Cekricek.id — Sebuah batu bertulis ditemukan pada 1933 di dusun Pangonan, desa Pagersari, kecamatan Mertoyudan, kabupaten Magelang. Tingginya 96 sentimeter. Pada baris terakhirnya terbaca satu rangkaian kata dalam bahasa Jawa Kuno: dharmmanira i saliṁsiṅan, “bangunan sucinya di Salingsingan”. Dua puluh satu tahun kemudian, batu kembar dengan teks nyaris sama ditemukan sekitar delapan kilometer ke arah barat daya, di dusun Rambeanak, desa Borobudur. Sejak itu para peneliti mencoba menjawab satu pertanyaan yang sederhana bunyinya tetapi keras kepala: Salingsingan itu di mana, dan siapa yang merawat bangunan sucinya?
Upaya terbaru menjawab pertanyaan itu dikerjakan Tyassanti Kusumo Dewanti, alumna École Pratique des Hautes Études-PSL Paris, Eko Bastiawan dari École française d’Extrême-Orient Jakarta, Kezia Permata, alumna SOAS University of London, dan Hedwi Prihatmoko dari Badan Riset dan Inovasi Nasional yang juga mahasiswa doktoral di EPHE-PSL. Hasilnya mereka paparkan lewat artikel Upkeeping a religious foundation from time to time; A case study of “Dharma i Salingsingan” (ninth–tenth century CE) (Merawat sebuah bangunan suci dari masa ke masa), yang terbit dalam jurnal Wacana, Journal of the Humanities of Indonesia Vol. 26 No. 3 pada 2025.
Sawah yang Dipagari untuk Sebuah Bangunan Suci
Untuk memahami perkaranya, perlu dua istilah. Dharma dalam prasasti Jawa Kuno abad ke-9 dan ke-10 adalah sebutan umum untuk bangunan suci, tanpa penjelasan agamanya. Sīma mula-mula berarti batu batas, lalu bergeser menjadi tanah produktif di dalam batas itu, yang pajak dan tenaga kerjanya dialihkan kepada penerima tertentu — bisa sebuah candi, sekelompok orang, atau fasilitas umum. Menetapkan sebidang tanah menjadi sīma adalah cara menghidupi bangunan suci sekaligus pernyataan kuasa.
Baca juga: Sepuluh Klaim Budaya dalam Sepuluh Tahun: Bagaimana Indonesia Membalas
Praktik ini bukan barang langka. Boechari, sebagaimana dikutip keempat penulis, memeriksa 120 prasasti tentang penetapan sīma dan menemukan 60 di antaranya, tepat separuh, ditujukan bagi bangunan suci. Riboet Darmosoetopo memeriksa 112 prasasti dari rentang 828 sampai 937 Masehi dan mendapati 70 di antaranya berurusan dengan sīma dan bangunan keagamaan, dengan prāsāda sebagai penerima terbanyak, disusul dharma, lalu kabikuan dan vihāra.
Yang membuat Salingsingan menarik adalah usianya. “Ini kasus yang menarik karena, di luar masa Majapahit pada abad ke-14 dan ke-15, jarang sekali kami menjumpai bangunan suci yang dirawat lintas waktu dan lintas pelaku ketika kerajaan makin memusat,” tulis keempat penulis dalam artikel itu — kalimat aslinya berbahasa Inggris. Nama Salingsingan muncul dalam prasasti selama rentang 791 Śaka (869 Masehi) sampai 836 Śaka (914 Masehi), yakni dari masa Raja Lokapala sampai masa Raja Daksa.
Pu Apus, Pejabat yang Membangun Rumah Ibadah Sendiri
Pemilik pertama dharma itu adalah seorang pejabat bergelar saṅ pamgat Tiruranu bernama pu Apus. Pada 791 Śaka (869 Masehi), lewat dua batu Kurambitan, ia menetapkan sawah seluas tiga tampah di Kurambitan sebagai sīma bagi bangunan sucinya di Salingsingan. Satu tampah setara dengan setengah sampai dua pertiga hektare, sehingga tiga tampah kira-kira 1,5 hektare — luas yang dianggap besar untuk menopang satu bangunan suci.
