Cekricek.id — Mahkamah Agung Rusia mengukuhkan pencoretan Partai Yabloko dari pemilihan Duma Negara yang akan digelar September mendatang. Hanya beberapa jam berselang, sebuah pengadilan di Pskov menjatuhkan hukuman lebih dari sebelas tahun penjara kepada wakil ketua partai tersebut, Lev Shlosberg.
Mengutip laporan Euronews, Senin (17/8/2026), Yabloko selama ini dikenal sebagai satu-satunya partai di Rusia yang secara terbuka menyatakan sikap menentang perang. Dua putusan yang jatuh pada hari yang sama itu praktis menutup ruang partisipasi partai tersebut dalam pemilu legislatif.
Baca juga: Banjir Indiana Tewaskan Lima Orang, Terburuk dalam 30 Tahun
Ketua umum partai menilai keputusan pengadilan tertinggi itu bermotif politik.
“Anda paham, mereka paham, bahwa pada dasarnya Yabloko telah disingkirkan dari pemilu karena kami memperjuangkan perdamaian dan kebebasan,” kata Nikolai Rybakov, Ketua Umum Partai Yabloko.
Vonis untuk Lev Shlosberg
Lev Shlosberg dinyatakan bersalah oleh pengadilan di Pskov, kota di kawasan barat laut Rusia, atas seruannya agar gencatan senjata segera diberlakukan. Majelis hakim menjatuhkan hukuman lebih dari sebelas tahun penjara kepadanya.
Dalam pernyataan terakhir di hadapan majelis hakim sebelum vonis dibacakan, Shlosberg menyampaikan pesan singkat.
“Belum ada seorang pun dalam sejarah yang berhasil mengelabui waktu. Tidak seperti kebaikan, kejahatan tidak memiliki akses menuju keabadian,” ujar Lev Shlosberg, Wakil Ketua Partai Yabloko.
Shlosberg merupakan salah satu figur oposisi paling dikenal di luar Moskow. Ia telah lama menyuarakan penolakan terhadap perang dan sebelumnya berulang kali berhadapan dengan proses hukum di dalam negeri.
Baca juga: Pendaftar Mahasiswa Asing UMY Tembus 10.297, Naik dari Tahun Lalu
Kecaman Organisasi Hak Asasi
Amnesty International menilai proses hukum terhadap Shlosberg merupakan pembalasan atas penggunaan hak berekspresi, bukan penegakan hukum yang wajar.
“Penuntutan dan pemidanaan yang sewenang-wenang terhadapnya merupakan tindakan pembalasan yang jelas atas pelaksanaan haknya untuk kebebasan berekspresi,” tegas Marie Struthers, Direktur Amnesty International untuk Eropa Timur dan Asia Tengah.
Putusan Mahkamah Agung diumumkan lebih dulu pada Senin, sebelum pengadilan di Pskov membacakan vonis terhadap Shlosberg pada hari yang sama. Jarak antara kedua keputusan itu hanya terpaut beberapa jam.
Sejak 2022, otoritas Rusia memberlakukan sejumlah ketentuan pidana yang menjerat pernyataan publik yang dinilai mendiskreditkan angkatan bersenjata. Aturan tersebut telah dipakai untuk menuntut ratusan warga, mulai dari aktivis, jurnalis, hingga warga biasa yang menyuarakan penolakan terhadap perang.
Organisasi tersebut menyerukan pembebasan Shlosberg dan menuntut pembatalan seluruh dakwaan yang dialamatkan kepadanya.
Jelang Pemilu Duma
Pemilihan anggota Duma Negara, majelis rendah parlemen Rusia, dijadwalkan berlangsung pada September 2026. Dengan dikukuhkannya pencoretan Yabloko, surat suara pemilu kali ini tidak lagi memuat partai yang secara terbuka mengusung agenda penghentian perang.
Yabloko berdiri pada awal 1990-an dan sempat memiliki perwakilan di parlemen federal sebelum tersingkir dari Duma. Dalam beberapa tahun terakhir, ruang gerak partai tersebut kian menyempit seiring pengetatan aturan terhadap kelompok yang dianggap menentang kebijakan pemerintah.
Baca juga: Wali Kota Pariaman Kukuhkan 36 Paskibraka HUT ke-81 RI
Partai tersebut mengusung nama yang diambil dari singkatan tiga pendirinya dan lama diasosiasikan dengan garis liberal serta pro-Barat dalam peta politik Rusia. Basis dukungannya terkonsentrasi di kota-kota besar, meski perolehan suaranya terus menyusut dalam beberapa siklus pemilu terakhir.
Putusan Mahkamah Agung tersebut bersifat menguatkan keputusan yang sebelumnya sudah dijatuhkan, sehingga tidak lagi menyisakan jalur banding bagi partai untuk kembali masuk daftar peserta pemilu.
















