Cekricek.id — Padukuhan Sangurejo, Kalurahan Wonokerto, Kapanewon Turi, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, terpilih sebagai salah satu dari 32 nominasi Program Kampung Iklim (ProKlim) Lestari 2026 yang ditetapkan Kementerian Lingkungan Hidup. Padukuhan tersebut sebelumnya dikenal sebagai kawasan kumuh.
Dikutip dari laman resmi Universitas Gadjah Mada, ugm.ac.id, Selasa (18/8/2026), ProKlim Lestari bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat dan pemerintah daerah dalam memitigasi dampak perubahan iklim serta efek gas rumah kaca. Perjalanan Sangurejo menuju predikat itu ditempuh melalui pembenahan lingkungan yang berlangsung bertahun-tahun.
Baca juga: Padang Raih Peringkat 2 Nasional Pengelolaan Sampah, Kemendagri Kucurkan Insentif Rp1,5 Miliar
Dari Kawasan Kumuh ke Nominasi Nasional
Dosen Fakultas Kehutanan UGM, Ir. Atus Syahbudin, S.Hut., M.Agr., Ph.D., IPU, terlibat langsung dalam pengembangan kampung iklim di padukuhan tersebut. Menurut dia, pembenahan menyentuh banyak aspek sekaligus dan tidak berhenti pada satu program.
“Berbagai pembenahan melalui pengelolaan lingkungan, konservasi air, pengembangan desa wisata, pengelolaan sampah, serta kegiatan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim dilakukan oleh Sangurejo,” kata Atus Syahbudin, Dosen Fakultas Kehutanan UGM.
Ketua ProKlim Sangurejo, M. Chairul Huda, menyebut capaian ProKlim Utama pada 2024 merupakan hasil kerja bersama masyarakat dan pemerintah. Sebelum itu, Sangurejo juga memperoleh penghargaan sebagai Padukuhan Tangguh Iklim tingkat Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Pembina ProKlim Sangurejo, Agus Kurniawan, menambahkan bahwa persiapan verifikasi dikerjakan secara gotong royong bersama warga dan berbagai mitra, mulai dari penguatan keanekaragaman hayati lokal, pengelolaan lingkungan, dokumentasi kegiatan, hingga penataan kawasan.
Limbah Kulit Salak Jadi Koleksi Leiden
Salah satu inovasi yang lahir dari proses panjang itu adalah pemanfaatan limbah kulit salak sebagai bahan ecoprint. Produk yang dikembangkan warga melalui ECSA (Ecoprint & Craft Sangurejo) telah mengikuti berbagai pameran dan kini menjadi koleksi Hortus Botanicus Leiden, Belanda.
Pengelolaan sampah menjadi tulang punggung gerakan warga, mulai dari edukasi, pengurangan dan pemanfaatan sampah, hingga penguatan kesadaran dari tingkat rumah tangga. Pengembangan ProKlim Sangurejo juga mengintegrasikan pendekatan sosial dan keagamaan melalui nilai ekoteologi atau dakwah ekologi, yang menempatkan prinsip amanah, keseimbangan (mizan), dan larangan berbuat kerusakan (fasad) sebagai landasan moral pengelolaan lingkungan.
Baca juga: KLH Kawal Registrasi Karbon dan RUU Perubahan Iklim
“Implementasinya dilakukan melalui edukasi, penanaman pohon, pengelolaan sampah, konservasi air, dan berbagai aksi lingkungan berbasis masyarakat,” ujar Atus Syahbudin, Dosen Fakultas Kehutanan UGM.
Jejaring 12 Padukuhan Mitra Binaan
Berdasarkan Surat Keputusan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sleman, Sangurejo memiliki 12 lokasi mitra binaan, di antaranya Padukuhan Kuwang, Gondangan, Banjeng, Nganggring, dan Parakan Kulon. Jejaring itu menjadi bukti bahwa praktik adaptasi perubahan iklim di Sangurejo diperluas ke wilayah lain dengan melibatkan berbagai unsur.
“Perguruan tinggi memiliki peran dalam memperkuat basis pengetahuan dan inovasi, sedangkan masyarakat menjadi aktor utama yang menjalankan praktik lingkungan secara berkelanjutan,” kata Atus.
Pendampingan UGM difokuskan pada penguatan kolaborasi akademik, penelitian, pemberdayaan masyarakat, pembekalan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN), serta praktikum kurator keanekaragaman hayati. Sebagai Dosen Pembimbing Lapangan, Atus mengarahkan mahasiswa agar tidak berhenti pada kegiatan pengabdian, melainkan mengidentifikasi potensi lokal, mendokumentasikan praktik pengelolaan lingkungan, mengembangkan edukasi masyarakat, serta mendukung kegiatan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.
“Program KKN menjadi jembatan antara pengetahuan akademik dan praktik di masyarakat. Mahasiswa dapat belajar dari masyarakat, sementara masyarakat memperoleh dukungan pengetahuan, dokumentasi, dan inovasi yang dapat memperkuat program lingkungan yang sudah berjalan,” jelasnya.
Baca juga: Pemko Padang Gandeng BTN, KPR Aparatur hingga Pengelolaan Sampah Masuk Kesepakatan
Bagi Atus, kekuatan Sangurejo tidak hanya terletak pada program lingkungannya, tetapi juga pada kemahiran warga membangun jejaring. “Ini bukan pekerjaan satu orang. Banyak potensi dan banyak pihak yang selama ini sudah bergerak. Energi dan semangat tersebut perlu disatukan agar gerakan lingkungan di Sangurejo semakin kuat dan berkelanjutan,” ujarnya.
“Yang terpenting bukan hanya predikatnya, tetapi bagaimana pengetahuan, praktik baik, dan jejaring yang sudah dibangun dapat terus tumbuh. Di sinilah perguruan tinggi, mahasiswa, pemerintah, dan masyarakat dapat bekerja bersama untuk menjaga keberlanjutan lingkungan,” kata Atus Syahbudin, Dosen Fakultas Kehutanan UGM.