Lima tahun kemudian, pada 796 Śaka (874 Masehi), namanya muncul lagi pada dua batu Sri Manggala, kali ini dengan gelar berbeda: saṅ pamgat Hino. Ia menetapkan tanah bangunan sucinya sendiri, terukur 44 ḍpa ke selatan dan 67 ḍpa ke timur. Satu ḍpa adalah jarak antara ujung jari kedua tangan yang direntangkan, sekitar 1,6 sampai 2 meter; dengan rata-rata 1,7 meter, para penulis menghitung luasnya sekitar 8.519 meter persegi atau hampir satu hektare. Karena penetapan itu memakan sawah milik vadua hummā, ia menyiapkan sawah pengganti di Sri Manggala — wilayah yang kebetulan berada di bawah kekuasaannya sendiri sebagai pejabat Hino, sehingga biayanya kemungkinan besar lebih ringan.
Mengapa pu Apus memilih Salingsingan sama sekali tidak dijelaskan prasasti. Para penulis mengakuinya terus terang. “Pertanyaan yang tetap tidak terjawab adalah: mengapa pu Apus memilih desa itu, dan apa hubungannya dengan dirinya?” tulis mereka — juga terjemahan dari kalimat berbahasa Inggris. Dugaan yang mereka tawarkan, dan mereka sebut sebagai hipotesis, adalah bahwa Salingsingan mungkin kampung halaman pu Apus.
Emas, Perak, dan Sebuah Desa Utuh
Pada 802 Śaka (880 Masehi), lempeng tembaga Salingsingan II mencatat pemberian barang emas dan perak kepada bhaṭāra di Salingsingan. Yang menyerahkan adalah pejabat bernama pu Cakra, atas nama Raja Lokapala, penguasa Kayuwangi. Artinya bangunan suci yang semula dibangun seorang pejabat daerah kini mendapat perhatian raja. Lempeng ini sendiri punya riwayat berliku: asal-usulnya tidak jelas, dan ia sampai ke tangan Bataviaasch Genootschap pada 1864 setelah dibeli seharga sepuluh gulden.
Tiga dasawarsa berikutnya senyap. Pada masa Raja Balitung, yang mengeluarkan sekitar empat puluh prasasti, tidak ada satu pun kabar tentang Salingsingan. Bangunan itu baru muncul lagi pada 836 Śaka (914 Masehi) di dalam lempeng Tihang, yang ditemukan Mulyo Wiharjo pada 1985 di dusun Nglarangan, desa Polengan, kecamatan Srumbung, kabupaten Magelang. Prasasti itu dikeluarkan Raja Daksa dan memerintahkan agar desa Tihang, yang termasuk wilayah Tiruranu, ditetapkan sebagai sīma bagi bangunan suci milik permaisuri di Salingsingan.
Baca juga: Dari 17.000 Orang Indo Melarat ke Partai Politik Pertama di Hindia Belanda
Kali ini penopangnya bukan lagi sawah, melainkan satu desa utuh berikut pendapatan tahunannya: enam dhāraṇa perak yang setara 230 gram, tujuh dhāraṇa avur setara 268 gram, dan sederet pungutan lain dari tukang kayu, penenun, sampai pavalyan. Totalnya, menurut hitungan para penulis, sekitar 769,4 gram per tahun, ditambah setoran bulanan pengawas hutan dan seorang pelayan tetap. Lonjakan sokongan sebesar itu mereka baca sebagai tanda bahwa bangunan itu diperbesar atau dipugar setelah lama tidak menerima sumbangan baru.
Alasan perpindahan pemilik hanya bisa diduga. Raja Daksa sebelum naik takhta bergelar penguasa Hino — wilayah yang dahulu dipegang pu Apus. Dan desa yang dipagari untuknya berasal dari Tiruranu, wilayah pertama pu Apus. Nama permaisuri itu sendiri tidak disebut di prasasti Tihang; dari prasasti lain yang sezaman muncul nama dyah Buntir, tetapi para penulis menyampaikannya sebagai catatan, bukan kepastian.
