Cekricek.id — Ekonom utama bank pembangunan negara Rusia, VEB.RF, Andrey Klepach, dicopot dari jabatannya setelah isi pidatonya yang memperingatkan kerusakan ekonomi akibat perang di Ukraina beredar ke publik. Pencopotan itu menutup masa jabatan yang ia pegang sejak 2014 dan menjadi salah satu contoh paling terang bagaimana kritik terbuka dari lingkaran dalam lembaga negara Rusia berujung pada kehilangan posisi.
Bank Negara Sudah Menyiapkan Pengganti
Kantor berita negara Rusia, TASS, memberitakan pada Minggu bahwa Klepach tidak lagi menduduki kursi ekonom utama di bank tersebut. Dalam pernyataan yang dikutip TASS, manajemen VEB.RF menegaskan pergantian itu sudah final. “Andrey Klepach tidak lagi menjabat sebagai ekonom utama di VEB.RF. Penggantinya akan segera ditunjuk. Kandidatnya sudah dipilih,” demikian pernyataan bank itu. Klepach sendiri membenarkan pemecatannya kepada kantor berita Reuters. Dikutip dari Al Jazeera yang memuat laporan TASS dan Reuters.
Baca juga: Ukraina Gempur Moskow dengan Ratusan Drone, Enam Tewas di Rusia
Klepach bukan nama asing di jantung birokrasi ekonomi Rusia. Sebelum bergabung dengan VEB, ia bekerja selama sepuluh tahun di Kementerian Pembangunan Ekonomi Rusia dan sempat mengisi sejumlah posisi di lembaga-lembaga ekonomi negara. Rekam jejak itulah yang membuat kritiknya berbeda bobotnya dari suara oposisi di luar pemerintahan.
Peringatan yang Baru Terungkap Pekan Lalu
Pidato yang menjadi pemicu disampaikan Klepach dalam sebuah forum keuangan pada Mei, tetapi isinya baru dilaporkan media pekan lalu setelah naskahnya dimuat di situs Nikitsky Club, forum yang mempertemukan ekonom, akademisi, dan pejabat pemerintah. Dalam pidato itu, Klepach menyatakan Rusia sedang kalah dalam persaingan global. “Kami tertinggal. Kami kehilangan kompetisi teknologi sekaligus ekonomi di dunia. Dan kami kalah bukan hanya dari China dan Amerika Serikat, dalam beberapa hal kami juga kalah dari Ukraina,” kata ekonom utama VEB.RF tersebut, sembari mengaitkannya dengan dukungan finansial Barat kepada Kyiv.
Baca juga: Ukraina Klaim Hantam Pusat Roket dan Antariksa Rusia di Samara
Ia memperkirakan tekanan ekonomi akibat perang pada akhirnya melahirkan krisis sosial. “Kami tidak akan memenangi persaingan dalam perang atrisi ini. Kami memelihara ilusi bahwa semuanya di sana akan runtuh. Nyatanya tidak runtuh dan tidak akan runtuh. Ongkos yang kami tanggung terus membengkak,” ujarnya. Klepach menambahkan bahwa keruntuhan bukanlah skenario yang ia ramalkan, melainkan pelemahan yang berlarut. “Secara ekonomi kami tidak akan runtuh, tetapi ketertinggalan kami akan terus membesar, dengan segala konsekuensi yang menyertainya,” katanya, seraya menyebut krisis sosial bisa muncul justru ketika tidak ada yang benar-benar menantikannya.
Kritik Klepach tidak berhenti pada angka. Ia juga menyoal cara negara mengambil keputusan. “Kualitas tata kelola nyaris terus-menerus memburuk,” ucapnya. “Keputusan-keputusan diambil sepanjang waktu dengan tingkat justifikasi yang sangat rendah, tetapi berkonsekuensi strategis jangka panjang.”
Baca juga: Rusia Ancam Inggris soal Drone, Burnham Bela Ukraina
Sanksi, Serangan Ukraina, dan Pertumbuhan yang Mandek
Dalam pidato Mei itu, Klepach memperingatkan bahwa ketahanan Rusia terhadap sanksi Barat sedang diuji keras karena strategi Ukraina menghantam infrastruktur energi dan logistik Rusia. Ia menunjuk melebarnya ketimpangan pendapatan serta laju pertumbuhan produk domestik bruto yang lebih lambat dibanding Amerika Serikat maupun Ukraina. Peringatan itu sejalan dengan sinyal dari bank sentral Rusia yang pada Juni menyatakan perekonomian negara itu mungkin tidak tumbuh sama sekali sepanjang tahun ini.
Sikap resmi Kremlin bertolak belakang. Presiden Rusia Vladimir Putin berulang kali meyakinkan warganya bahwa perekonomian negara itu stabil, meski ia mengakui ada upaya dari luar untuk menggoyahkannya. Naskah pidato Klepach karena itu menjadi kritik publik yang langka dari figur senior di sebuah lembaga negara terhadap ongkos melanjutkan perang yang dilancarkan Moskow sejak 2022.
















