nama tokoh dimodernkan, bunyinya justru ditarik kembali ke arah Jawa Kuno.

Satu kata yang membuka rahasia sebuah adegan

Di sinilah kata abela masuk. Dalam adegan perpisahan antara Kṣitisundarī dan Uttarī, istri Abhimanyu yang lain yang sedang mengandung dan karena itu tidak ikut mati, teks Jawa Kuno sebenarnya sudah memakai banyak ungkapan untuk membakar diri: mengikuti suami ke kematian, mengabdikan kematian di medan perang, masuk ke dalam api. Tetapi pada dua baris tertentu, aslinya sama sekali tidak menyinggung soal itu — yang tertulis hanya seruan sayang, haram dyah. Justru di dua tempat itulah penerjemah menaruh kata abela.

Apakah itu kekeliruan orang yang tidak paham? Kamiishi berpendapat tidak. Kamus Jawa Kuno dan kamus Jawa Modern sama-sama merekam kata hara sebagai partikel seruan dan dyah sebagai sapaan untuk perempuan bangsawan muda, sehingga penerjemah sangat mungkin tahu artinya. Penggantian itu, menurutnya, disengaja. “Penerjemahan ini melampaui terjemahan langsung dan memasukkan makna yang tidak secara eksplisit hadir dalam aslinya, sehingga menggeser titik berat ke arah pengorbanan diri,” tulis Kamiishi dalam artikel itu, dalam kutipan yang diterjemahkan dari bahasa Inggris.

Alasannya diduga soal kejelasan. Bagi pembaca Jawa kuno, kaitan adegan itu dengan pembakaran diri sudah terang dengan sendirinya, sehingga penyairnya justru memilih mengisyaratkannya lewat kiasan. Setelah Islamisasi dan modernisasi, kebiasaan tersebut menjadi asing, sementara naskah ini tidak menyediakan ruang untuk catatan atau penjelasan. Kamiishi juga mengingatkan bahwa pembaca yang dibayangkan mungkin termasuk Crawfurd sendiri, yang selama bertugas di Jawa menaruh perhatian besar pada praktik bela pati yang ia amati di Bali dan menyelidiki istilah-istilahnya. Ada kemungkinan — dan Kamiishi menyebutnya sebagai hipotesis — naskah itu justru dipesan Crawfurd untuk keperluan penelitiannya.

Bunga asana yang mekar di dalam hati

Bagian paling halus dari analisis ini menyangkut kiasan. Dalam teks Jawa Kuno, Kṣitisundarī meminta Uttarī menutupi tubuhnya dengan bunga asana ketika tubuh itu terbaring di atas batu yang dingin. Bunga asana dalam sastra Jawa Kuno adalah kiasan kecantikan, disamakan dengan hujan emas dan dikaitkan dengan awal musim hujan. Dalam naskah Pakualaman, kata Jawa Kuno śilā yang berarti batu tampaknya dibaca sebagai sila, duduk bersila, lalu diterjemahkan menjadi lungguh. Hasilnya, bunga itu tidak lagi menyelimuti tubuh dari luar, melainkan bersemayam di dalam hati: mereka duduk di hatiku, maka aku akan terlindungi dan tidur dalam kesejukan. Kamiishi menilai itu lebih dari sekadar salah baca; fokusnya bergeser dari kecantikan lahiriah ke ketenangan batin.

Petunjuk lain datang dari huruf. Pada kata asana dan pada kata papan, papan tulis tempat abu Kṣitisundarī hendak dipersembahkan, huruf tertentu ditulis dengan aksara murda — padahal keduanya bukan nama orang. Kamiishi menghitung sepanjang satu pupuh terdapat 216 konsonan beraksara murda, 168 di antaranya atau sekitar 78 persen dipakai pada nama diri, kata ganti, dan gelar. Sisanya, 48 huruf, sulit dicari pola pastinya. Ia menawarkan dugaan bahwa penerjemah memakai aksara murda sebagai penanda kata-kata bermuatan kiasan, karena kiasan itulah yang membuat sebuah karya menjadi kakawin dan membedakannya dari sumber Indianya. Dugaan itu diperkuat oleh pupuh 44 yang hanya memuat teks Jawa Kuno, tempat Satyawatī menggantikan pemandangan mengerikan di medan perang dengan bayangan yang menyenangkan — bau bangkai menjadi wangi bunga, darah menjadi lautan, senjata berserakan menjadi pulau — dan kata-kata untuk benda-benda itu ditulis dengan aksara murda.

Sebuah naskah, dan pertanyaan yang belum tertutup

Untuk apa terjemahan serumit itu dikerjakan? Kamiishi menawarkan dua kemungkinan tanpa memilih salah satunya. Pertama, naskah ini bisa jadi bahan dasar bagi karya yang lebih modern dan lebih bebas, semacam langkah persiapan sebelum penyaduran. Kedua, tujuannya mungkin bukan agar pembaca memahami isi cerita, melainkan agar mereka belajar bahasa Jawa Kuno dengan Bhāratayuddha sebagai bahan latihan — yang menjelaskan mengapa teksnya dipotong sampai satuan kata terkecil.

Baca juga: Guru Besar Bima dan Boyolali di Meja Bedah Metodologi Sejarah

Batas penelitian ini diakui sendiri oleh penulisnya. Dugaan soal fungsi aksara murda sebagai penanda kiasan, tulisnya, masih bersifat spekulatif dan perlu diuji pada naskah-naskah lain. Terjemahan Jawa Modern dalam Add MS 12279 hanya mencakup pupuh 1 sampai 21 dari 52 pupuh, sehingga adegan bela pati Satyawatī tidak ikut diterjemahkan. Identitas penerjemahnya tidak diketahui, dan naskah itu sendiri tidak memberi label atau kategori apa pun pada karya terjemahannya. Kamiishi menempatkan tulisannya sebagai pembacaan dekat atas satu naskah, langkah pertama sebelum perbandingan dengan teks-teks sejenis dari genre dan zaman yang sama.

Yang tersisa dari pembacaan itu adalah gambaran seorang juru tulis pada 1814 yang bekerja di antara dua bahasa, dua agama, dan dua zaman — menambahkan gelar yang tidak ada, mengejar bunyi yang tidak lagi bisa ditulis, dan sesekali menyelipkan satu kata untuk memastikan pembacanya tidak kehilangan inti sebuah adegan.

Baca Juga

Ilustrasi deretan tablet putih dan kapsul di atas nampan obat rumah sakit berlatar kabur.
Uji Vitamin C pada 34 Pasien Lupus di Palembang dan Batasnya
Ilustrasi tumpukan kaset pita analog lawas di samping kacapi kayu berdawai.
Euis Komariah dan Zaman Kaset yang Sudah Lewat
Guru memeriksa tas murid dengan detektor logam di sebuah sekolah di Bangkok
Thailand Perangi Perundungan Usai Penembakan Sekolah
Ilustrasi beranda rumah kampung Sunda pada dini hari dengan satu bohlam teras menyala.
Ketukan Tengah Malam dalam Cerpen Sunda Yus R. Ismail
Ilustrasi deretan tiang bendera negara-negara Eropa di depan gedung kaca pemerintahan.
Tiga Negara Eropa yang Absen dari Pakta Pertahanan PESCO
Ilustrasi perempuan berbusana adat Indonesia.
Kalimat Berlapis Kato Pasambahan dan Cara Adat Menunda Maksud