Satu Kata, Tiga Arti yang Berbeda
Salah satu kerja paling teliti dalam artikel ini adalah memilah kapan kata “Salingsingan” menunjuk tempat dan kapan tidak. Dalam kakawin Kresnayana dari masa Kadiri, kata itu justru berarti penasihat atau guru: Mpu Kanwa disebut sebagai salingsingan Raja Airlangga. Zoetmulder menduganya sebagai sebutan bagi golongan bhujaṅga tertentu. Dalam prasasti Kabhagavanan dari 1261 Śaka (1339–1340 Masehi), ia muncul sebagai gelar jabatan, tanpa penanda tempat. Pada sebuah lempeng timah dari Sumatra berbahasa Melayu Kuno, kata saliṅsiṅan diterjemahkan sebagai ranting pohon.
Sebaliknya, dalam naskah Ṛṣiśāsana dari akhir masa Majapahit, Salingsingan disebut paling awal dalam daftar tempat bersemayamnya para dewa, mendahului Vulusan dan Tigang Rat. Empat abad setelah pusat kekuasaan pindah ke timur, nama itu masih diingat orang.
Tiga Candi di Kaki Merapi
Bagian terakhir artikel mencoba menempatkan Salingsingan di peta hari ini. Dugaan yang paling lama bertahan, dirintis N.J. Krom pada 1926 dan diteruskan R. Goris, R. Soekmono, sampai Véronique Degroot, mengarah ke kompleks Candi Asu, Candi Lumbung, dan Candi Pendem di kabupaten Magelang. Alasannya kuat: batu Sri Manggala II ditemukan pada 1896 persis di antara Candi Asu dan Candi Lumbung, sedangkan kedua batu Kurambitan ditemukan di kabupaten yang sama. Ketiga candi itu berdiri di lembah Progo pada ketinggian 600 sampai 800 meter, sekitar 250 meter dari pertemuan Kali Pabelan dan Kali Tlingsing. Nama sungai terakhir itu, catat para penulis, mungkin jejak yang selama ini terlewat: Tlingsing, Slingsing, Salingsing, Salingsingan.
Perbandingan gaya bangunan menambah lapisan. Mengikuti kerja Degroot dan Marijke Klokke, ketiga candi menghadap ke barat, tetapi Asu dan Lumbung berukuran mirip dengan denah bujur sangkar sederhana dan ragam hias yang dekat dengan kelompok Prambanan, sedangkan Pendem berbadan lebih besar dengan kaki rendah dan hiasan yang lebih tua, mendekati kelompok Ijo–Plaosan Lor. Dumarçay dan rekan-rekannya menaksir ketiganya dibangun antara 835 dan 860 Masehi. Sampai kini tidak satu pun arca dewa ditemukan di sekitarnya, sehingga afiliasi Hindu ketiga candi disimpulkan lewat jalan memutar — antara lain karena tidak ada candi Buddha yang diketahui dibangun di Jawa Tengah dari pertengahan abad ke-9 sampai awal abad ke-10.
Baca juga: Stasiun 819 Meter, Alasan Rumah Sakit Petronella Dibangun di Pinggir Kota
Dugaan tandingannya datang dari Hadi Sidomulyo, yang menempatkan Salingsingan di Rogoselo, Pekalongan, berbekal toponim Arega Sela dan makam seorang tokoh bernama Pangeran Slingsingan, ditambah temuan prasasti Salingsingan I di kabupaten Batang. Keempat penulis menolaknya dengan alasan yang mereka susun hati-hati: jarak Magelang ke Batang mencapai seratus kilometer, sedangkan Salingsingan dalam prasasti selalu berstatus vanua alias desa; wilayah pesisir utara itu juga sulit untuk sawah; dan peninggalan di sana bergaya megalitik yang belum berangka tahun.
Yang tersisa tetap dugaan. Asal-usul lempeng Salingsingan II dan prasasti Pu Mamruk tidak diketahui, ukuran desa Tihang tidak tercatat, nama permaisuri tidak disebut, dan tidak ada arca yang bisa memastikan pemujaan apa yang berlangsung di sana. Yang berhasil disusun keempat penulis adalah rangkaian peristiwa selama hampir setengah abad: seorang pejabat mendirikan bangunan suci, memagari sawah untuknya, naik jabatan, lalu namanya hilang; seorang raja mengirim emas dan perak; tiga dasawarsa sunyi; dan akhirnya seorang permaisuri mengambil alih dengan menyerahkan satu desa penuh.
















