Cekricek.id — Ketika menghadapi pertanyaan mendesak tentang menyusui, lebih banyak perempuan muda memilih bertanya kepada chatbot kecerdasan buatan, media sosial, atau mesin pencari lebih dulu daripada menghubungi tenaga kesehatan. Gambaran itu muncul dari survei nasional yang dilakukan Orlando Health di Amerika Serikat.
Dikutip dari laman EurekAlert, eurekalert.org, Senin (17/8/2026), yang memuat rilis Orlando Health, sebanyak 51 persen perempuan berusia 18 sampai 44 tahun menyatakan akan menoleh ke chatbot AI, media sosial, atau mesin pencari sebagai rujukan pertama. Hanya 29 persen yang akan menghubungi tenaga profesional kesehatan, sementara 21 persen memilih bertanya kepada keluarga atau teman.
Yang Tidak Bisa Dilihat Kecerdasan Buatan
Persoalannya bukan pada kecepatan jawaban, melainkan pada apa yang tidak dapat diperiksa sebuah program. Menyusui menyangkut hal-hal fisik yang hanya bisa dinilai dengan melihat ibu dan bayinya secara langsung, mulai dari grafik pertumbuhan sampai cara mulut bayi mengunci payudara. Sebuah jawaban yang terdengar meyakinkan pun tetap disusun tanpa satu pun data pemeriksaan dari ibu yang bertanya.
Baca juga: Peneliti OIST Ciptakan Saklar Molekul Cahaya yang Bisa Berpendar dan Berubah Struktur
“AI tidak bisa melihat grafik pertumbuhan mereka. AI tidak bisa menilai pelekatan mulut bayi. AI tidak bisa melihat apakah ada gangguan motorik mulut,” tegas Erynne Bowers, dokter spesialis anak di Orlando Health Physician Associates.
Bowers menuturkan sekitar sepertiga pasiennya yang datang dengan keluhan seputar menyusui pernah menerima saran bermasalah dari AI, terutama menyangkut jumlah dan frekuensi pemberian susu. Saran yang keliru soal seberapa sering bayi perlu menyusu termasuk yang paling sering ia temui.
Baca juga: Astronom Temukan Jenis Objek Langit Baru: 'Bintang Lubang Hitam' di Fajar Kosmik
Ketika Jawaban Cepat Menunda Perawatan
Menurut Bowers, akibatnya baru terlihat setelah beberapa waktu berjalan, dan pada saat itu penanganan sudah tertunda. “Kadang kami melihat ada keterlambatan pertumbuhan bayi. Atau kami melihat penurunan pasokan air susu ibu karena AI mengatakan mereka tidak perlu menyusui sesering itu,” jelas Bowers.
Salah seorang pasiennya, Emily Hunziker, ibu dari Sanford, Florida, mulanya kesulitan menyusui secara eksklusif sebelum akhirnya berhasil setelah mendapat pendampingan langsung. “Anda benar-benar tidak bisa mendapatkan itu dari AI,” ujar Hunziker.
Bowers mengarahkan para ibu ke sumber yang bertumpu pada bukti, di antaranya layanan edukasi dan pendampingan menyusui milik Orlando Health, laman Healthy Children yang dikelola American Academy of Pediatrics, serta La Leche League International. Ia tidak menolak teknologi sepenuhnya, tetapi menempatkannya sebagai pelengkap dan bukan pengganti pemeriksaan.
Baca juga: Riset Australia: Kadar CO2 dalam Darah Manusia Naik Seiring Iklim Memanas
Perlu dicatat bahwa survei ini mengukur ke mana orang berniat bertanya, bukan mengukur akibat klinis dari jawaban yang mereka terima. Angka sepertiga pasien dengan saran AI bermasalah pun berasal dari pengamatan praktik seorang dokter, bukan dari hasil survei nasional tersebut. Keduanya perlu dibaca terpisah agar tidak dianggap satu temuan yang sama.
















