China Diklaim Serobot Wilayah India di Arunachal Pradesh

Tentara India berjaga di perbatasan India-China di Bumla Arunachal Pradesh

Tentara India berjaga di perbatasan India-China di Bumla, Arunachal Pradesh. [Foto: AP]

Cekricek.id — Sebuah laporan pencari fakta yang disusun partai politik lokal di Arunachal Pradesh menuding pasukan China terus memperluas kehadirannya di wilayah yang diklaim India, tepat beberapa pekan sebelum Presiden China Xi Jinping dijadwalkan bertandang ke India untuk KTT BRICS pada 12–13 September 2026. Tudingan itu kembali menyalakan ketegangan perbatasan dua raksasa Asia yang sebenarnya sedang berupaya memulihkan hubungan.

Laporan dari Upper Subansiri

Tim pencari fakta People’s Party of Arunachal Pradesh, partai yang bersekutu dengan pemerintahan Perdana Menteri India Narendra Modi, menyatakan angkatan bersenjata India tidak lagi bisa mengakses sejumlah titik patroli di Distrik Upper Subansiri. Laporan itu menyebut pasukan India tidak dapat berpatroli di kawasan Taksing sepanjang April hingga Oktober karena cuaca, sementara pasukan China tetap aktif di sana sepanjang periode tersebut. Tim yang sama juga mengeklaim pasukan India meninggalkan Shera 5, salah satu titik patroli perbatasan, setelah konfrontasi dengan Tentara Pembebasan Rakyat China pada 2023.

Baca juga: Modi Janji India Jadi Negara Maju 2047, Latih 10 Juta Anak Muda AI

Wakil Ketua People’s Party of Arunachal Pradesh, Kaling Jerang, menegaskan temuan lapangan itu tidak bisa dibantah. “Laporan lapangan tentang penerobosan ini tidak terbantahkan,” katanya. Ia menambahkan bahwa persoalan ini bukan hal baru. “Perambahan ini bukan hal baru dan bukan mendadak, melainkan meluas sedikit demi sedikit selama bertahun-tahun,” ujar Jerang. Dikutip dari Al Jazeera. Kelompok adat setempat, termasuk Nah Welfare Society, turut melaporkan bahwa perambahan China meningkat berlipat ganda dengan tujuan menguasai lahan sebanyak mungkin.

Angkatan darat India menyebut laporan media soal isu tersebut tidak akurat dan tanpa dasar. Kementerian Luar Negeri India bersikap lebih berhati-hati. Juru bicara Kementerian Luar Negeri India, Randhir Jaiswal, menyatakan New Delhi memandang persoalan perbatasan sebagai hal paling serius. “Kami juga sudah menyatakan bahwa keadaan di perbatasan akan tecermin pada keadaan hubungan bilateral kami secara keseluruhan,” katanya. Dari Beijing, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, memilih meredam. “Situasi perbatasan China-India secara umum stabil pada saat ini,” ujarnya, seraya menyebut kedua negara baru saja menggelar pertemuan ke-36 soal urusan perbatasan.

Baca juga: Menhan Jepang Ziarah ke Kuil Yasukuni, China dan Korsel Protes

Garis Batas yang Tak Pernah Disepakati

India berbagi perbatasan sepanjang 3.488 kilometer dengan China yang membentang di Jammu dan Kashmir, Ladakh, Sikkim, serta Arunachal Pradesh. Akar sengketanya adalah Garis McMahon yang lahir dari Konvensi Simla 1914; India mengakuinya, China menolaknya. Beijing menyebut Arunachal Pradesh sebagai Tibet Selatan atau Zangnan dan mengklaim seluruh wilayah itu. Garis Kendali Aktual yang terbentuk sejak 1962 pun tidak pernah disepakati penarikannya oleh kedua pihak.

Sengketa itu berkali-kali berubah menjadi bentrokan. Pada Juni 2020 di Lembah Galwan, Ladakh, pertempuran tangan kosong antara kedua pasukan menewaskan sedikitnya 20 tentara India dan empat tentara China. Sebulan sebelumnya, pasukan kedua negara bentrok di Naku La, Sikkim, dan ketegangan berulang pada Januari 2021. Pada 2017, kedua militer berhadapan selama 73 hari di Doklam, di pertigaan perbatasan China–India–Bhutan, akibat pembangunan jalan oleh China.

Baca juga: Gedung Putih Tuding 40 Negara Bantu China Kelabui Tarif, Indonesia Disebut

Guru Besar Studi China di Jawaharlal Nehru University, BR Deepak, mengingatkan bahwa titik-titik gesekan semacam ini mudah membesar. “Satu insiden kecil yang tidak diinginkan bisa berujung eskalasi besar, seperti yang pernah terjadi sebelumnya,” katanya.

Perdagangan Tumbuh, Kecurigaan Bertahan

Di luar urusan perbatasan, perdagangan bilateral kedua negara justru membesar. Nilainya mencapai 151,1 miliar dolar AS pada tahun fiskal 2025–2026, lebih dari dua kali lipat dibanding 71,45 miliar dolar AS pada 2016–2017. Namun neracanya timpang: impor India dari China naik menjadi 131,63 miliar dolar AS, sedangkan ekspor India ke China hanya 19,47 miliar dolar AS. Pemerintahan Presiden AS Donald Trump belakangan menyebut India ikut dalam jaringan transhipment bayangan yang diduga membantu China menghindari sanksi Amerika.

Asisten Profesor di Somaiya Vidyavihar University, Saheli Chattaraj, menilai kedekatan ekonomi tidak otomatis menuntaskan sengketa strategis. “Keterlibatan ekonomi dan diplomatik bisa membaik tanpa menyelesaikan sengketa strategis yang mendasarinya,” katanya. Ia menggambarkan hubungan New Delhi dan Beijing saat ini sebagai kompetisi yang dikelola, bukan normalisasi yang sesungguhnya.

Baca Juga

Anggota parlemen Australia Andrew Wallace berbicara di Dewan Perwakilan
Australia Perketat Iklan Judi, Bandar Wajib Tandai Pecandu
Wassim al-Assad sepupu Bashar al-Assad seusai ditahan aparat Suriah
Sepupu Bashar al-Assad Divonis Mati atas Kejahatan Perang
Prajurit berjaga di Pangkalan Udara Abu al-Duhur Suriah
AS Kecam Serangan Israel ke Pangkalan Udara Suriah
Presiden Rusia Vladimir Putin mencicipi produk saat mengunjungi kompleks pengolahan ikan di Pulau Iturup, Kepulauan Kuril. [Foto: AP]
Rusia Protes Keras Jepang Usai Putin Kunjungi Kuril
Presiden Peru Keiko Fujimori meninjau Pusat Operasi Darurat Nasional di Chorrillos
Peru Tetapkan Status Darurat Banjir di Lima Selatan
Penguin kecil berjalan di kawasan konservasi Phillip Island Australia
Australia Vaksinasi 5.000 Penguin Kecil Lawan Flu Burung