Cekricek.id — Mantan penasihat medis utama Gedung Putih, Anthony Fauci, terancam hukuman penjara apabila terbukti bersalah atas tuduhan menghina Kongres Amerika Serikat. Kementerian Kehakiman kini menimbang apakah perkara tersebut layak dibawa ke meja hijau.
Mengutip laporan ABC News Australia, Senin (17/8/2026), perkara ini bermula dari kesaksian Fauci di hadapan Komite Keamanan Dalam Negeri dan Urusan Pemerintahan Senat pada Juli lalu.
Baca juga: Succes Masra Bebas dari Penjara Chad, Serukan Rekonsiliasi
Dalam sidang tersebut, Fauci menggunakan hak Amandemen Kelima yang melindunginya dari memberatkan diri sendiri. Ia menolak menjawab pertanyaan komite lebih dari 100 kali sepanjang persidangan.
Komite Senat yang menyelidiki Fauci kemudian memungut suara untuk menyatakan dirinya menghina Kongres. Senator asal Kentucky, Rand Paul, meneruskan resolusi itu kepada Kementerian Kehakiman untuk ditindaklanjuti.
Peluang Dakwaan dan Ancaman Hukuman
Mantan jaksa federal Amerika Serikat, Amanda Vaughn, menilai kemungkinan dakwaan benar-benar dilayangkan cukup terbuka. Ia menyebut dirinya tidak akan terkejut sama sekali jika langkah itu diambil.
“Ada sejumlah yurisprudensi yang berpihak kepada Dr Fauci di sini, tetapi kita berada dalam lingkungan yang sedikit berbeda,” kata Amanda Vaughn, mantan jaksa federal Amerika Serikat.
Vaughn menjelaskan penghinaan terhadap Kongres tergolong pelanggaran ringan dengan ancaman hukuman maksimal satu tahun penjara. Untuk kasus semacam ini dan bagi figur seperti Fauci, ia memperkirakan hukuman yang realistis berada pada kisaran nol hingga enam bulan.
Fauci sebenarnya telah menerima pengampunan preventif dari mantan Presiden Joe Biden pada Januari 2025. Pengampunan itu mencakup seluruh tindakannya sepanjang 2014 hingga 2025.
Sejumlah senator Republik berargumen pengampunan tersebut tidak membebaskan Fauci dari kewajiban menjawab pertanyaan Kongres. Mereka menilai penuntutan masih dimungkinkan untuk tindakan yang terjadi setelah periode yang tercakup dalam pengampunan.
Baca juga: Bou Meng, Penyintas Penjara S-21 Khmer Merah, Wafat di Usia 85
Kekhawatiran Kalangan Kesehatan Publik
Kalangan pakar kesehatan masyarakat menyuarakan kekhawatiran terhadap dampak perkara ini pada iklim kerja pejabat kesehatan di Amerika Serikat.
“Mereka takut menjalankan pekerjaan yang mereka tahu harus diselesaikan karena khawatir akan dikritik,” ujar Georges Benjamin, Direktur Eksekutif American Public Health Association.
Benjamin menegaskan Fauci tidak melakukan kesalahan apa pun selama penanganan pandemi Covid-19.
Kritik yang lebih tajam datang dari kalangan akademisi terhadap jalannya sidang Senat tersebut.
“Itu sebenarnya sebuah sidang sandiwara,” tutur Gavin Yamey, akademisi Duke University Global Health Institute. Ia menambahkan bahwa dalam persidangan itu terlontar disinformasi antivaksin paling mengerikan yang pernah didengarnya.
Sorotan dari Luar Amerika
Perkara ini juga menarik perhatian ilmuwan di luar Amerika Serikat, terutama menyangkut kepercayaan publik terhadap otoritas kesehatan.
“Erosi kepercayaan adalah sesuatu yang sangat, sangat signifikan,” sebut Sharon Lewin, pakar penyakit menular asal Australia.
Lewin menyatakan dirinya benar-benar cemas, terutama mengingat besarnya kontribusi Fauci selama beberapa dekade di bidang penelitian penyakit menular.
Baca juga: Ekspor Kerapu ke Amerika Naik, KKP Perkuat Sertifikasi Mutu
Menurut Lewin, dampak perkara semacam ini melampaui nasib satu individu karena menyangkut kesediaan ilmuwan lain untuk tampil di ruang publik pada masa krisis kesehatan berikutnya.
Fauci memimpin National Institute of Allergy and Infectious Diseases selama hampir empat dekade dan menjadi wajah paling dikenal dalam komunikasi publik pemerintah Amerika Serikat sepanjang pandemi Covid-19. Kementerian Kehakiman belum menetapkan tenggat kapan keputusan soal penuntutan akan diumumkan.
















