Cekricek.id — Perusahaan pelayaran peti kemas China, Sea Legend, resmi membuka jalur pengiriman barang melewati Samudra Arktik yang mereka sebut “Ice Silk Road” atau Jalur Sutra Es. Rute itu membentang dari Ningbo di pesisir timur China, menyusuri Rute Laut Utara milik Rusia, hingga Pelabuhan Felixstowe di Inggris bagian timur, dan digadang-gadang menjadi pilihan lain di luar simpul-simpul pelayaran Timur Tengah yang belakangan rawan gangguan.
Daya tarik utama jalur tersebut ada pada waktu tempuh. Pelayaran uji coba yang dilakukan Sea Legend pada Oktober 2025 merampungkan perjalanan Ningbo–Felixstowe dalam 20 hari. Sebagai pembanding, pelayaran lewat Terusan Suez umumnya memakan waktu sekitar 40 hari, sementara memutari Tanjung Harapan di ujung selatan Afrika membutuhkan sekitar 50 hari. Dikutip dari Al Jazeera, Sea Legend selama ini dikenal melayani perdagangan ke Afrika Utara dan Turki.
Baca juga: Maersk dan Hapag-Lloyd Kembalikan Layanan AE19 ke Terusan Suez
Es Arktik Menyusut, Jalur Terbuka Lebih Lama
Terbukanya rute ini tidak lepas dari pemanasan global. Penelitian Universitas Southampton, Inggris, yang terbit pada Juli 2026 mencatat luas es laut Arktik pada puncak musim dingin, Februari hingga Maret, menyusut 5,8 persen antara 2024 dan 2025. Angka itu disebut sebagai penurunan terbesar yang pernah tercatat.
Meski begitu, jalur tersebut belum bisa dipakai sepanjang tahun karena hanya dapat dilalui pada bulan-bulan yang lebih hangat. Guru besar madya Kebijakan Publik dan Urusan Global di Nanyang Technological University Singapura, Dylan Loh, mengingatkan keterbatasan itu membuat perhitungan bisnisnya tidak sesederhana membandingkan jumlah hari. “Rute ini bergantung pada kapan esnya mencair, dan hal itu menambah ketidakpastian,” katanya. Menurut Loh, Jalur Sutra Es lebih tepat dibaca sebagai langkah berjaga-jaga, bukan peralihan penuh dari jalur lama.
Baca juga: 53 Mahasiswa Menguji Rute Sepeda Cagar Budaya Yogyakarta
Kendali Rusia atas Rute Laut Utara
Persoalan berikutnya bersifat politis. Izin melintas di Rute Laut Utara dikeluarkan badan administrasi yang dikendalikan negara Rusia, sehingga tidak semua negara leluasa memakainya. Analis Senior untuk Asia Timur Laut di International Crisis Group, William Yang, menilai kondisi itu membuat pemanfaatan rute tersebut sangat terbatas. “Karena Rusia mengendalikan pelayaran melalui Rute Laut Utara, sejauh ini China adalah satu-satunya negara yang secara realistis dapat memakai jalur itu,” ujarnya.
Yang menambahkan, hampir seluruh kapal yang selama ini memakai Rute Laut Utara untuk pengangkutan barang merupakan armada bayangan Rusia yang menghadapi sanksi internasional berat, sehingga berlayar di sana memunculkan risiko politik bagi negara lain. Data yang dihimpun Allianz Commercial menunjukkan jumlah kapal peti kemas yang melintasi rute itu memang masih kecil, yakni 23 kapal pada tahun lalu dan 15 kapal pada 2024.
Baca juga: Menhan Jepang Ziarah ke Kuil Yasukuni, China dan Korsel Protes
Arena Baru Persaingan Kekuatan Besar
Minat Beijing di kawasan kutub sendiri bukan hal baru. Guru besar tamu pada Departemen Politik dan Administrasi Publik Universitas Hong Kong, Alejandro Reyes, mengingatkan posisi China di sana sudah lama dibangun. “China telah menjadi pengamat di Dewan Arktik sejak 2013, jadi minatnya terhadap kawasan ini sudah berlangsung lama,” kata Reyes. Ia menilai pelayaran reguler memberi kehadiran itu dimensi ekonomi yang lebih nyata.
Kendati demikian, Reyes tidak melihat jalur baru ini akan langsung menjungkirbalikkan peta perdagangan dunia. “Ini hanya menjadi rute lain yang menghubungkan Asia dan Eropa, sekaligus arena lain dalam persaingan antara China–Rusia dengan Amerika Serikat beserta sekutu dan mitranya,” ujarnya.
















